Teori Perilaku Produsen

BAB VI
Teori Perilaku Produsen


A. Deskripsi Modul

Seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan: berapa output yang harus diproduksikan, berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan. Untuk menyederhanakan pembahasan secara teoritis, dalam menentukan keputusan tersebut digunakan dua asumsi dasar:

1)    bahwa produsen atau pengusaha selalu berusaha mencapai keuntungan yang maksimum, dan

2)    bahwa  produsen  atau  pengusaha  beroperasi  dalam  pasar  persaingan

sempurna.

Untuk itu diperlukan pemahaman terhadap perilaku produsen dalam mengalokasikan faktor-faktor produksinya.

B. Kegiatan Belajar

B.1. Kegiatan 1: Fungsi Produksi

B.1.1. Tujuan Kegiatan

Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan dapat:

·        Memahami konsep fungsi produksi

·        Mampu menghitung produk total, produk rata-rata, dan produk marginal

·        Mampu memahami konsep The Law of Diminishing Returns.

·        Mampu memahami konsep Elastisitas Produksi dan daerah-daerah produksi yang rasional.

B.1.2. Uraian Materi Belajar 1

Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:

Y = f (X1,  X2,  X3, ……….., Xn)  ;  dimana Y = tingkat produksi (output) yang

dihasilkan   dan   X1,  X2, X3, ……, Xn  adalah berbagai faktor produksi (input) yang
 digunakan. Fungsi ini masih bersifat umum, hanya bisa menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bisa memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor-faktor produksi tersebut. Untuk dapat memberikan penjelasan kuantitatif, fungsi produksi tersebut harus dinyatakan dalam bentuknya yang spesifik, seperti

misalnya:

a) Y = a + bX
( fungsi linier)
b) Y = a + bX – cX2
( fungsi kuadratis)
c) Y = aX1bX2cX3d
( fungsi Cobb-Douglas), dan lain-lain.

Dalam teori ekonomi, sifat fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut : The Law of Diminishing Returns (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.

Di  bawah  ini  diberikan  satu  misal  dengan  angka-angka  hipotetis  untuk

menunjukkan
sifat fungsi produksi seperti yang
dinyatakan
dalam The Law of
Diminishing Returns  (Tabel 5.1).







Tabel 5.1.




Hubungan antara faktor produksi dan produk dengan bentuk

kombinasi increasing returns dan decreasing returns
Faktor
Tanbahan
Produk (Y )

Produk

Produk rata-
Produksi (X)
Faktor Produksi
(satuan)

Marginal

Rata
(satuan)
(satuan)


(satuan)

(satuan)
1

20



20

1


30


2

50



25

1


40


3

90



30

1


50


4

140



35

1


40


5

180



36

1


30


6

210



35

1


22


7

232



33

1


8


8

240



30

1


-2


9

238



26

1


-4


10

234



23





Dari Tabel 5.1 terlihat, bahwa setiap penambahan faktor produksi satu satuan, mula-mula terdapat tambahan produk (kenaikan hasil) bertambah ( 30, 40 dan 50 satuan), kemudian diikuti oleh tambahan produk (kenaikan hasil) berkurang (50, 40,30,22,8, -2 dan –4). Jika hubungan antara produk total (PT), produk marginal (PM) dan produk rata-rata (PR) pada tabel diatas digambarkan dalam grafik, maka diperoleh grafik seperti Gb.5.1 berikut.




Y
250
M

KPT: Y = f (X)
200
C


150

B
100


50



0       1       2       3       4       5      6       7       8        9       10                  X


Y/X;   Y/   X




B’
C’


KPR (Kurve Produk Rata-Rata)

0                                                                                KPM ( Kurve Produk Marginal)

Gb. 5.1  Hubungan antara KPT, KPM, dan KPR



Hubungan produk dan faktor produksi yang digambarkan di atas mempunyai lima sifat yang perlu diperhatikan, yaitu :

(1)   Mula-mula terdapat kenaikan hasil bertambah ( garis OB), di mana produk marginal semakin besar; produk rata-rata naik tetapi di bawah produk marginal.
(2)   Pada titik balik (inflection point) B terjadi perubahan dari kenaikan hasil bertambah menjadi kenaikan hasil berkurang, di mana produk marginal mencapai maksimum( titik B‟); produk rata-rata masih terus naik.

(3)   Setelah titik B, terdapat kenaikan hasil berkurang (garis BM), di mana produk marginal menurun; produk rata-rata masih naik sebentar kemudian mencapai maksimum pada titik C , di mana pada titik ini produk rata-rata sama dengan produk marginal. Setelah titik C‟ produk rata-rata menurun tetapi berada di atas produk marginal.

(4)   Pada titik M tercapai tingkat produksi maksimum, di mana produk marginal sama dengan nol; produk rata-rata menurun tetapi tetap positif.

(5)   Sesudah titik M, mengalami kenaikan hasil negatif, di mana produk marginal juga negatif ; produk rata-rata tetap positif.

Dari sifat-sifat tersebut dapat disimpulkan bahwa tahapan produksi seperti yang dinyatakan dalam The Law of Diminishing Returns dapat dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu :

(1)  produksi total dengan increasing returns,

(2)  produksi total dengan decreasing returns, dan

(3)  produksi total yang semakin menurun

Disamping  analisis  tabulasi  dan  analisis  grafis  mengenai  hubungan  antara

produk  total,  produk  rata-rata,  dan  produk  marginal dari suatu  proses produksi

seperti diatas, dapat pula digunakan analisis matematis. Sebagai contoh, misalnya

dipunyai fungsi produksi :     Y = 12 X2  – 0,2 X3, dimana Y = produk dan X = faktor

produksi.

Pertanyaan :

1)    Bagaimana bentuk fungsi produk marginal dan fungsi produk rata-ratanya?

2)    Kapan fungsi PM dan fungsi PR tersebut mencapai maksimum?

3)    Buktikan bahwa kurve produk marginal akan memotong kurve produk rata-rata pada saat kurve produk rata-rata mencapai maksimum.

1)    Fungsi produk marginal : PM =  Y/ X = 24 X – 0,6 X2.

Fungsi produk rata-rata : PR = Y/X = 12 X – 0,2 X2.

2)    Suatu fungsi akan mencapai maksimum apabila turunan pertama dari fungsi yang bersangkutan sama dengan nol, sedang turunan kedua adala negatif. Jadi, produk marginal (PM) akan mencapai maksimum, apabila (PM)/ X = 0 dan
( PM)/   X2 = negatif.   (PM)/   X = 24 – 1,2 X = 0;    X = 20.  Jadi, pada saat X =

20, PM mencapai maksimum. PR akan mencapai maksimum apabila    (PR)/    X

=  0 dan ( PR)/ X2 = negatif. (PR)/ X = 12 – 0,2 X = 0 . X = 30. Jadi, pada saat X = 30, PR akan mencapai maksimum.
3)  PR maksimum =  12 (30)–0,2 (302) = 180.                Pada penggunaan X = 30 , PM

=  24 (30) – 0,6 (302) = 720-540 = 180. Jadi, pada saat penggunaan X = 30, PM

=  PR = 180. Dengan demikian, terbukti bahwa fungsi PM memotong fungsi PR pada saat PR mencapai maksimum.


Elastisitas Produksi dan Daerah-Daerah produksi

Elastisitas produksi adalah rasio perubahan relatif jumlah output yang dihasilkan dengan perubahan relatif jumlah input yang dipergunakan. Atau dapat ditulis :
 






Misalnya, perubahan output yang dihasilkan akibat perubahan jumlah input sebesar 10% adalah 20%, maka elastisitas produksinya adalah 2 (dua).

Elastisitas produksi juga dapat ditulis secara matematis sebagai berikut:
     (definisi) =
 



Dari persamaan matematis tersebut, nampak adanya hubungan antara elastisitas produksi dengan produk marginal dan produk rata-rata,sebagai berikut:

1)    Jika tingkat produksi di mana PM > PR maka EP> 1

2)    Jika tingkat produksi di mana PM = PR maka EP = 1

3)    Jika tingkat produksi di mana PM = 0 maka EP = 0

4)    Jika tingkat produksi di mana PM negatif maka EP juga negatif.

Berdasarkan nilai elastisitas produksi ini, proses produksi dapat dibagi ke dalam tiga daerah produksi, yaitu :
(a)     Daerah dengan EP> 1 sampai EP = 1. Daerah ini dinamakan daerah tidak rasional (irrational stage of production) dan ditandai sebagai Daerah I dari produksi. Pada daerah ini belum akan tercapai keuntungan maksimum, sehingga keuntungan masih dapat diperbesar dengan penambahan input.


(b)   Daerah dengan EP = 1 sampai EP = 0. Daerah ini dinamakan daerah rasional ( rational stage of production) dan ditandai sebagai Daerah II dari produksi. Pada daerah ini akan dicapai keuntungan maksimum.

(c)     Daerah dengan EP = 0 sampai EP< 0. Daerah ini juga dinamakan daerah tidak rasional dan ditandai sebagai Daerah III . Pada daerah ini penambahan input justru akan mengurangi keuntungan.

Daerah-daerah produksi tersebut dapat ditunjukkan  secara grafis seperti dalam Gb.

5.2 berikut.




Y

I = Daerah Produksi I

II = Daerah Produksi II III = Daerah Produksi III




M







C







I
II

III  KPT



B








E >1


E < 1

0









E=1
E=0

X

PR = Y/X






PM = dY/dX








I
II

III



B’









C’










KPR



E > 1


E < 1


0


E=1
E=0
X


KPM

Gb. 5.2. Elastisitas Produksi dan Daerah-Daerah produksi



B.1.3. Tugas Belajar

Secara individu mahasiswa diminta untuk :

1.    Membuat sebuah contoh hipotetis hubungan antara faktor produksi dan produk dengan bentuk kombinasi increasing returns dan decreasing returns 
2.    Membuat kurva hubungan fungsi produksi, produk rata-rata, dan produk marginal.


B.2. Kegiatan 2: Fungsi Produksi Dengan Satu Faktor Produksi B.2.1. Tujuan Kegiatan

Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan dapat:

·        Memahami konsep produksi dengan satu faktor produksi.

·        Mampu memahami konsep efisiensi dan produksi optimum dengan satu faktor produksi.

·        Memahami syarat kecukupan dan syarat keharusan pada fungsi produksi yang optimum

B.2.2. Uraian Materi Belajar 2

Fungsi produksi dengan satu faktor produksi adalah hubungan antara tingkat produksi dengan satu macam faktor produksi yang digunakan , sedangkan faktor-faktor produksi yang lain dianggap penggunaannya tetap pada tingkat tertentu (ceteris paribus). Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan :

Y = f (X1/X2, X3, ….., Xn)

Fungsi ini dibaca : produk Y adalah fungsi dari faktor produksi X1, jika faktor-faktor produksi X2, X3, ……, Xn ditetapkan penggunaannya pada suatu tingkat tertentu.

Jadi, satu-satunya faktor produksi yang dapat diubah jumlah penggunaannya adalah faktor produksi X1.

Di dalam mempelajari fungsi produksi terdapat tiga ukuran penting yang perlu diperhatikan, yaitu (1) Produk Total (PT), (2) Produk Rata-Rata (PR), dan (3) Produk Marjinal (PM). Produk Total adalah tingkat produksi total ( = Y , dalam fungsi produksi diatas). Produk Rata-Rata adalah hasil rata-rata per unit input variabel ( = Y/X). Produk Marjinal adalah tambahan output yang dihasilkan dari tambahan satu unit input variabel ( Y/ X atau Y/ X). Untuk menganalisis fungsi produksi tersebut perlu dipahami kurve-kurve yang berkaitan dengan ketiga ukuran di atas, yaitu ( lihat Gb. 5.1 ):

(1)  Kurve Produk Total (KPT) atau Total Physical Product Curve (TPP) yaitu kurva yang menunjukkan tingkat produksi total (=Y) pada berbagai tingkat penggunaan input variabel.

(2)  Kurve Produk Rata-Rata (KPR) atau Average Physical Product Curve (APP), yaitu kurve yang menunjukkan hasil rata-rata per unit input variabel pada berbagai tingkat penggunaan input tersebut.

(3)  Kurve Produk Marginal (KPM) atau Marginal Physical Product Curve (MPP), yaitu kurve yang menunjukkan tambahan output (Y) yang disebabkan oleh penggunaan tambahan satu unit input variabel.

Efisiensi dan Produksi Optimum

Konsep efisiensi dapat dipandang dari dua aspek, yaitu dari aspek teknis dan dari aspek ekonomis. Konsep efisiensi dari aspek teknis dinamakan konsepefisiensi teknis. Efisiensi teknis maksimum dicapai pada saat dicapai produk rata-rata maksimum. Tingkat pemakaian faktor produksi yang menghasilkan produk rata-rata maksimum, secara teknis dipandang sebagai tingkat produksi optimum. Untuk menentukan tingkat efisiensi dan produksi optimum secara teknis ini cukup dengan diketahuinya fungsi produksi.

Konsep efisiensi dari aspek ekonomis dinamakan konsep efisiensi ekonomis atau efisiensi harga. Dalam teori ekonomi produksi, pada umumnya menggunakan konsep ini. Dipandang dari konsep efisiensi ekonomis, pemakaian faktor produksi dikatakan efisien apabila ia dapat menghasilkan keuntungan maksimum. Untuk menentukan tingkat produksi optimum menurut konsep efisiensi ekonomis, tidak cukup hanya dengan mengetahui fungsi produksi. Ada syarat lagi yang harus diketahui, yaitu rasio harga harga input-output. Secara matematis,

syarat   tersebut    adalah    sebagai    berikut.         Keuntungan    (p)    dapat    ditulis     :

p  = PY.Y - Px.X, di mana Y = jumlah produk; PY = harga produk; X = faktor produksi; Px = harga faktor produksi. Agar supaya p mencapai maksimum maka turunan pertama fungsi tersebut harus sama dengan nol atau dapat ditulis sebagai berikut:

p


; atau


; atau NPM = Px atau PM =
















NPM adalah nilai produk marginal.
Ingat, dY/dX =  produk marginal.


Jadi jelaslah bahwa untuk menentukan tingkat produksi optimum menurut konsep efisiensi ekonomis diperlukan dua syarat , yaitu:

(1)   Syarat keharusan (necessary condition) : hubungan teknis antara produk dan faktor produksi atau fungsi produksi;

(2)   Syarat kecukupan (sufficiency condition) : nilai produk marginal dari faktor produksi yang dipakai harus sama dengan harga satuan faktor produksi itu 
Berikut ini diberikan contoh menentukan tingkat produksi optimum. Misalnya, diketahui fungsi produksi seperti yang tertera pada tabel 5.1. Harga satuan faktor produksi (Px) adalah Rp. 2000,- dan harga satuan produk (PY) adalah Rp. 100,-.

Pertanyaan :

1)    Berapa satuankah faktor produksi yang harus digunakan agar dicapai keuntungan maksimum?

2)    Berapa produksi optimumnya?

3)    Berapa tingkat keuntungan maksimumnya?

Jawaban:

1)   NPM yang terdekat dengan Px adalah Rp. 2.200,-, yaitu Rp.100,- x 22 (PM). Nilai ini diperoleh dari pemakaian faktor produksi antara 6 dan 7. Jadi, pemakaian faktor produksi yang memberikan keuntungan maksimum adalah antara 6 dan 7. Jika faktor produksi tidak dapat dipecah-pecah maka penggunaan faktor produksi dapat ditetapkan 7 satuan.

2)    Berdasarkan jawaban no. 1) diatas, produksi optimumnya adalah antara 210 dan 232 atau 232 jika digunakan faktor produksi 7 satuan.

3)    Keuntungan maksimumnya : ( Rp.100) (232) – (Rp.2000,-) (7) = Rp.9.200,-.

Selain melalui pendekatan tabel seperti di atas, untuk menentukan tingkat produksi optimum dapat pula melalui pendekatan grafis sebagai berikut. Dari tabel 5.1 dapat diperoleh tabel 5.2 sebagai dasar menentukan tingkat produksi optimal secara grafis.

Tabel 5.2. Tabel keuntungan

Input
Output
TR
TC =


(Rp.100,-
(X)(Rp.2000) +
Keuntungan

(X)
(Y)

)(Y)
(Rp.3000,-)






1
20
2.000
5.000
- 3.000

2
50
5.000
7.000
- 2.000

3
90
9.000
9.000
0,000

4
140
14.000
11.000
3.000

5
180
18.000
13.000
5.000

6
210
21.000
15.000
6.000

7
232
23.200
17.000
6.200

8
240
24.000
19.000
5.000

9
238
23.800
21.000
2.800

10
234
23.400
23.000
400

Keterangan : Rp. 3.000,- adalah biaya tetap (fixed cost)

Dari tabel 5.2 dapat diketahui bahwa keuntungan paling besar adalah Rp. 6.200,-, dengan total output 232, pada penggunaan input 7 satuan. Secara grafis perhitungan tersebut dapat digambarkan seperti pada Gb. 5.3. Kurve TVP ( Total Value Product) menunjukkan hubungan antara input X dan TR ( Total Revenue). Kurve TFC (Total Factor Cost) atau TIC (Total Input Cost) menunjukkan hubungan antara input X dengan TC ( Total Cost). Keuntungan maksimum dicapai jika jarak vertikal antara TVP dan TFC adalah terbesar. Posisi ini ditemukan pada tingkat penggunaan input di mana garis singgung dari TVP sejajar dengan TFC. Pada Gb. 5.3 terlihat bahwa keuntungan maksimum diperoleh pada penggunaan input 7 satuan.


000 Rp

24
TFC

TVP










5









2









0
1
2
3
4
5
6
7
8
X

Gb. 5.3. Analisis Keuntungan Secara Grafis

Apabila kita mempunyai fungsi yang kontinyu, kita dapat menentukan keuntungan maksimum secara matematis. Misalnya kita mempunyai fungsi produksi sebagai berikut:

Y = 400 X1/2

Jika harga satu satuan faktor produksi X atau PX adalah Rp. 2000,- dan harga satu satuan produk Y atau PY adalah Rp. 100,-, tentukan pada penggunaan X berapa akan dicapai keuntungan maksimum? Soal ini dapat dipecahkan sebagai berikut. Untuk mencapai keuntungan maksimum atau tingkat produksi optimum, nilai produk marjinal harus sama dengan harga satuan faktor produksi.

NPM =    PY = PX   ;    (100) (200 X-1/2) = 2000
 



= 2000  ;  2000 X1/2
= 20000;  X1/2
= 20 ;  X = 400







Jadi, untuk memperoleh keuntungan maksimum maka pengusaha harus menggunakan 400 satuan faktor produksi.


B.2.3. Tugas Belajar

Secara individu mahasiswa diminta untuk :

1.    Membuat sebuah contoh hipotetis hubungan antara produk dan satu faktor produksi dengan bentuk kombinasi increasing returns dan decreasing returns

2.    Menjelaskan bagaimana tingkat produksi optimum yang memaksimumkan keuntungan

B.3. Kegiatan 3: Fungsi Produksi Dengan Dua Faktor Produksi B.3.1. Tujuan Kegiatan

Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa diharapkan dapat:

·        Memahami konsep fungsi produksi dengan dua faktor produksi variabel

·        Memahami konsep isoquant, marginal rate of technical substitution,Isocost

·        Mamahami produksi output maksimum dengan dua faktor produksi

B.3.2. Uraian Materi Belajar 3

Dalam analisis ini dimisalkan hanya ada dua faktor produksi yang dapat diubah-ubah penggunaannya di dalam proses produksi. Dimisalkan pula bahwa kedua faktor produksi tersebut dapat saling menggantikan. Misalnya, faktor produksi X1 dapat menggantikan faktor produksi X2, demikian pula sebaliknya X2 dapat menggantikan X1. Masalah yang dihadapi produsen atau pengusaha dalam kasus ini adalah kombinasi mana dari penggunaan dua faktor produksi itu yangmemerlukan biaya tertendah untuk menghasilkan suatu jumlah produk tertentu ( least cost combination).

Untuk menjawab masalah tersebut perlu pemahaman beberapa konsep, (1) isoquant atau isoproduct atau kurve produksi sama; (2) daya substitusi marginalatau marginal rate of technical substitution (MRTS); dan (3) isocost atau price line atau garis harga.

Isoquant/Isoproduct/Kurve Produk sama

Isoquant adalah kurve yang menunjukkan berbagai kemungkinan kombinasi dua input variabel untuk menghasilkan tingkat output tertentu.


Contoh : Dalam tabel 5.3 disajikan contoh kemungkinan kombinasi penggunaan input X1 dan X2 untuk menghasilkan 100 unit output (Y) dan 150 unit output (Y).

Tabel 5.3.Kemungkinan kombinasi X1 dan X2 untuk menghasilkan 100 unit output dan 150 unit output.

100 unit output (Y =100)
150 unit output (Y = 150)
Kombinasi
X1
X2
X1
X2
1
10
44,0
10
75
2
20
27,0
20
42
3
30
17,0
30
30
4
40
12,0
40
24
5
50
8,6
50
20
6
60
7,2
60
18
7
70
6,0
70
17
8
80
6,0
80
18
9
90
7,0
90
20

Dari tabel di atas dapat digambarkan dua isoquant untuk dua output, yaitu untuk 100 unit dan 150 unit (lihat Gb. 5.4 ). Isoquant mempunyai sifat-sifat yang serupa dengan Indifference Curves. Cembung kearah origin, menurun dari kiri atas ke kanan bawah, kurve yang terletak lebih kanan atas menunjukkan tingkat output yang lebih tinggi.


80
-
X2


































70
-












60
-












50
-












40
-












30
-












20
-








Y = 150


10
-























Y = 100


0  -
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
X1



10
20
30
40
50
60
70
80
90
100



Gb. 5.4. Isoquant untuk output 100 dan 150 unit



Isoquant bisa juga didapatkan dari fungsi produksi. Misalnya kita mempunyai fungsi produksi Y = 2X1 + 4X2. Dari fungsi ini kita ingin mendapatkan isoquant untuk output (Y) = 100 unit. Fungsi tersebut menjadi : 100 = 2 X1 + 4 X2; kemudian diselesaikan untuk berbagai tingkat X1 dan X2 sebagai berikut:
2 X1 = 100 - 4 X2 ; X1 = 50 – 2 X2. Dari persamaan ini bisa diperoleh berbagai nilai X1 dan X2 seperti pada tabel berikut.


Y = 100
X1
X2
48
1
46
2
44
3
Dst
Dst

Data pada tabel tersebut dapat digambarkan ke dalam kurve isoquantnya. Dengan cara yang sama dapat dibuat isoquant untuk Y = 150 ; 200; dan seterusnya.

Daya Substitusi Marginal ( Marginal Rate of Technical Substitution)

Di atas telah dikemukakan bahwa kedua faktor produksi X1 dan X2 dianggap dapat saling menggantikan atau mensubstitusikan. Kemampuan mensubstitusi itu disebut daya substitusi marginal (marginal rate of technical substitution). Daya substitusi marginal dari X1 untuk X2 (MRTSX1X2) didefinisikan sebagai jumlah penggunaan X2 yang harus dikurangi apabila terdapat penambahan penggunaan satu unit X1 untuk menghasilkan sejumlah produk tertentu.

Berikut ini diberikan contoh mencari MRTSX1X2 dari data yang telah ditabulasi, dalam hal ini diambil dari tabel 5.3 ( lihat tabel 5.5).
Tabel 5.5. MRTSX1X2  dari tabel 5.3 untuk output 150

Kombi
X1
Tambahan X1
X2
Pengurangan
MRTSX1X2
nasi

(  X1)

X2 (-
X2)

1
10

75



2
20
10
42
- 33
- 3,3
3
30
10
30
- 12
- 1,2
4
40
10
24
-
6
- 0,6
5
50
10
20
-
4
- 0,4
6
60
10
18
-
2
- 0,2
7
70
10
17
-
1
- 0,1
8
80
10
18
+ 1
tidak ada
9
90
10
20
+ 2
tidak ada

MRTSX1X2 dapat dicari juga dari fungsi produksi . Misalnya dipunyai fungsi produksi Y= f (X1, X2) , maka kita dapat menemukan MRTSX1X2 sebagai berikut:
Y = f(X1, X2)



PMX1  X1 =  - PMX2   X2 ;
 




Jadi,  MRTSX1X2  =
 



Dapat dikatakan pula bahwa MRTS adalah slope (sudut kemiringan) dari isoquant.

Isocost/ Garis Harga

Untuk memaksimumkan keuntungan, perusahaan harus meminimumkan biaya produksi. Untuk analisis meminimumkan biaya produksi perlu dibuat garis

biaya sama atau garis harga atau isocost. Garis harga adalah garis yang menunjukkan berbagai kemungkinan kombinasi dua macam faktor produksi (misal : X1 dan X2) yang dapat diperoleh dari sejumlah modal tertentu ( misal : M). Untuk membuat garis harga ini diperlukan data (a) harga faktor-faktor produksi yang dipergunakan, dan (2) sejumlah modal yang tersedia untuk membeli faktor-faktor produksi yang dipergunakan.

Jika tersedia modal sebanyak M dan harga X1 adalah P1 dan harga X2 adalah P2 maka persamaan garis harga dapat dicari sebagai berikut: M = P1X1 + P2X2 ;
P 2X2  = M – P1 X1;  X2   =                            -----> persamaan garis harga
 


Persamaan garis harga tersebut dapat digambarkan sebagai berikut ( Gb. 5.5).

X2

R
β



 Garis harga (isocost)  : X2 = M/P2 – (P1/P2) X1

tg α =  -P1/P2
tg β = - P2/ P1

α

0
Q
X1
Gb. 5.5
Garis Harga


Kombinasi Dua Input Dengan Biaya Terendah (Least Cost Combination)




Persoalan least cost combination adalah menentukan kombinasi input mana yang memerlukan biaya terendah apabila jumlah produksi yang ingin dihasilkan telah ditentukan. Dalam hal ini pengusaha masih dapat menghemat biaya untuk menghasilkan produk tertentu selama nilai input yang digantikan atau disubstitusi masih lebih besar dari nilai input yang menggantikan atau yang mensubstitusi. Jadi,

selama    X2.P2>    X1.P1 maka penggantian       X2  oleh        X1 masih menguntungkan.

Biaya sudah mencapai minimum apabila          X2  . P2  =       X1.P1    atau           X2/    X1 =

P1/P2 atau  MRTSX1X2  = P1/P2.

Dengan demikian untuk menentukan kombinasi dua input dengan biaya terendah diperlukan dua syarat :

(1)   isoquant untuk tingkat output yang dikehendaki dan daya substitusi marginal antara kedua input harus diketahui (syarat keharusan), dan

(2)   daya substitusi marginal dari X1  untuk X2  ( MRTSX1X2) harus sama dengan

rasio harga X1 dan harga X2 (syarat kecukupan) atau MRTSX1X2 = P1/P2 atau PMX1/PMX2 = P1/P2 atau PMX1/P1 = PMX2/P2.
Jika diambil contoh kasus pada tabel 5.5 dan jika harga X1 = Rp.200,- dan harga X2 =Rp. 1.000,- per unit maka least cost combination adalah pada penggunaan X1

antara  50  dan  60  dan  X2
antara
20  dan  18  unit.   Pada  kombinasi  ini   P1/P2

(Rp.200/Rp.1000)   =
X2/  X1 (0,2).  Pada kondisi demikian perusahaan akan

menghasilkan keuntungan maksimum.

Dalil  least  cost  combination  ini  ternyata  berhubungan  erat  dengan  dalil

produksi optimum( dalil keuntungan).  Hubungannya adalah sebagai berikut :

Least cost combination :



.
Bila sisi kiri persamaan ini dikalikan dengan








persamaan tersebut tidak mengalami perubahan nilai.

atau                                   atau







Persamaan ini merupakan persamaan dalil least cost combination. Seperti telah dijelaskan di muka bahwa dalil produksi optimum atau dikenal dengan dalil keuntungan adalah :










Dengan demikian dalil least cost combination merupakan sisi kiri dari persamaan dalil keuntungan.

Persoalan least cost combination dapat pula diselesaikan dengan menggunakan grafik. Kombinasi input dengan biaya terendah ini secara grafis dapat digambarkan sebagai berikut ( Gb.5.6).

X2





















R















X2
/
X 1
= P1/P2
= titik singgung antara  isocost dan isoquant



X2

X2

X2
X2



P




= least cost combination















X1




P1/P2













0

Q




X1

Gb. 5.6. Grafik Least Cost Combination


Titik singgung P antara isocost dan isoquant merupakan titik kombinasi optimum, karena pada titik itu terpenuhi syarat kecukupan, yaitu dimana daya substitusi marginal dari X1 untuk X2 sama dengan perbandingan harga-harga X1 dan X2.

Apabila diketahui fungsi produksinya, persoalan least cost combination dapat diselesaikan secara matematis. Misalkan diketahui fungsi produksi sebagai berikut:

Y  = X12 X23

Dan harga satuan X1 = Rp. 5000,- dan harga satuan X2 = Rp. 3000,-. Tentukan kombinasi optimum untuk mencapai produk sebesar 100 satuan!

Jawaban: Persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan memakai pertolongan “ La Grange Multiplier”, sehingga bentuk fungsi tujuan (objective functions) menjadi sebagai berikut:

Min E = P1X1 + P2 X2  - l (X12 X23 – 100)

Min E = 5000 X1 + 3000 X2 - l (X12 X23 – 100)

Fungsi tujuan diatas dibaca : Minimumkan pengeluaran E untuk pemakaian faktor-faktor produksi X1 dan X2 , dengan syarat tercapainya produk sebesar 100 satuan menurut fungsi produksi yang telah ditentukan. Agar fungsi E minimum maka derivatif pertama dari fungsi tersebut terhadap X1, X2, dan l harus sama dengan nol

sedang derivatif kedua harus positif.
l adalah koefisien La Grange Multiplier.






= 5000
– 2
l X1 X23 = 0
(1)











= 3000
– 3
l X12 X22 = 0
(2)









= X12 X23 – 100 = 0



(3)



l



















Dari (1)
: 2
l X1 X23 = 5000;
l =










Dari (2)
: 3
l X12 X22 = 3000;
l =











=             ; 15000 X12 X22 = 6000 X1 X23
 


5 X1 = 2 X2  ; X1 = 0,4 X2
; X2 = 2,5 X1


Dari
(3) : X12 X23 = 100;
X12 (2,5 X1)3 = 100 ; 15,625 X15 = 100;

X15 =


= 6,4 ;  X1 = 5Ö 6,4 = 1,45;
X2 =  2,5 X1 = (2,5) (1,45) = 3,625





Jadi, dengan kombinasi X1 = 1,45 dan X2 = 3,625 , biaya produksi dapat diminimumkan, untuk memproduksi 100 satuan produk. Biaya produksi tersebut adalah : 5000 (1,45) + 3000 (3,625) = Rp. 18.125,00.


B.3.3. Tugas Belajar

Secara individu mahasiswa diminta untuk :

1.    Membuat sebuah contoh hipotetis hubungan antara produk dan dua faktor produksi

2.    Menjelaskan bagaimana tingkat produksi optimum yang memaksimumkan keuntungan .




C. Daftar Pustaka

Boediono. 1982. Ekonomi Mikro. Seri Sinopsis PIE No. 1, BPFE, Yogyakarta

Nicholson, Walter. 1999. Teori Mikroekonomi. Alih bahasa: Daniel Wirajaya, Edisi ke-5, Binarupa Aksara, Jakarta.

Mankiw, Gregory, N. 2006, Principles of Economics. Edisi 3, Salemba Empat, Jakarta

Sukirno, Sadono. 2001. Pengantar Teori Mikroekonomi. Cetakan ke-15, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.


D. Rancangan Tugas

D.1. Tujuan Tugas

1.    Meningkatkan pengetahuan perilaku produsen melalui pendekatan kurva TPP (Total Physical Product), isoquant, dan Isocost.

2.    Meningkatkan pemahaman terhadap konsep kurva marginal rate of technicalsubstitution.

3.    Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menganalisis produksi output maksimum baik menggunakan satu faktor produksi (jangka pendek) dan dua faktor produksi (jangka panjang).

D.2. Uraian Tugas

1.    Kegiatan pertama pembelajaran,

a.    Ikutlah kegiatan Forum diskusi yang dibuka oleh pengampu matakuliah pada topik elastisitas permintaan dan penawaran.

b.    Mengunggah (upload) setiap tugas pembelajaran masing-masing topik pada sistem elearning.

c.    Kerjakan semua latihan dan quiz yang tersedia di dalam sistem elearning secara seksama.

2.    Kegiatan kedua, buatlah paper (kertas kerja) singkat secara individu untuk mengerjakan tugas belajar modul 4 dengan ketentuan,

a.    Ditulis tangan (disyaratkan tulisan yang rapi) pada kertas folio bergaris.

b.    Paper dimasukkan pada snelhecter yang telah dikumpulkan.

c.    Contoh yang disajikan merupakan aktivitas ekonomi riil.

d.    Jika ditampilkan data, diperkenankan menggunakan data hipotetis untuk memperjelas deskripsi.
e.    Diperkenankan menggunakan ilustrasi gambar (dapat ditempelkan ke paper) untuk menjelaskan ilustrasi/deskripsi materi

f.     Batas akhir tugas ditentukan pada pengumuman di sistem elearning


g.    Tes individu dari materi modul 4 dikerjakan secara online

Komentar

Postingan Populer