Pertumbuhan Ekonomi dan ICOR

BAB VI

PERTUMBUHAN EKONOMI DAN ICOR

1.        PENDAHULUAN


Seperti telah dibahas pada Bab V, pendapatan nasional  melalui  pendekatan pengeluaran dapat dirumuskan dalam bentuk Y = C + I + G + (X – M). Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan nasional dapat ditingkatkan melalui peningkatan unsur-unsur Konsumsi (C), Investasi (I), Belanja Pemerintah (G), Ekspor (X), dan melalui penurunan Impor (M). Tanda positif variabel  C,  I,  G,  dan X pada persamaan di atas menunjukkan antara Y (PDB  atau  PDRB) sebagai variabel terikat dengan C, I, G, dan X sebagai variabel  bebas  berkorelasi positif. Hal ini menunjukkan bahwa  jika C, I, G, dan X meningkat,  baik secara terpisah atau secara bersama-sama, akan berdampak pada meningkatnya Y atau PDB/PDRB. Sebaliknya, tanda negatif unsur ”M” pada persamaan di atas menunjukkan bahwa antara M dengan Y berkorelasi negatif. Artinya, jika M atau impor meningkat akan berdampak pada menurunnya Y atau PDB/PDRB.
Pada bab ini  akan dibahas bagaimana hubungan antara peningkatan unsur I (investasi) terhadap PDB/PDRB. Berdasar rumus di atas dapat  diketahui  bahwa meningkatnya atau menurunnya Y (PDB/PDRB), disebabkan oleh meningkatnya atau menurunnya variabel bebas C, I, G, X dan M. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa banyak faktor yang berpengaruh pada PDB/PDRB. Namun untuk membahas dampak berbagai variabel bebas tersebut secara bersama-sama akan menyulitkan analisis kita. Untukmemudahkan




analisis dampak perubahan variabel bebas terhadap variabel bebas, ilmu ekonomi telah berusaha menyederhanakan pembahasan, yakni dengan  membuat asumsi-asumsi. Penyederhanaan tersebut dilakukan dengan membahas pengaruh beberapa variabel bebas secara bergantian. Dalam kaitannya dengan permasalahan Y = C + I + G + (X – M) di atas, misalnya kita hanya membahas pengaruh C terhadap Y. Untuk pembahasan ini  variabel  di luar C dan Y (yakni I, G, X, dan M) diasumsikan tidak berubah (ceteris paribus). Dengan asumsi yang sama kita dapat membahas pengaruh I terhadap Y yang dalam hal ini  C, G, X, dan  M diasumsikan tidak berubah. Pembahasan seperti  itu dapat diteruskan hingga seluruh variabel bebas diketahui bagaimana pengaruhnya terhadap variabel terikat. Pada giliran berikutnya, baru dilakukan pembahasan pengaruh berbagai variabel bebas  secara  bersama-sama  terhadap variabelterikat.
Jika faktor investasi ternyata mempunyai kontribusi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi di suatu negara atau daerah dibandingkan dengan faktor lainnya, maka pemerintah dapat membuat perencanaan untuk meningkatkan modal dalam meningkatkan produktivitas perekonomian secara keseluruhan. Pada bab ini hanya akan dibahas hubungan korelasional antara variabel bebas I (investasi) dengan variabel terikat Y (PDB/PDRB).


a.        Pengertian PertumbuhanEkonomi

Kita perlu mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi untuk mengetahui bagaimana perkembangan produksi riil suatu negara. Pertumbuhan riil yang mencapai 100 persen mengindikasikan tingkat kesejahteraan masyarakat telah menjadi dua kali lipat dibanding sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dapat diketahui dari besarnya prosentase pertumbuhan ekonomi tahunan.40


40 McConnell, Campbell R. dan Brue Stanley L., Economics-Principles, Problems, and Policies,
edisi ke-13 (New York: McGraw-Hill, Inc., 1996). Hal. 379.




Selama ini, salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengetahui keadaan perekonomian di suatu negara atau daerah, adalah pertumbuhan ekonomi dengan melihat pertumbuhan PDB/PDRB. Secara lebih  rinci  sering pula diulas faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Menurut Sukirno, Pertumbuhan Ekonomi adalah suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam satu tahun tertentu dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan tersebut dinyatakan dalam bentuk prosentase. Dengan demikian jika seseorang mengatakan bahwa: ”Tahun 2007 ini pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah 6%,” maka yang dimaksud adalah bahwa perekonomian Indonesia, yakni PDB-nya, tahun 2007 meningkat sebesar 6% dibandingkan dengan PDB tahun 2006. Meningkatnya aktivitas perekonomian tersebut, yakni pendapatan nasionalnya, atau PDB-nya, harus dilihat atas dasar harga konstan. Dalam hal perekonomian suatu negara terjadi inflasi, maka unsur inflasinya harus dihilangkan dengan melakukan pendeflasian (ingat pembahasan di babIV).
Dalam membahas pertumbuhan ekonomi, kita  baru  membahasnya secara totalitas, yakni besaran PDB/PDRB secara total. Kita belum membahasnya lebih lanjut apakah PDB/PDRB tersebut terdistribusikan secara merata kepada seluruh rakyatnya. Pembahasan tentang pemerataan distribusi pendapatan nasional akan dibahas pada bab lain, yakni di babVII.
Rumus menghitung pertumbuhan PDB/PDRB adalah:


Text Box: • 100 %



di mana: g adalah tingkat pertumbuhan, Pnadalah PDB pada tahun yang diteliti, dan P(n-1)adalah PDB setahun sebelumnya.





Text Box: Berdasarkan data pada Tabel-5.1 dan Tabel-5.2, kita dapat menghitung pertumbuhan ekonomi dengan membandingkan PDB tahun tertentu  dengan  PDB tahun sebelumnya. Misalnya, data yang terdapat pada Tabel-5.1 dan Tabel-5.2 dapat dihitung pertumbuhan ekonomi tiap tahunnya sebagaiberikut.
Tabel-6.1    PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN2003-2006


TAHUN
PDB HARGA KONSTAN
(Rpmilyar)
PERTUMBUHAN
ABSOLUT
(Rpmilyar)
% tase
(g)
2002
1.505.213


2003
1.577.166
71.953
4,78*)
2004
1.656.513
79.347
5,03
2005
1.750.653
94.140
5,68
2006
1.846.651
95.998
5,48


*) Contoh cara penghitungan tahun 2003:

g 1.577.166 1.505.213 100%
1.505.213



g    71.953
1.505.213

· 100%



g = 4,78%


b.        Pengertian Incremental Capital Output Ratio(ICOR)

Pada bagian ini kita bahas hubungan antara peningkatan  unsur  I (investasi) terhadap PDB/PDRB yang dikenal dengan  Incremental  Capital Output Ratio (ICOR). Secara definisi, ICOR adalah suatu ukuran yang menunjukkan besarnya tambahan investasi baru yang diperlukan untuk meningkatkan output sebesar satu unit. Sebagai contoh, jika diketahui ICOR = 4,18, menunjukkan bahwa setiap pertambahan PDB sebesar satu  unit dibutuhkan tambahan investasi sebesar 4,18 unit. Untuk ini diasumsikan bahwa variabellain(selainI–investasi)yakniC,G,X,danMtidakberubah.Dengan




asumsi ini banyak pihak menganggap sebagai kelemahan dari perencanaan pembangunan dengan pendekatan ICOR.


c.         PengertianInvestasi

BPS yang mengacu pada konsepsi pendapatan nasional pada A System of National Account (UN, 1968), mengemukakan bahwa investasi adalah selisih antara stok kapital pada tahun tertentu (t) dikurangi dengan stok kapital pada tahun sebelumnya (t-1). Dengan demikian maka setiap terjadi penambahan  modal dianggap sebagai investasi. Oleh karena itu, besarnya investasi pada tahun tertentu dicerminkan oleh besarnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).
Dalam pengertian PMTB antara lain meliputi pengadaan, pembuatan, dan pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan pembelian barang modal baru maupun bekas dari luar negeri. Termasuk di dalam PMTB ini adalah perbaikan besar barang modal yang mengakibatkan bertambahnya umur pemakaian atau meningkatkan kapasitas operasi barang modal tersebut, dikurangi dengan penjualan barang modal yang sudah ada.41  Untuk memudahkan pemahaman, PMTB ini dapat disamakan dengan ”belanja modal” pada anggaran belanja pemerintah. Barang yang dikategorikan sebagai barang modal mempunyai ciri-ciri sebagaiberikut:42
a.    Mempunyai umur ekonomis lebih dari satutahun;

b.    Nilai barang modal relatif besar dibandingkan dengan output yang dihasilkannya secara rutin selama periodetertentu;
c.   Dapat digunakan berulangkali dalam prosesproduksi.





Secara lebih rinci, jenis barang modal meliputi:

1).  Barang modal dalam bentuk bangunan, jalan raya, jembatan, instalasi listrik, jaringan komunikasi, bendungan irigasi, pelabuhan, danlain-lain.
2).  Barang modal dalam bentuk mesin dan peralatan, baik untuk keperluan pabrik, kantor, maupun untuk usaha rumahtangga.
3).  Alat-alattransportasi.
4).  Biaya yang dikeluarkan untuk perubahan dan perbaikan barang modal yang dapat meningkatkan produktivitas atau memperpanjang umur pemakaian barang modal tersebut.
5).  Pengeluaran untuk pengembangan dan pembukaan lahan baru, perluasan hutan, penghutanan kembali, serta penanaman dan peremajaan pohon perkebunan.
6) Pembelian ternak produktif untuk keperluan perbaikan, pemerahan susu, pengangkutan, dan sebagainya (tidak termasuk ternak konsumsi)


2.        RUMUS ICOR DANPENERAPANNYA


Text Box: ICOR = .

DY
 
I
 
Secara teoritis, terdapat beberapa rumus yang yang dapat  digunakan  dalam menghitung ICOR. Masing-masing rumus digunakan untuk tujuan dan asumsi masing-masing pula.43 Dalam modul ini hanya dikemukakan satu rumus saja,yakni:

Di mana:

ICOR
=
angka    yang    menunjukkan   besarnya    tambahan    investasi    yang

I

=
diperlukan untuk meningkatkan satu unit output pada tahun t
Besarnya tambahan investasi pada tahun t
OY
=
Besarnya tambahan output (PDB atau PDRB) pada tahun t





Dengan rumus tersebut diasumsikan bahwa investasi yang dilakukan dalam tahun itu langsung dapat menghasilkan PDB/PDRB pada tahun yang bersangkutan.44
Contoh Penghitungan:

Misalkan di Provinsi Kalimantan Tengah, PDRB menurut jenis pengeluaran atas dasar harga konstan 2000 tahun 2005-2006 adalah sebagaiberikut:
Tabel-6.2     PDRB MENURUT JENIS PENGELUARAN ATAS DASAR HARGA KONSTAN2000PROVINSIKALIMANTANTENGAHTAHUN2005- 2006 (RPMILYAR)

Jenis Pengeluaran
2005
2006
Konsumsi Rumah Tangga
7.097
7.430
Konsumsi Pemerintah
2.292
2.463
Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi)
4.850
5.487
Stok Barang Dagangan
1.099
975
Ekspor Barang & Jasa
4.561
5.069
(Impor)
(5.867)
(6.574)
PDRB
14.032
14.850

Sumber Data: Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah45 (istilah jenis pengeluaran disesuaikan)


Berdasarkan data PDRB tersebut dapat diketahui bahwa investasi tahun 2005 sebesar Rp4.850.000.000.000,00 dan tahun 2006 Rp5.487.000.000.000,00.
PDRB tahun 2005 sebesar Rp14.032.000.000.000,00 dan tahun 2006 sebesar Rp14.850.000.000.000,00 . Dari data tersebut dapat dicari perubahan masing- masing jenis pengeluaran dan prosentase perubahannya sebagai berikut.








Tabel-6.3  PERUBAHAN PDRB MENURUT JENIS PENGELUARAN ATAS DASAR HARGAKONSTAN2000PROVINSIKALIMANTANTENGAHTAHUN2005- 2006 (RPMILYAR)


Jenis Pengeluaran
2005 (Rp)
2006 (Rp)
Perubahan
2006 -2005 (Rp)
% tase Perubahan
Konsumsi Rumah Tangga
7.097
7.430
333
4,69
Konsumsi Pemerintah
2.292
2.463
171
7,46
Pembentukan Modal Tetap (Investasi)
4.850
5.487
637
13,13
Penambahan (Penurunan) Stok
1.099
975
-124
-11,28
Ekspor Barang & Jasa
4.561
5.069
508
11,14
(Impor)
(5.867)
(6.574)
-707
12,05
PDRB
14.032
14.850
818
5,83


Dari Tabel-6.3 diketahui bahwa pada tahun 2006  terdapat  penambahan investasi sebesar Rp637.000.000.000,00 dibanding tahun 2005  dan  PDRB tahun 2006 naik sebesar Rp818.000.000.000,00 dibanding tahun 2005. Atas dasar data ini dapat dihitung ICOR tahun 2006 sebagaiberikut:



 ICOR =

637  0,778729
818



Angka ICOR sebesar 0,778729 menunjukkan bahwa jika ingin meningkatkan PDRB sebesar Rp1.000.000.000,00 diperlukan tambahan investasi sebesar: 0,778729 X Rp1.000.000.000,00 = Rp778.728.606,00.

3.         MANFAAT ICOR DALAM PERENCANAAN EKONOMIMAKRO


Perencanaan pembangunan pada dasarnya akan ditentukan oleh kemampuan penyediaan sumber dana, untuk diinvestasikan guna mencapai laju pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan yang hendak dicapai. Untuk keperluan analisis ini, konsep ICOR dapat dimanfaatkan. ICOR bermanfaat untuk memperkirakan kebutuhan dana, baik untuk perencanaan PDB atau PDRB secara menyeluruh maupunsektoral.




Misalkan, untuk kasus PDRB Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, jika kondisi pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah tahun 2006 diperkirakan terjadi juga pada tahun 2007 dan 2008, maka proyeksi PDRB (tanpa perencanaan ICOR) tahun 2007 dan 2008 nampak sebagaiberikut.
Tabel-6.4       PROYEKSIPDRB(TANPAPERENCANAANICOR)PROVINSI KALIMANTANTENGAHTAHUN2007DAN2008(RPMILYAR)

Jenis Pengeluaran
2005 (Rp)
2006 (Rp)
Proyeksi
2007(Rp)
2008(Rp)
Konsumsi Rumah Tangga
7.097
7.430
7.778*)
8.143**)
Konsumsi Pemerintah
2.292
2.463
2.647
2.844
Pembentukan Modal Tetap (Investasi)
4.850
5.487
6.207
7.022
Penambahan (Penurunan) Stok
1.099
975
865
767
Ekspor Barang & Jasa
4.561
5.069
5.634
6.261
(Impor)
(5.867)
(6.574)
-7.366
-8.254
PDRB
14.032
14.850
15.765
16.684

Sumber Data: simulasi oleh penulis

Penjelasan perhitungan proyeksi tahun 2007 dan 2008 untuk jenis pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga adalah sebagai berikut:
7.430  (100  4,69)  7.778
*)                      100





**)

7.778  (100  4,69)  8.143
100




Anggaplah kita sedang berada pada pertengahan tahun 2007, di mana data PDRB tahun 2006 telah diketahui dan PDRB tahun 2007 diproyeksikan seperti nampak pada Tabel-6.3. Misalkan, Pemerintah Provinsi Kalimantan  Tengah  tidak puas dengan pertumbuhan PDRB tahun 2008 yang hanya 5,83% (lihat Tabel-6.2) dan ingin meningkatkannya menjadi sebesar 10% dibanding proyeksi PDRB tahun 2007. Dengan asumsi pertumbuhan jenis pengeluaran  sama dengan yang terjadi pada tahun 2006, maka penambahan PDRB tahun 2008 dapat dihitung sebagaiberikut:




·     PDRB tanpa tambahan investasi (perhitunganICOR):                       Rp 16.684
·     PDRB yang diinginkan: 110% X  16.684…………………….:        Rp18.352
·     Tambahan PDRB yang diinginkan…………………………  :           Rp 1.668


Dengan tambahan PDRB yang  diinginkan  sebesar  Rp1.668.000.000.000,00 dan ICOR sebesar 0,778729, maka kebutuhan tambahan investasi adalah: 0,778729    X    Rp1.668.000.000.000,00    =    Rp1.298.000.000.000,00.Dengan
demikian jumlah investasi yang harus ditanamkan di tahun 2008 seluruhnya adalah:                         Rp7.022.000.000.000,00+               Rp1.298.000.000.000,00               =
Rp8.320.000.000.000,00. Dengan efek pengganda (multiplier) dalam kegiatan ekonomi, diharapkan dalam tahun 2008 itu juga dihasilkan tambahan PDRB sebesar Rp1.668.000.000.000,00 sehingga PDRB secara keseluruhan tahun 2008 menjadi sebesarRp18.352.000.000.000,00.
Berikut ini disajikan hasil perhitungan ICOR oleh BPS untuk beberapa bidang sebagai berikut:
Tabel-6.5  ICORMENURUTLAPANGANUSAHADIDKIJAKARTA TAHUN TAHUN1996-1999

No
Lapangan Usaha
ICOR
1
Pertanian
6,57
2
Industri Pengolahan
0,48
3
Listrik, gas, air bersih
10,07
4
Bangunan
0,73
5
Perdagangan, hotel, restoran
4,29
6
Pengangkutan dan komunikasi
1,60
7
Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan
0,04
8
Jasa-jasa
2,92
9
Jasa Pemerintahan
7,01
10
Jasa Pemerintahan Lainnya
1,23

Total
1,86
Sumber Data: BPS, Incremental Capital Output Ratio DKI Jakarta 1996-1999




Daftar ICOR untuk industri pengolahan nasional menurut jenis industri tahun 1980-1990 adalah sebagai berikut.
Tabel-6.6      ICORSEKTORINDUSTRIPENGOLAHANNASIONAL MENURUT JENIS INDUSTRITAHUN 1980-1990

No
Jenis Industri
ICOR
1
Industri Makanan
1,86
2
Industri Tekstil
4,58
3
Industri Kayu
5,22
4
Industri Kertas
5,68
5
Industri Kimia
4,62
6
Industri Galian Non Logam
6,87
7
Industri Logam Dasar
3,83
8
Industri Barang Dari Logam
3,17
9
Industri Pengolahan Lain
2,85

Total
4,18

Sumber : BPS, Incremental Capital Output Ratio Sektor Industri, 1980-1990


4.        MEMAHAMI ICOR


Berdasar pengertian ICOR dapat diketahui bahwa semakin kecil angka ICOR berarti investasi yang dilakukan semakin efisien. Misalnya untuk investasi pada tahun dan kondisi yang sama, di  Kabupaten Baros  ICOR = 5, sedangkan  di Kabupaten Bagindo ICOR = 7. Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Baros, untuk mendapatkan tambahan PDB Rp1,00 diperlukan  tambahan investasi sebesar Rp5,00. Sedangkan di Kabupaten Bagindo diperlukan tambahan investasi sebesar Rp7,00. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa untuk melakukan investasi, kondisi perekonomian di Kabupaten Baros lebih kondusif dan lebih efisien dibandingkan dengan di KabupatenBagindo.
Hal-hal yang mempengaruhi besar-kecilnya ICOR ialah sebagai berikut:

a.    BentukInvestasi

Untuk investasi yang bersifat padat karya yang kurang memerlukan banyak modal, ICOR-nya relatif lebih rendah. Di lain pihak, investasi yang bersifat padat modal yang banyak memerlukan modal, ICOR-nya lebihbesar.




b.    Umur EkonomiInvestasi

Untuk investasi yang masa manfaatnya panjang biasanya  memerlukan jumlah modal yang diinvestasikan juga besar. Dengan  demikian  karena masa pengembalian modalnya memerlukan waktu yang  panjang,  maka ICOR akan semakin besar. Sebaliknya untuk investasi yang masa  manfaatnya pendek ICOR-nya akan kecilpula.
c.    Pemanfaatan Kapasitas Produksi

Untuk investasi yang pemanfaatan kapasitas produksinya rendah, berarti terdapat kapasitas yang menganggur, maka dengan jumlah investasi yang besar hanya diperoleh output yang kecil. Hal ini berdampak pada ICOR yang besar. Sedangkan untuk investasi yang beroperasi secara  penuh  yang berarti tidak ada barang modal yang menganggur, ICOR-nya lebihrendah.
d.    Ekonomi BiayaTinggi

Bentuk ekonomi biaya tinggi ini antara lain adalah: budaya kerja yang boros, prosedur kerja yang berbelit-belit, pungutan liar yang  membebani perusahaan, kerusakan sarana transportasi, dan sebagainya. Oleh  karena itu, untuk mendorong efisiensi investasi, diperlukan tekad yang kuat bagi pemerintah untuk menghilangkan atau meminimalkan ekonomi biaya tinggi tersebut. Pungutan liar akan menjadikan investasi semakin mahal sehingga untuk menghasilkan tambahan output (PDB) Rp1,00 investor harus mengeluarkan uang lebih banyak. Untuk dapat menarik minat investasi ke suatu daerah, maka pemerintah daerah harus bersaing dengan daerah lain dengan memberikan pelayanan yang lebih baik. Pelayanan tersebut antara lain dengan mempermudah proses perizinan, menghilangkan pungutan- pungutan, menjaga stabilitas keamanan, adanya kepastian hukum, dan lain sebagainya.




5.        LATIHAN


1)  Jelaskan apa yang dimaksud dengan pertumbuhanekonomi.

2)  Jelaskan apa yang dimaksud denganICOR.

3)    Jelaskan apa yang dimaksud dengan investasi dalam pembahasan ekonomimakro.
4)  Jelaskan apa peran ICOR dalam perencanaan ekonomimakro.

5)  Jelaskan apa yang dimaksud angka-angka ICOR pada Tabel 6-5 diatas

6)  Jelaskan penyebab besar atau kecilnyaICOR.

7)    Berdasarkan data pada Tabel-3, hitung pertumbuhan ekonomi tahun 2006 menurut lapangan usaha

8)    Berdasarkan Tabel-10, jelaskan apa arti ICOR pada masing-masing jenis industri yangbersangkutan.

Komentar

Postingan Populer