Sejarah dan Teori Manajemen
BAB
I
SEJARAH DAN TEORI
MANAJEMEN
Dalam
bab I disajikan beberapa materi sebagai berikut :
A.
Sejarah perkembangan Manajemen
B.
Evolusi teori Manajemen
C.
Teori Manajemen Klasik
D.
Pendekatan hubungan manusiawi
E.
Pendekatan system Manajemen
F.
Pendekatan kontingens.
A.
SEJARAH PERKEMBANGAN MANAJEMEN
Sejarah
perkembangan manajemen tidak jauh berbeda dengan perkembangan manusia itu
sendiri. Artinya, bahwa manajemen telah berlangsung sejak manusia itu berada di
bumi ini, seiring dengan perkembangan dan tuntutan manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Pada zaman purba atau Kaman batu, manusia juga menggunakan
keterampilan dan keahliannya untuk membuat alat-alat dari batu guna
merealisasikan tujuan hidupnya. Manajemen kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan
keahlian serta pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh manusia itu.
Pengetahuan serta teknologi (IPTEK) terns tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan
itu sekaligus juga mengembangkan keterampilan manajemen umat manusia.
Mempelajari sejarah manajemen sangat penting bagi kita untuk dapat memperoleh
gambaran tentang bagaimana manajemen itu telah berlangsung pada masa lalu,
bagaimana kemudian manajemen tersebut berkembang, prinsip-prinsip apa yang
dikembangkan pada masa lalu dan bagaimana manajemen tersebut berlangsung dewasa
ini. Akhirnya kita harus pula mempelajari dan mengantisipasi perkembangan di
masa mendatang yang tentu saja juga akan menentukan arah pertumbuhan manajemen
itu sendiri. Dengan mengetahui arah perkembangan manajemen tersebut maka kita
juga akan dapat mempersiapkan diri kita untuk membekali diri kita masing-masing
dengan keterampilan-keterampilan manajerial yang diperlukan di masa mendatang.
Untuk
memperjelas gambaran yang diuraikan tadi, gambar 1 berikut ini menunjukkan
sejarah perkembangan manajemen dari zaman dahulu sampai dengan perkembangan
sekarang ini.

Gambar 1. Sejarah Perkembangan Manajemen
B.
EVOLUSI TEORI MANAJEMEN
Teori
Manajemen Ilmiah
Gerakan
manajemen ilmiah sebenarnya telah dimulai sekitar akhir abad yang lalu, di mana
para insinyur Amerika Serikat dan Eropa mencari dan mengembangkan cara-cara
baru untuk mengelola suatu perusahaan. Beberapa variabel yang diperhatikan
dalam manajemen ilmiah adalah sebagai berikut:
a. Pentingnya peranan
manajer dalam menggerakkan dan meningkatkan produktivitas perusahaan.
b. Pengangkatan dan
pemanfaatan tenaga kerja dengan persyaratan-persyaratannya.
c. Tanggung jawab
kesejahteraan pegawai/karyawan.
d. Kondisi yang cukup
untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Peran
manajer (pimpinan) dalam menentukan pilihankebijaksanaan perusahaan adalah
sangat penting. Selain itu, manajer harus dianggap sebagai reformis dalam
memperbarui persyaratan-persyaratan kerja, kondisi kerja, hari standar kerja,
tanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan dan lain-lain. dari
perbaikan/pembaharuan dalam manajemen, aspek-aspek manajemen ilmiah mempunyai
tujuan agar tingkat produktivitas
perusahaan, efisien
dan efektivitas perusahaan dapat di tingkatkan.
Selain itu dalam
manajemen ilmiah juga memperhatikan prinsip-prinsip pembagian kerja di antara
para pegawai pada suatu perusahaan.
Dengan pembagian
kerja (suatu pekerjaan dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian disiplin kerja
yang terspesialisasi) selain akan mengkonsentrasikan tenaga kerja pada pekerjaannya
masing-masing juga akan memudahkan usaha meningkatkan keterampilannya
masing-masing tenaga kerja yang terspesialisasi itu sehingga waktu dan biaya
pendidikan vang mahal dapat diminimalisir dan proses pengulangan kembali secara
terus menerus akan dapat meningkatkan keterampilan kerja tenaga vang
bersangkutan dan dapat menambah efisiensi kerjanya.
Dalam hal perbaikan
kesejahteraan karyawan, antara lain diperhatikan pada metode pemikiran upah
(gaji) pada karyawan.
Metode apa yang
digunakan dalam pemberian upah harus dikaitkan dengan produktivitas kerja.
Pendekatan ini disebut sebagai metode pemberian insentive. Untuk lebih jelasnya
marilah kita ikuti beberapa teori ilmiah menurut perintis dan pencetusnya
secara kronolois
berikut:
a.
Robert Owen (1771-1858)
Ia
adalah seorang manajer beberapa pabrik pemintal kapas di New Lanark Scotlandia
semenjak tahun 1800-an. Dalam teorinya la menekankan tentang peranan sumber
daya
manusia sebagai kunci
keberhasilan perusahaan. Khususnya peranan jabatan manajer (kader) yang harus
berfungsi sebagai reformis (pembaru) dalam manajemen sumber daya
manusia ini. Robert
Owen merintis manajemen ilmiah, karena beliau digerakkan oleh kenyataan kondisi
dan persyaratan kerja yang tidak memadai; di mana kondisi kerja sebelumnya dan
kehidupan pada pekerja pada saat itu sangat buruk.
Memperkerjakan
anak-anak di bawah usia 5 tahun pada saat itu sudah umum berlaku. Standar waktu
hari kerja sehari selama 13 jam sudah biasa terjadi. Oleh karena itu, Robert
Owen memunculkan
gagasan yang mengintrodusir tentang perbaikan kondisi dan persyaratan kerja
seperti pengurangan standar hari kerja menjadi 10,5 jam. Pembatasan usia tenaga
kerja yang dipekerjakan menolak pekerja yang usianya kurang dari 10 tahun dan
mengadakan toko-toko perusahaan guna memberikan pelayanan kepada para karyawan
akan kebutuhan seharihari dengan memberikan harga yang lebih murah. Selain
itu, ia menentukan
prosedur-prosedur kerja yang dapat meningkatkan produktivitas kerja. Dengan
perbaikanperbaikan kondisi kerja, pelayanan kesejahteraan bagi karyawannya,
maupun prosedur kerja yang dibuat, ia berharap agar produktivitas tenaga kerja
dapat lebih ditingkatkan lagi.
b.
Charles Babbage (1792-1971)
Ia
adalah seorang profesor matematika yang telahbanyak mencurahkan perhatiannya
bagi cara-cara kerja di pabrik supaya lebih efisien. Ia percaya bahwa penerapan
prinsip-prinsip ilmiah dalam proses kerja akan dapat meningkatkan produktivitas
kerja dan dapat menekan biaya-biaya. Babbage menganjurkan untuk mengadakan
pembagian tenaga kerja dalam kaitannya dengan pembagian pekerjaan. Setiap
pekerjaan dalam pabrik dapat dibagi-bagi
menjadi
bermacam-macam keterampilan. Akibatnya, setiap pekerja (karyawan) dapat dididik
dalam suatu keterampilan khusus. Setiap pekerja hanya dituntut tanggung jawab
khusus
(sebagian atau
tertentu) sesuai dengan spesialisasinya dari semua bagian keseluruhan pabrik
(perusahaan). Dengan demikian, waktu dan biaya yang mahal dalam pelatihan
(pendidikan) dapat
ditekan dan proses pengulangan pekerjaan secara terus menerus dapat
mengakibatkan peningkatan keterampilan pekerja yang bersangkutan dan efisiensi
dapat
dicapai.
c.
Frederick W. Taylor
Mula-mula
yang menjadi titik tolak penerapan Manajemen secara ilmiah berasal dari hasil
penelitian F.W Taylor tentang studi waktu kerja (time and motion studies) pada
bagian produksi di mana dia bekerja, di perusahaan Midvales Stell. Dengan
penelitian waktu sebagai dasarnya ia dapat memecahkan setiap pekerjaan ke dalam
komponen komponennya dan merancang cara pengerjaannya yang tercepat dan terbaik
untuk setiap pekerjaan. Ini juga berarti bahwa ketentuannya adalah menentukan
seberapa pekerja dapat menyelesaikan dengan bahan dan peralatan yang tersedia
di perusahaan. Taylor menekankan bahwa antara waktu penyelesaian pekerjaan
dapat dikorelasikan dengan upah yang diterimakan; vaitu semakin cepat atau
tinggi prestasi kerja dalam menyelesaikan pekerjaannya, akan semakin tinggi
upah yang diterimanya. Metode pendekatan ini disebut sebagai “sistem upah
defferensiasi” (defferensial rate system).peningkatan produktivitas
kualitas, semangat
kerja, dan upah yang diterimakan dapat dilakukan dengan melaksanakan
pendidikan
keterampilan, mengadakan “time and motionstudy”, mengutamakan tukar
menukar (transfer) antara pejabat/karyawan tertentu dengan karyawan yang lain, memberikan
waktu istirahat dalam bekerja, dan memberikan sistem pengupahan deferensial dan
perbaikan-perbaikan lainnya.
Empat
Prinsip Manajemen menurut Taylor
1. Kembangkanlah
sebuah ilmu bagi setiap unsur pekerjaan seseorang, yang akan menggantikan
metode kaidah ibu janyang lama.
2. Secara ilmiah
pilihlah dan kemudian latihlah, ajarilah atau kembangkanlah pekerja tersebut.
(sebelumnya, para pekerja memilih sendiri pekerjaan mereka dan melatih diri
mereka sendiri semampu mereka)
3. Bekerjasamalah
secara sungguh-sungguh dengan para pekerja untuk menjamin bahwa semua pekerjaan
dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu yang dikembangkan tadi.
4. Bagilah pekerjaan
dan tanggung jawab secara hampir merata antara pimpinan dengan para pekerja.
Manajemen mengambil alih semua pekerjaan yang lebih sesuai baginya ketimbang
bagi para pekerja.
d.
Henry L. Gantt (1861-1919)
Henry
L Gantt yang dalam pengalamannya pernahbekerja bersama-sama dengan Taylor
mengemukakan teorinya, juga bertitik tolak pada usaha meningkatkan
produktivitas,
efisiensi dan
efktivitas kerja dengan rangsangan upah atau insentif. Gagasan Henry L Gantt
mempunyai kesamaan dengan gagasan Taylor, antara lain
a) kerja sama yang
saling menguntungkan antar manajer dan karyawan,
b) mengenai metode
seleksi yang ilmiah untuk menentukan tenaga kerja
yang benar-benar tepat,
c) sistem bonus dan
penggunaanintruksi dalam pengaturan kerja. Tetapi dalam penentuan
bonus tidak seperti
yang dikemukakan oleh Taylor dengan sistem upah differensial. Henry L. Gantt
justru menolak sistem upah differensial. Hal ini menurutnya justru akan
berdampak
terlampau kecil
motivasi kerja bagi tenaga kerja. Oleh karena itu, dia mengemukakan
gagasan bahwa bagi
tiap-tiap pekerja yang dapat menvelesaikan tugas yang dibebankan kepadanya untuk
suatu hari, maka ia berhak menerima bonus sebesar 50 sen dollar untuk hari itu.
Sistem
bonus yang diterapkan Gantt ini juga berlakubagi para mandor manakala yang
menjadi tanggung jawabnya (anak buah) itu dapat menyelesaikan pekerjaannya
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, Henry mengembangkan gagasan
Owen dalam metode penilaian atas pekerjaan karyawan, yakni dengan mengadakan
metode pencatatan atas hasil pekerjaan karyawan di dalam kartu pribadi. Jika
pekerjaan karvawan memenuhi standar, maka dia beri warna. hitam, jika tidak
memenuhi standar maka kode warnanya merah. Lebih lanjut dia mengemukakan
gagasannya dalam membuat sistem baru tentang penggambaran jadwal produksi sebagai
alat untuk instruksi dan penagwasan bagi manajer perusahaan.
e.
Frank B(1968-1424) dan Lillian M Gilbreth (18781972)
Kedua
pelopor manajemen ilmiah ini mendasarkangagasannya pada hasil penelitian
tentang hubungan gerakan dan kelelahan dalam pekerjaan. Menurut Frank B
Gilbreth,
bahwa antara gerakan
dan kelelahan saling berkaitan, setiap gerakan yang dihilangkan juga
menimbulkan kelelahan. Sementara, itu menurut M. Gilbreth dalam pengaturan
untuk mencapai gerakan yang efektif dapat mengurangi kelelahan, maka akan
mepunyai pengaruh terhadap upaya untuk mengoptimalkan kemarnpuan pekerja
sebagai manusia.
Jadi
menurut kedua tokoh ini bahwa penelitian gerakan akan meningkatkan semangat
kerja bagi pekerja; hal ini dikarenakan adanya keuntungan-keuntungan fisik terhadap
pekerja itu sendiri yang harus dapat memanfaatkan kemampuan secara optimal.
Gagasan program pengembangan karvawan lebih ditekankan pada karyawan itu
sendiri untuk mengembangkan dirinva melalui persiapan untuk dapat menerima
jabatan yang lebih tinggi, penyelesaian pekerjaan tepat pada waktunya dan mampu
memberi pelatihan terhadap .pengganti-penggantinya. Jadi setiap pekerja harus
bisa berfungsi sebagai pelaku, pelajar dan guru dan berharap akan kesempatan
baru.
f.
Herrington Emerson (1853-1931)
Herrington
Emerson melihat bahwa penyakit yangmenggangu sistem manajemen di dalam industri
ialah adanya masalah pemborosan dan in-efisiensi. Oleh karena itu dia mencetuskan
ide-ide yang terformulasikan dalam 12 prinsip sebagai berikut:
a. Perumusan tujuan
dengan jelas
b. Kegiatan yang
dilaksanakan masuk akal
c. Tersedianya staf
yang cakap
d. Terciptanya
disiplin kerja
e. Pemberian balas
jasa yang adil
f. Laporan terpecaya,
cepat, tepat, dan kontinyu
g. Pemberian
instruksi - perencanaan dari urutan-urutan kerja
h. Adanya
standar-standar dan skedul, metode dan waktu setiap kegiatan
i. Kondisi yang
standar
j. Operasi yang
standar
k. Intruksi-intruksi
praktis tertulis standar.
l. Balas jasa efisien
- rencana insentif.
SUMBANGAN
DAN KETERBATASAN MANAJEMEN ILMIAH
Sumbangan
manajemen ilmiah telah di akui dan dapat memberikan kontribusi yang cukup baik
bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi kerja. Peningkatan produktivitas telah
sangat di dukung dengan sistem pembagian kerja sesuai bagian-bagian dari suatu
proses pekerjaan, adanya spesialisasi-spesialisasi tertentu Sementara
teknik-teknik efisiensi manajemen ilmiah seperti yang ditunjukkan dalamstudi
gerak dan waktu telah membuktikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan dapat lebih
efisien. Demikian juga sistem seleksi dan pengembangan ilmiah para nekerja
justru menimbulkan kesadaran tentang pentingnya latihan: latihan untuk
meningkatkan efektivitas serta efisiensi kerja. Sumangan lain dari manajemen
ilmiah ialah adanya desain kerja yang :elah mendorong para manajer dapat
menetapkan suatu cara
terbaik dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Namun demikian, meski cukup besar
sumbangan yang diberikan oleh manajemen ilmiah bagi kemajuan
manajemen. Tapi pada
umumnya manajemen ilmiah memiliki keterbatasan-keterbatasan, terutama dalam
aplikasinya.
Ajaran
manajemen ilmiah mengenai upaya peningkatanproduktivitas justru dalam aplikasinya
menimbulkan beberapa pengaruh yang tidak menguntungkan bagi kepentingan sistem manajemen
itu sendiri. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa konsep produktivitas dengan
dukungan penerimaan teknologi justru banyak mengurangkan (menciutkan) skala
penggunaan tenaga kerja. Kelemahan lain adalah tenaga kerja sebagai salah satu
faktor produksi tidak atau kurang mendapatkan perhatian atas kebutuhan
sosialnya, personalitynya, yang justru hal ini sangat dibutuhkan. Arti kepuasan
tenaga kerja kurang diperhatikan secara utuh. Upah yang tinggi saja tanpa memperhatikan
kondisi kerja yang cukup memuaskan dengan makin berjalannya waktu, tujuan
produktivitas dalam manajemen ilmiah tidaklah mendapatkan tempat sebagaimana
mestinya.
C.
TEORI MANAJEMEN KLASIK
1.
Henry Fayol (1841-1925)
Henry
Fayol adalah seorang industriawan Perancis yangkemudian terkenal sebagai bapak
manajemen operasional mengembangkan manajemen sebagaimana yang dikemukakannya dalam
bskunya yang terkenal yang berjudul Administration Industrielleet generale.
Fayol berpendapat bahwa dalam perusahaan industri kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan manajemen dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok tugas, yaitu:
- Technical.
Merupakan kegiatan memproduksi dan membuat produk. Kegiatannya meliputi
merencanakan dan mengorganisir produk.
- Commercial.
Meliputi kegiatan membeli bahan-bahan yang dibutuhkan dan menjual barang (hasil
produksi).
- Finacial.
Kegiatan pembelanjaan, yakni meliputi kegiatan mencari modal dan bagaimana
menggunakan modal tersebut.
- Security.
Yaitu kegiatan yang dilakukan untuk menjaga keamanan (keselamatan kerja dan
harta benda yang dimilki perusahaan).
- Akuntansi.
Meliputi kegiatan yang terdiri dari mencatat, menghitung, mengkalkulasi biaya
yang dilaksanakan, menghitung dan menentukan keuntungan yang diperoleh, mengetahui
hutang-hutang yang
menjadi kewajiban perusahaan menyajikan neraca, laporan rugi laba, dan
mengumpulkan datadata dalam bentuk statistik.
- Tugas manajerial.
Melaksanakan fungsi-fungsi yang ada dalam manajemen
2.
James D. Mooney
Menurut
James D. Mooney, kaidah-kaidah yang diperlukanuntuk menetapkan organisasi
manajemen adalah sebagai berikut:
- Koordinasi,
merupakan kaidah yang menghendaki adanya wewenang, saling melayani, perumusan
tujuan dan kedisiplinan yang tinggi.
- Prinsip skalar, yaitu
suatu prinsip yang mendefinisikan tentang hubungan kepemimpinan, pendelegasian
dan antar fungsi-fungsi tertentu yang dibutuhkan.
- Prinsip
fungsional, merupakan suatu prinsip yang mendefinisikan berbagai macam
tugas yang harus diselesaikan serta dalam usaha mencapai tujuan bersama.
- Prinsip staf,
merupakan prinsip yang membedakannya sebagai manajer staf dan lini lainnya.
3.
Mary Parker Follet (1868-1933)
Tokoh
lain vang memberikan sumbangan terhadappandanganprinsip-prinsip administrasi
adalah Mary Parker Follet, yang nada saat kematiannya pada tahun 1933 dianggap sebagai
salah satu dari wanita terpenting yang dihasilkan oleh Amerika Serikat di
bidang sosiologi dan kewarganegaraan. Dalam tulisannva tentang perusahaan dan
organisasi-organisasi yang lain, Folletymengulas pemahaman tentang kelompok dan
tentang komitmen yang tinggi terhadap kerja sama antar manusia. Menurutnya,
kelompok merupakan suatu mekanisme di mana individu yang beraneka ragam dapat
menggabungkan bakat-bakat yang dimiliki untuk mencapai sesuatu yang lebih baik.
Organisasi dianggapnya sebagai sesuatu komunitas tempat manajer dan karyawan
bekerja secara harmonis, tanpa salah satu pihak menguasai pihak yang lain,
serta mampu menyelesaikan segala perbedaan dan pertentangan yang ada melalui
diskusi. Dia juga menganggap bahwa tugas manajer adalah membantu karyawan dalam
organisasi untuk saling bekerja bersama mencapai kepentingan-kepentingan yang
terintegrasi.
Arti
penting yang lebih jauh dari pandangan Follet terlihat dalam Dynamic
Administration: The Collected Papers of MaryParker Follet. Follet
berpendapat bahwa dengan membuat karyawan merasa memiliki perusahaan akan
tercipta rasa tanggung jawab kolektif. Dewasa ini, kita memunculkan isu serupa
dengan istilah employee ownership, profit sharing, dan gain-sharing plans.
Follet juga berpendapat bahwa permasalahan dalam bisnis melibatkan berbagai
macam faktor yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan hubungan antar
masing-masing faktor. Sekarang ini, kita sering berbicara tentang sistem pada
saat menggambarkan fenomena yang serupa. Follet yakin bahwa perusahaan
seharusnya memberikan pelayanan dan keuntungan yang diperoleh perusahaan harus
dikaitkan dengan kesejahteraan umum. Saat ini, kita sering membicarakan hal
semacam itu dengan istilah etika manajerial dan tanggung jawab sosial
perusahaan.
4. Chaster
I. Barnard (1886-1961)
Chaster
memandang organisasi sebagai sistem kegiatanyang diarahkan pada tujuan.
Fungsi-fungsi utama manajemen, menurut pandangan Bernard adalah perumusan
tujuan dan pengadaan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Barnard menekankan pentingnya peralatan komunikasi untuk pencapaian tujuan
kelompok. Dia juga mengemukakan teori penerimaan pada wewenang. Menurut teorinya,
bawahan akan menerima perintah hanya bila mereka memahami dan mampu serta
berkeinginan untuk menuruti atasan. Barnard adalah pelopor dalam penggunan
pendekatan sistem untuk pengelolaan organisasi.
D.
PENDEKATAN HUBUNGAN MANUSIAWI
Perkembangan berikutnya
dalam manajemen dimulai sejak 1930 dan menjadi populer pada tahun 1950-an,
yaitu manajemen yang banyak memberikan perhatian terhadap hubungan kemanusiaan
kepada para karyawan. Pandangan ini muncul sebagai akibat dari
kelemahan-kelemahan pada manajemen yang berorientasi tugas (klasik) yang
kemudian menimbulkan banyak kritik terhadapnya. Dengan gaya ortodoks dan
otokratis itu, maka pekerjaan menjadi monoton dan membosankan sehingga menimbulkan
stres serta produktivitas menjadi mandeg atau bahkan menurun.
Beberapa
cabang utama dalam pendekatan hubungan manusia ini dapat dilihat dalam gambar 2
Dalam cabang-cabang tersebut termasuk studi Hawthorne yang terkenal dan teori
kebutuhan manusia dari Maslow, serta beberapa teori yang dibangun oleh Douglas
McGregor, Chris Argyris, dan lainnya. Pendekatan sumber daya manusia menyatakan
bahwa manusia pada dasarnya bersifat sosial dan ingin mengaktualisasikan dirinya.
Menurut pendekatan ini, di tempat kerja orang berusaha untuk memuaskan
kebutuhan sosialnya, memberikan reaksi atas tekanan dari kelompok serta
berusaha memenuhi kebutuhan pribadi
.
Gambar 2. Pendekatan Hubungan Manusiawi
STUDI
HAWTHORNE
Studi
ini dilakukan oleh sebuah kelompok yang dipimpinoleh Elton Mayo. Mereka meneliti
lebih lanjut tentang efek kelelahan karyawan terhadap output yang dihasilkan.
Supaya terbebas dari gangguan efek psikologis seperti yang pernah terjadi saat
penelitian tentang penerangan sebelumnya. Tes dilakukan terhadap enam karyawan
yang bekerja pada Relay assmably, mereka dipisahkan untuk diteliti secara
intensif dalam suatu ruangan tes. Waktu istirahat, waktu kerja harian, waktu
kerja mingguan mereka dibuat variasi, kemudian hasil kerja mereka diukur secara
teratur. Dalam penelitian ini para peneliti tidak berhasil menemukan hubungan
langsung antara perubahan kondisi kerja secara fisik dengan output. Produktivitas
tetap meningkat terlepas apakah perubahan tersebut
dilakukan atau tidak.
Mayo
dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwakondisi sosial baru yang diciptakan bagi
pekerja di ruang tes mempunvai peranan besar dalam peningkatkan produktivitas. Terdapat
dua faktor yang dianggap mempunyai arti penting. Pertama, adalah suasana
kelompok, di mana para pekerja saling menciptakan hubungan sosial yang
mendukung serta bersama-sama ingin melakukan pekerjaan dengan baik. Kedua,
adalah pengawasan vang lebih partisipasif. Para pekerja di ruang tes tersebut
merasa di anggap penting, diberi banyak informasi serta sering diminta
pendapat. Hal semacam itu tidak diberlakukan bagi pekerja lain di dalam pabrik
tersebut.
Salah
satu hasil nyata dari penelitian ini adalah beralihnya perhatian manajer dan
peneliti bidang manajemen dari hal-hal yang berkaitan dengan teknis dan
struktural seperti dalam pendekatan klasik menjadi lebih ke hal-hal
vang berkaitan dengan
sosial dan kemanusiaan sebagai kunci bagi produktivitas. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa perasaan, sikap dan hubungan antar sesama karyawan menjadi
penting dalam manajemen dan penelitian tersebut mengakui pentingnya kelompok kerja.
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi apa yang diistilahkan sebagai
Hawthorne Effect, yaitu kecenderungan seorang yang aipilih untuk tujuan penelitian
tertentu, untuk berbuat seperti apa yang diinginkan dalam penelitian tersebut,
karena situasi mengnendaki hal itu.
Pembahasan
yang menyangkut pendekatan teori Xdan Y ;:ari Douglas McGregor dan teori
kebutuhan manusia dari Abraham Maslow akan dijelaskan pada bagian berikutnya.
Hal ini mengingat pembahasan
yang menyangkut kedua pendekatan tersebut sangat luas dan perlu dilakukan pengkajian
secara mendalam.
SUMBANGAN
DAN KETERBATASAN PENDEKATAN
HUBUNGAN
MANUSIAWI
Penekanan
kebutuhan-kebutuhan sosial dalam aliranhubunganmanusiawi melengkapi pendekatan
klasik, sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas. Aliran hubungan manusia
mengutarakan bahwa perhatian terhadap para karyawan akan memberikan keuntungan.
Mayo menekankan pentingnya gaya manajer dan oleh karenanva organisasi perlu mengubah
latihan manajemennya. Di samping itu, manajer diingatkan pentingnya perhatian
terhadap proses kelompok untuk melengkapi perhatian terhadap masing-masing
karyawan secara individual. Teori nubungan manusia ini mengilhami
para ilmuwan perilaku
manusia seperti Argyris, Maslow, dan McGregor untuk mengkaji lebih mendalam
tentang motivasi.
Konsep
makhluk sosial tidak menggambarkan secaralengkap individu-individu dalam
tempatnya bekerja. Hal ini merupakan salah satu keterbatasan dari teori
hubungan
manusia. Di samping
itu perbaikan-perbaikan kondisi kerja dan kepuasan karyawan tidak menghasilkan
peningkatan produktivitas yang relevan seperti yang diharapkan. Juga, lingkungan
sosial di tempat kerja hanya salah satu dari beberapa faktor yang saling
berinteraksi yang mempengaruhi produktivitas. Tingkat upah, seberapa jauh
pekerjaan itu
menarik, struktur
organisasi dan hubungan perburuhan juga memainkan peranan. Jadi, produktivitas
dan kepuasan kerja menjadi semakin kompleks dari yang dipikirkan semula.
Suatu
anggapan yang digunakan dalam pendekatanini adalah bahwa manusia memiliki
kebutuhan yang beraneka ragam dan mengalami perubahan yang begitu cepat. Oleh karena
itu pendekatan manajemen modern menilai bahwa tidak ada satu cara atau pendekatan
yang dapat digunakan pada seluruh situasi. Walaupun demikian, pendekatan ini
tetap mengakui gagasangagasan yang dikemukakan dalam teori manajemen klasik dan
sumber daya manusia. Manajemen modern pada dasarnya dibangun atas dua konsep
utama, yaitu teori tentang perilaku organiasai (organizational behaviour)dan
manajemen kuantitatif (management science).
1.
Teori Perilaku
Pandangan-pandangan
umum dalam teori perilaku ini di tandai oleh tiga tingkatan kelompok perilaku,
yaitu 1) perilaku individu per individu; 2) perilaku antar kelompok-kelompok sosial,
dan 3) perilaku antar kelompok sosial.
Beberapa
nama yang menganut teori ini antara lain:
a. Douglas McGregor
melalui teori X dan Y nya
b. Abraham Maslow
yang mengembangkan adanya hierarki kebutuhan dalam penjelasannya tentang perilaku
manusia dan dinamika proses motivasi.
c. Frederich Herzberg
yang menguraikan teori motivasi hiegenis atau teori dua faktor.
d. Robert Blake dan
Jane Mouton yang mejelaskan lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial (managerial
grid).
e. Chris Argyris yang
memandang organisasi sebagai sistem social atau sistem antar hubungan budaya.
f. Edgar Schein yang
bayak meneliti dinamika kelompok dalam organisasi dan sebagainya.
g. Rensis Likert yang
telah mengidentifikasikan dan melakukan penelitiannya secara intensif mengenai empat
sistem manajemen.
h. Fred Fiedler yang
menyarankan pendekatan contingency pada studi kepemimpinan.
Adapun
pokok-pokok pikiran yang dikemukakanoleh para penganut teori perilaku tersebut
dapat di rangkum sebagai berikut:
1) Organisasi sebagai
suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk pengawasan harus
sesuai dengan situasi.
2) Pendekatan
motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi
sangat dibutuhkan.
3) Manajemen harus sistematik,
dan pendekatan yang digunakan harus dengan pertimbangan secara hati-hati.
4) Manajemen teknik
dapat dipandang sebagai suatu proses teknik secara ketat (peranan prosedur dan
prinsip).
Selain
empat pokok pikiran di atas, berdasarkanhasil riset perilaku dapat dikemukakan
sebagai berikut:
(1) Manajer masa kini
harus diberikan latihan dalam pemahaman prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen.
(2) Organisasi harus
menjalankan iklim vang mendatangkan kesempatan bagi karyawan untuk memuaskan
seluruh kebutuhan mereka.
(3) Unsur manusia adalah
faktor kunci penentu sukses atau kegagalan pencapaian tujuan organisasi.
(4) Komitmen dapat dikembangkan
melalui partisipasi dan keterlibatan para karyawan.
(5) Pola-pola pengawasan
dan manajemen positif yang menyeluruh mengenai karyawan dan reaksi mereka terhadap
pekerjaan.
(6) Pekerjaan setiap
karyawan harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan mereka mencapai kepuasan
diri dari pekerjaan tersebut.
2.
Teori Kuantitatif (management scince)
Teori
kuantitatif memfokuskan perhitunganmanajemen didasarkan atas
perhitungan-perhitungan yang dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya. Dalam
setiap pemecahan masalah harus terlebih dahulu diketahu masalahnya dengan
melakukan kegiatan-kegiatan riset ilmiah, riset operasional, teknik-teknik
ilmiah seperti kegiatan penganggaran modal, manajemen
aliran kas, pengembangan strategi produk, perencanaan program, pengembangan
sumber daya manusia dan sebagainya.
Pendekatan-pendekatan
semacam ini dikenal sebagai pendekatan manajemen scince atau ilmu manajemen
yang biasanya dengan prosedur dan langkah-langkah
sebagai berikut:
(1) Merumuskan
masalah.
(2) Menyusun model
matematik.
(3) Mendapatkan
penyelesaian dari model.
(4) Menganalisis model
dan hasil yang diperoleh dari model.
(5) Menetapkan
pengawasan atas hasil-hasil.
(6) Mengadakan
implementasi kegiatan.
Pemecahan
masalah manajemen dan pengambilan keputusan manajemen yang didasarkan atas
pendekatan kuantitatif ini harus memberikan dasar kepada manajer menyangkut
dasardasar pendekatan yang rasional.
E.
PENDEKATAN SISTEM MANAJEMEN
Sistem
dapat diartikan sebagai kumpulan dari bagianbagianyang saling berhubungan antar
satu dengan yang lainnya yang secara bersama-sama mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan subsistem itu sendiri adalah bagian kecil dari suatu sistem yang
lebih besar. Gambar 3 menunjukkan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang
salin terkait.
Manajemen
dapat dipandang sebagai suatu sistem terbukayang berinteraksi dengan lingkungannya
dalam proses mengubah input atau masukan sumber daya menjadi output atau
keluaran produk (barang dan jasa). Lingkungan input merupakan aspek yang
terpenting dalam suatu sistem terbuka. Lingkungan tersebut merupakan tempat
asal sumber daya sekaligus umpan balik dari pelanggan, yang berdampak terhadap
output organisasi. Umpan balik dalam lingkungan memberikan masukan bagi organisasi
tentang seberapa baik organisasi memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas.
Tanpa adanya keinginan konsumen untuk menggunanakan produk-produk organisasi,
sangat sulit bagi organisasi untuk beroperasi atau bertahan di bidang usahanya dalam
jangka panjang.
F.
PENDEKATAN KONTINGENSI
Sementara
pendekatan klasik, perilaku, dan kuantitatif berusaha mencari pendekatan-pendekatan
manajemen yang universal, dan dapat digunakan kapan dan di mana pun, pendekatan
kontingensi justru berusaha untuk menvusuaikan antara tanggapan manajerial dengan
peluang dan permasalahan yang ada dalam berbagai macam situasi. Dalam
pendekatan iniyang dicari bukanlahcara-cara terbaik untuk mengatasi
situasitersebut, melainkan berusaha membantu manajer untuk dapat memahami
perbedaanperbedaan situasional tersebut dan menanggapinya dengan cara-cara yang
tepat.
Implementasi
dari pendekatan kontingensi telahbanyak dipergunakan pada berbagai bidang dan
fungsi dalam organisasi seperti pemasaran, motivasi, kepemimpinan, strategi,
dan penetapan keputusan-keputusan
penting. Oleh karena itu, pendekatan kontingensi
lebih banyak
memasukan unsur lingkungan dalam melihat berbagai permasalahan.
Perubahanlingkungan yang begitu cepat menjadikan manajer sulit untuk menetapkan
suatu keputusan yang tepat. Pendekatan kontingensi mencoba memformulasikan kondisi
tersebut sehingga manajer dapat mencarikan jalan keluar dari permasalahan vang
ada.


Komentar
Posting Komentar