Teori Perilaku Konsumen
BAB V
Teori
Perilaku Konsumen
A. Deskripsi Modul
Teori perilaku konsumen pada dasarnya
mempelajari mengapa para konsumen berperilaku seperti yang tercantum dalam
hukum permintaan. Oleh karena itu teori perilaku konsumen akan menerangkan :
(1) mengapa para konsumen akan membeli lebih banyak barang pada harga yang
rendah dan mengurangi pembeliannya pada harga yang tinggi, dan (2) bagaimanakah
seorang konsumen menentukan jumlah dan kombinasi barang yang akan dibeli dari
pendapatannya.
Terdapat
dua pendekatan dalam teori perilaku konsumen , yaitu :
a)
Pendekatan utiliti (nilaiguna) kardinal atau Marginal
Utility : bertitik tolak pada anggapan bahwa kepuasan (utiliti) setiap
konsumen dapat diukur dengan uang atau dengan satuan lain ( utiliti yang
bersifat kardinal) seperti kita mengukur volume air, panjang jalan, atau berat
sekarung beras.
b)
Pendekatan utiliti ordinal atau kurve kepuasan
sama (Indifference Curve) : bertitik tolak pada anggapan bahwa tingkat
kepuasan konsumen dapat dikatakan lebih tinggi atau lebih rendah tanpa
mengatakan berapa lebih tinggi atau lebih rendah ( utiliti yang bersifat
ordinal).
B. Kegiatan Belajar
B.1. Tujuan Kegiatan
Dalam kegiatan belajar ini mahasiswa diharapkan:
·
Memahami konsep dan mampu membedakan pendekatan
marginal Utility dan pendekatan kurva Indifference.
·
Memahami konsep pendekatan Tingkat Substitusi
Marginal (MarginalRate of Substitution)
·
Memahami konsep Budget line
·
Memahami konsep maksimisasi kepuasan konsumen.
·
Memahami konsep Efek Substitusi dan Efek
Pendapatan
B.2. Uraian Materi Belajar
Pendekatan Marginal Utility
Utiliti atau nilai guna adalah kepuasan yang
diperoleh seseorang dari mengkonsumsi barang-barang. Untuk menjelaskan perilaku
konsumen dalam memenuhi kepuasannya digunakan anggapan :
a) Utiliti
dapat diukur dengan uang atau satuan lain.
b)
Berlaku hukum Gossen (Law of Diminishing
Marginal Utility), yaitu : semakin banyak sesuatu barang dikonsumsikan,
maka tambahan kepuasan (marginalutility) yang diperoleh dari setiap
tambahan yang dikonsumsikan akan menurun.
c) Konsumen
selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.
Atas dasar anggapan ini, selanjutnya kita harus
memperhatikan perbedaan antara total utility dan marginal utility.
Total utility adalah jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari
mengkonsumsikan sejumlah barang tertentu. Sedangkan marginal utility adalah pertambahan
(atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dari pertambahan (atau
pengurangan) dari konsumsi satu unit barang tertentu. Untuk lebih jelasnya,
dapat disimak tabel 4.1 dan kurva pada Gb.4.1.a dan 4.1.b.
Tabel 4.1. Total Utility dan Marginal Utility
dari Komsumsi Buah Mangga.
|
Mangga yang dimakan ( X)
|
Total Utility
|
Maginal Utility
|
|
0
|
0
|
-
|
|
1
|
30
|
30
|
|
2
|
50
|
20
|
|
3
|
65
|
15
|
|
4
|
75
|
10
|
|
5
|
83
|
8
|
|
6
|
87
|
4
|
|
7
|
89
|
2
|
|
8
|
90
|
1
|
|
9
|
89
|
-1
|
|
10
|
85
|
-4
|
|
11
|
78
|
-7
|
|
|
|
|
|
Total Utility
|
|
|
|
|
|
Marginal
Utility
|
|
|
|||
|
80
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
60
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
30
|
|
|
|
|
|
40
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
20
|
|
|
|
|
|
20
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
0
|
2
|
4
|
6
|
8
|
10
|
X
|
0
|
246 8
10
|
X
|
|
|
|
Gb. 4.1a.
Kurva Total Utility
|
|
|
|
|
Gb.4.1.b.
Kurva Marginal Utility
|
|
|
||||
Dari tabel dan kurve tersebut nampak bahwa pada mulanya total utility
menaik dengan bertambahnya jumlah mangga yang dimakan, namun setelah sejumlah
konsumsi tertentu ( dalam hal ini setelah konsumsi mangga ke-8) total utility
tersebut menurun. Bagaimana dengan marginal utilitynya? Marginal utility nampak
terus menurun setiap terjadi tambahan konsumsi satu buah mangga dan setelah
konsumsi mangga ke-8 marginal utility menjadi negatif. Hal ini mencerminkan
adanya hukum marginal utility yang semakin menurun (the law of
diminishingmarginal utility). Dengan demikian, secara umum dapat diartikan
bahwa semakinbanyak barang tertentu dikonsumsi, semakin kecil marginal
utility yang diperoleh dari barang yang terakhir dikonsumsikan.
Memaksimumkan
Utiliti/Nilaiguna/Kepuasan
Untuk kasus konsumsi satu jenis barang, tidak
sukar untuk menentukan pada tingkat konsumsi berapa utiliti maksimum akan
dicapai, yaitu pada waktu total utiliti mencapai maksimum. Dalam kasus seperti
pada Tabel 4.1 atau Gb.4.1, utiliti maksimum dicapai pada waktu mengkonsumsi
mangga ke-8.
Jika tabel atau kurva total utiliti diatas
dirumuskan dalam bentuk matematis, maka dapat ditulis : U = f(qx), dimana
U = total utiliti yang diukur dengan unit uang dan qx = jumlah barang X yang dibeli. Sehingga jika
konsumen membeli qx maka
pengeluarannya adalah Pxqx. Dengan demikian konsumen akan berusaha
memaksimumkan perbedaan antara utiliti dan pengeluarannya ( U-Pxqx). Syarat
keharusan untuk memaksimumkan utiliti adalah derivatif parsial dari
fungsi utiliti terhadap q sama dengan nol. Jadi :
|
= 0 atau MUx – Px = 0 atau MUx = Px atau
|
|
= 1
|
|
|
|
|
Ini berarti bahwa jika MUX> PX maka seseorang dapat meningkatkan utilitinya
dengan mengkonsumsi barang X yang lebih banyak. Sebaliknya jika MUX< PX maka
untuk meningkatkan utilitinya dia harus mengurangi konsumsi barang X tersebut. Perhatikan
bahwa karena MUx= Px, maka kurve Marginal
Utiliti tidak lainadalah kurve permintaan konsumen, yang
menunjukkan tingkat pembelian barangpada berbagai tingkat harga.
Untuk kasus konsumsi beberapa jenis barang,
dimana harga masing-masing barang tersebut berbeda, maka untuk memperoleh
utiliti maksimum diperlukan syarat :
= = .......=
Persamaan ini juga disebut sebagai syarat
keseimbangan/ekuilibrium konsumen.
Syarat ini bisa dicapai dengan anggapan bahwa konsumen mempunyai uang
(penghasilan atau “budget”) yang cukup untuk dibelanjakan setiap barang
sampai marginal utiliti setiap barang sama dengan harga masing-masing
barang.
Pendekatan Kurve Kepuasan Sama ( Indifference
Curve)
Pendekatan marginal utility, dinilai mempunyai
kelemahan, karena menganggap nilai utiliti/kepuasan dapat diukur dengan
angka-angka. Kepuasan adalah sesuatu yang tidak mudah diukur sehingga tidak
mungkin diukur dengan angka. Untuk menghindari kelemahan itu Sir John R. Hicks
mengembangkan pendekatan baru, yang dikenal dengan pendekatan kurve kepuasan
sama (Indifference Curve).
Dalam pendekatan ini digunakan anggapan:
(a)
konsumen mempunyai pola preferensi terhadap
barang-barang konsumsi (misalnya barang X dan Y) yang bisa dinyatakan dalam
bentuk peta kurve kepuasan sama ( Indifference Curve Map) atau kumpulan
dari kurve kepuasan sama;
(b) konsumen
mempunyai jumlah uang tertentu (= pendapatan tertentu) ; dan
(c) konsumen
selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum.
Menurut Koutsoyiannis (1985:17), asumsi untuk
teori indifference-curves adalah :
1). Rasionalitas . Konsumen diasumsikan rasional
: ia berusaha memaksimumkan utilitinya, berdasarkan pendapatannya dan harga
pasar tertentu. Ia juga diasumsikan mempunyai pengetahuan yang cukup tentang
semua informasi yang relevan.
2). Utiliti adalah ordinal. Konsumen dianggap
dapat menyusun secara urut (rank) pilihan-pilihannya terhadap berbagai
kelompok barang (basket’s of goods) berdasarkan tingkat kepuasan setiap
kelompok.
3). Tingkat substitusi marginal yang menurun ( diminishing marginal
rate ofsubstitution). Pilihan-pilihan (preferences) disusun dalam
bentuk kurve
|
indiferen,
yang diasumsikan
|
cembung
|
(convex)
|
pada titik
origin. Hal ini
|
|
menunjukkan
bahwa slope kurve indiferen adalah menaik. Slope kurve indiferen
|
|||
|
ini
disebut tingkat substitusi marginal dari suatu komoditi. Teori kurve
indiferen
|
|||
|
didasarkan pada aksioma ini.
|
|
|
|
|
4). Total utiliti
tergantung pada
|
kuantitas
|
komoditi
|
yang dikonsumsi.
Secara
|
matematis ditulis: U =f(q1 ,q2 ,q3, ……, qn).
5). Konsintensi dan transitivitas dalam
pilihan.Konsumen diasumsikan dalam pilihannya, yaitu, jika pada suatu waktu ia
memilih kelompok barang A dari pada kelompok B, ia tidak akan memilih kelompok
barang B dari pada kelompok A pada saat yang lain. Asumsi konsistensi dapat
ditulis dengan simbol: Jika A>B, maka B > A. Sifat transitivitas : jika A
lebih disukai dari pada B, dan B lebih disukai dari pada C, maka A lebih
disuaki dari pada C. Asumsi ini dapat ditulis dengan simbol: Jika A>B, dan
B>C, maka A>C.
Kurve Kepuasan Sama
Kurve kepuasan sama adalah tempat kedudukan
titik-titik kombinasi duajenis barang yang dikonsumsi yang memberikan tingkat
kepuasan yang sama kepada konsumen. Oleh karena itu untuk menggambarkan
kurve kepuasan sama perlu dianggap bahwa seorang konsumen hanya mengkonsumsi
dua jenis barang. Sebagai contoh, seorang konsumen dalam rangka memaksimumkan
kepuasannya, membeli atau mengkonsumsi bahan makanan dan pakaian, dengan
berbagai kombinasi seperti pada tabel 4.2 berikut.
47
Tabel 4.2. Daftar kombinasi makanan dan pakaian yang memberikan tingkat
kepuasan yang sama.
|
Kombinasi
|
Jumlah barang
|
Tingkat
substitusi
|
|
|
|
Makanan (Y)
|
Pakaian (X)
|
marginal
|
|
A
|
10
|
2
|
|
|
B
|
7
|
3
|
3/1 =
3
|
|
C
|
5
|
4
|
2/1 =
2
|
|
D
|
4
|
5
|
1/1 =
1
|
|
E
|
2,8
|
7
|
1,2/2
= 0,6
|
|
F
|
2
|
10
|
0,8/3
= 0,27
|
Tabel 4.2. menunjukkan terdapat enam kombinasi antara makanan dan
pakaian yang memberikan tingkat kepuasan sama kepada komsumen. Artinya,
kombinasi 10 makanan dan 2 pakaian akan memberikan kepuasan yang sama dengan
kombinasi 7 makanan dan 3 pakaian atau 5 makanan dan 4 pakaian atau kombinasi
lainnya.
Berdasarkan data pada tabel 4.2. tersebut dapat
dibuat kurve kepuasan sama seperti pada Gb. 4.2 berikut.

Makanan
10 -
A
-
8 -
-
B
6 -
|
-
|
|
|
C
|
|
|
|
|
|
||
|
4 –
|
|
|
D
|
|
|
|
|
|
||
|
-
|
|
|
|
|
E
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
2 –
|
|
|
|
|
|
F
|
|
|
|
|
|
-
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
0
|
|
2
|
4
|
6
|
8
|
10
|
Pakaian
|
|
||
Gb. 4.2. Kurve Kepuasan Sama
Secara
matematis, kurve kepuasan sama dapat ditulis : U = f (X,Y) = k, dimana k adalah
tetap (constant) dan U = f (X,Y) adalah fungsi total utility.
Tingkat Substitusi Marginal (Marginal Rate of
Substitution)
Tingkat
substitusi marginal adalah besarnya pengorbanan/pengurangan jumlah konsumsi
barang yang satu untuk menaikkan konsumsi satu satuan barang
lainnya, dengan tetap mempertahankan tingkat kepuasannya. Sebagai
contoh, dalam Tabel 4.2, untuk perubahan kombinasi A ke B, memiliki tingkat
substitusi marginal tiga , artinya perubahan tersebut memerlukan
pengorbanan tiga unit makanan untuk menaikkan konsumsi satu unit
pakaian. Untuk perubahan kombinasi E ke F, memiliki tingkat substitusi marginal
0,27 ; artinya perubahan tersebut hanya memerlukan 0,27 unit makanan untuk
menaikkan konsumsi satu unit pakaian.
Tingkat substitusi marginal yang semakin kecil,
seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.2 tersebut, mengandung arti sebagai
berikut:
a.
ketika konsumen mempunyai barang Y relatif
banyak dan barang X relatif sedikit maka untuk menaikkan konsumsi satu unit
barang X diperlukan pengorbanan atau pengurangan konsumsi barang Y yang banyak;
akan tetapi
b.
semakin banyak barang X yang telah diperoleh,
semakin sedikit pengorbanan barang Y untuk memperoleh tambahan satu unit barang
X berikutnya.
Sebagai akibat dari tingkat substitusi marginal
yang semakin kecil tersebut kurve kepuasan sama berbentuk cembung ke titik
origin.
Secara matematis, tingkat substitusi marginal (marginal
rate of substitution) dari X untuk Y (MRSxy) adalah -dY/dX , artinya jumlah komoditi Y yang
harus diberikan ( dikurangi) jika ditambahkan satu unit komoditi X agar tingkat
kepuasan tetap sama. MRSxy
tersebut diperoleh dengan cara sebagai berikut. Dari fungsi U = f(X,Y) ,
diperoleh dU = (dU/dX) dX + (dU/dY) dY = (MUx)dX + (MUY)dY.
Untuk kurve kepuasan sama (dU = 0), maka (MUx) dX + (MUy) dY = 0 atau
(MUx) dX = - (MUy) dY atau MUx/MUy = - dY/dX. Tingkat substitusi marginal bertanda
negatif (slope negatif) menunjukkan bahwa kurve kepuasan sama memiliki ciri
turun dari kiri atas ke kanan bawah.
Peta Kurve Kepuasan Sama ( Indifference Curves
Map)
Peta kurve kepuasa sama adalah sekumpulan
kurve kepuasan sama. Kurve yang lebih tinggi menggambarkan tingkat kepuasan
yang lebih besar, sebaliknya kurve yang lebih rendah menggambarkan tingkat
kepuasan yang lebih kecil ( lihat Gb. 4.3 ).
Y
Keterangan : I3> I2> I1
|
|
I3
|
|
|
|
|
I2
|
|
|
|
|
I1
|
|
|
|
0
|
|
X
|
|
|
|
|
||
|
Gb. 4.3.
Peta Kurve Kepuasan Sama
|
|
|
|
Garis Anggaran Pengeluaran Konsumen ( Budget Constrain)
Konsumen di dalam mengkonsumsi barang-barang
untuk mencapai tingkat kepuasan yang maksimum dibatasi oleh jumlah penghasilan
konsumen yang
bersangkutan. Dengan demikian persoalan yang dihadapi konsumen adalah menentukan
berapa banyak masing-masing barang harus dikonsumsi atau dibeli dengan
penghasilannya, sehingga diperoleh tingkat kepuasan yang maksimum. Untuk
analisis ini tidak cukup hanya dengan kurve kepuasan sama. Namun, perlu
diketahui garis anggaran pengeluaran konsumen. Garis anggaran pengeluaran
adalah tempat kedudukan titik-titik kombinasi barang-barang yang dapat
dibelidengan sejumlah penghasilan tertentu.
Seperti halnya ketika membuat kurve kepuasan
sama, membuat garis anggaran juga dengan menganggap bahwa konsumen hanya
mengkonsumsi dua jenis barang, misalnya barang Y dan X ( lihat Gb. 4.4).

Y
M
PY
Garis Anggaran (budget line)
|
0
|
|
M
|
|
X
|
|
|
|
PX
|
|
|
Gb. 4.4.
Garis Anggaran Pengeluaran Konsumen
Misalnya, total penghasilan konsumen sebesar M. Dengan uang sebesar M
tersebut konsumen dapat membelanjakan semuanya untuk barang Y sehingga
memperoleh barang sebanyak M/PY , atau
membelanjakannya semua untuk barang X sehingga memperoleh barang sebanyak M/PX, atau bisa juga membelanjakannya untuk berbagai
kemungkinan kombinasi Y dan X seperti yang ditunjukkan oleh garis lurus yang
menghubungkan M/PY dan M/PX.
Secara
matematis, garis anggaran dapat ditulis
sebagai berikut:
M
= PY Y + PX X ;
PY Y = M – PX X;
à garis
anggaran
Garis anggaran tersebut akan berubah apabila terjadi perubahan
penghasilan dan atau harga barang. Pengaruh perubahan penghasilan dan harga
barang terhadap garis anggaran dapat dijelaskan melalui Gb. 4.5. berikut

Y
Y
M/PY
M/PY
|
0
|
M/PX
|
X
|
0
|
M/PX
|
X
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gb. 4.5.a. Harga X naik atau turun, M tetap
|
Gb. 4.5.b. M
naik atau turun, Harga X dan Y
|
||||||
|
|
|
|
|
|
tetap.
|
|
|
Apabila terjadi perubahan harga salah
satu barang, maka garis anggaran akan berayun ke atas atau ke bawah. Misal,
harga barang X naik sedangkan harga barang Y dan penghasilan (M) tidak berubah
maka garis anggaran akan berayun ke bawah. Jika harga barang X turun sedangkan
harga Y dan penghasilan (M) tidak berubah maka garis anggaran berayun ke atas (
lihat Gb. 4.5.a). Apabila harga barang Y dan X berubah secara proporsional maka
garis anggaran akan bergeser sejajar.
Apabila terjadi perubahan penghasilan sedangkan
harga barang tidak berubah, maka perubahan garis anggaran akan digambarkan oleh
pergeseran sejajar ke bawah atau ke atas. Bergeser ke atas jika terjadi
kenaikan penghasilan dan
sebaliknya akan bergeser ke bawah jika terjadi penurunan penghasilan ( lihat
Gb. 4.5.b).
Memaksimumkan Kepuasan Konsumen
Tingkat kepuasan konsumen maksimum dicapai pada konsumsi kombinasi
barang Y dan X yang terletak pada titik singgung antara garis anggaran dan
kurve kepuasan sama dari konsumen yang bersangkutan ( lihat Gb. 4.6).

Y
Y* E
0 X* X
Gb.
4.6. Tingkat Kepuasan Konsumen Maksimum
Titik E
adalah titik keseimbangan konsumen yang menunjukkan kombinasi barang Y dan X
yang memberikan kepuasan maksimum kepada konsumen, yaitu terdiri dari barang Y* dan X*.
Efek Pendapatan dan Efek Substitusi
Keunggulan pendekatan kurve kepuasan sama
dibanding dengan pendekatan marginal utiliti adalah bahwa pengaruh perubahan
harga terhadap jumlah barang yang diminta dapat dipecah lebih lanjut menjadi
dua, yaitu efek substitusi (substitution effect) dan efek pendapatan (
income effect). Efek substitusi adalah kenaikan jumlah barang yang dibeli
karena penurunan harga barang tersebut, setelah dilakukan penyesuaian
pendapatan sehingga daya beli riel konsumen sama dengan sebelumnya. Efek
pendapatan adalah kenaikan jumlah barang yang dibeli dari kenaikan pendapatan
riel akibat penurunan harga barang tersebut. Secara grafis, efek substitusi dan
efek pendapatan tersebut dapat dijelaskan melalui Gb. 4.7 berikut. Pada Gb. 4.7
terlihat bahwa dengan garis anggaran AB, kepuasan maksimum dicapai apabila
konsumen membelanjakan penghasilannya sebanyak OY1 barang Y dan OX1 barang X, yaitu pada posisi persinggungan
antara budget line dengan indifference curve, yaitu pada titik E.
|
Y
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gb. 4.7. Efek
Substitusi dan efek
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
pendapatan
|
|
|
A
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
I4
|
|
||
|
Y1
|
|
|
E
|
|
F
|
|
I3
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
G
|
|
|
I2
|
|
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
I1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
0
|
X1
|
X2 X3
|
B
|
C
|
|
||||||||
Sekarang bila terjadi penurunan harga barang X,
dari Px menjadi
Px1 sedangkan harga Y tetap maka budget line akan
berayun ke kanan menjadi AC. Titik keseimbangan yang baru adalah titik F. Jadi,
dengan penurunan harga barang X, jumlah barang X yang diminta naik dari 0X1 menjadi 0X3. 0X3 ini
adalah efek total dari perubahan harga dari Px menjadi Px1. Efek total dapat dipecah menjadi efek substitusi, yaitu X1X2 dan
efek pendapatan, yaitu X2X3. Dalam contoh ini, efek substitusi adalah
kenaikan konsumsi X karena adanya substitusi Y dengan X, karena sekarang harga
X relatif lebih murah dari pada harga Y. Efek pendapatan adalah kenaikan
konsumsi X yang disebabkan oleh kenaikan pendapatan riel karena turunnya harga
X.
Surplus Konsumen
Surplus konsumen adalah kelebihan atau perbedaan
kepuasan total (totalutility) yang dinikmati konsumen dari
mengkonsumsikan sejumlah barang tertentu dengan pengorbanan totalnya
untuk memperoleh sejumlah barang tersebut.
Konsep ini dapat dijelaskan dengan gambar 4.8
berikut. Menurut pendekatan Marginal Utility, kurve permintaan adalah kurve
Marginal utility yang dinilai dengan uang. Jadi luas 0ABD adalah total utility
yang diperoleh konsumen dari konsumsi barang X sebanyak 0A. Pengorbanan
totalnya adalah jumlah uang yang dibayarkan untuk memperoleh barang X sebanyak
OA, yaitu OA kali harga OPx atau
luas OPxBA.
Surplus konsumen adalah selisih antara AOBD dengan OPxBA, yaitu PxDB.
Rp.
|
D
|
|
|
|
Luas PXBD = surplus konsumen
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PX
B
0 A X
Gb. 4.8. Surplus Konsumen
C. Tugas Belajar
Secara individu mahasiswa diminta untuk :
1. Menggambarkan
terjadinya maksimisasi kepuasan konsumen.
2.
Menjelaskan dengan grafik efek substitusi, efek
pendapatan dan efek total untuk barang normal dan inferior.
D. Daftar
Pustaka
Boediono. 1982. Ekonomi Mikro. Seri
Sinopsis PIE No. 1, BPFE, Yogyakarta
Nicholson,
Walter. 1999. Teori Mikroekonomi. Alih bahasa: Daniel Wirajaya, Edisi
ke-5, Binarupa Aksara, Jakarta.
Mankiw,
Gregory, N. 2006, Principles of Economics. Edisi 3, Salemba Empat,
Jakarta
Sukirno,
Sadono. 2001. Pengantar Teori Mikroekonomi. Cetakan ke-15, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
E. Rancangan Tugas
E.1. Tujuan Tugas
1.
Meningkatkan pengetahuan perilaku konsumen
melalui pendekatan marginal utility dan indifference curve.
2.
Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam
menganalisis perubahan budget line (garis anggaran) dan indifference
curve.
E.2. Uraian Tugas
1. Kegiatan
pertama pembelajaran,
a.
Ikutlah kegiatan Forum diskusi yang dibuka oleh
pengampu matakuliah pada topik elastisitas permintaan dan penawaran.
b.
Mengunggah (upload) setiap tugas
pembelajaran masing-masing topik pada sistem elearning.
c.
Kerjakan semua latihan dan quiz yang tersedia di
dalam sistem elearning secara seksama.
2.
Kegiatan kedua, buatlah paper (kertas kerja)
singkat secara individu untuk mengerjakan tugas belajar modul 4 dengan
ketentuan,
a.
Ditulis tangan (disyaratkan tulisan yang rapi)
pada kertas folio bergaris.
b.
Paper dimasukkan pada snelhecter yang telah
dikumpulkan.
c.
Contoh yang disajikan merupakan aktivitas
ekonomi riil.
d.
Jika ditampilkan data, diperkenankan menggunakan
data hipotetis untuk memperjelas deskripsi.
e.
Diperkenankan menggunakan ilustrasi gambar
(dapat ditempelkan ke paper) untuk menjelaskan ilustrasi/deskripsi materi
f.
Batas akhir tugas ditentukan pada pengumuman di
sistem elearning
g.
Tes individu dari materi modul 4 dikerjakan
secara online




Komentar
Posting Komentar