Pendapatan Nasional
BAB V
PENDAPATAN NASIONAL
Tujuan
Pembelajaran
Setelah mempelajari babini
para peserta diharapkan mampu memahami pengertian
pendapatan nasional, pendekatan, hierarki dan metode
penghitungannya, serta kelemahan konsep pendapatan nasional.
1.
PENGERTIAN
PENDAPATANNASIONAL
Lipsey dan Steiner mendefinisikan
Pendapatan Nasional sebagai nilai dari seluruh
produk yang dihasilkan oleh seluruh pelaku
ekonomi dalam
suatu negara selama satu
tahun. Nilai yang dimaksud dalam perhitungan pendapatan nasional adalah nilai
jual, dengan sendirinya termasuk pajak-pajak yang timbul atas transaksi
penjualan barang/jasa tersebut.31 Pendapatan nasional
dapat juga disebut sebagai Produk Nasional. Produk nasional mengindikasikan nilai jual dari seluruh produk yang dihasilkan,
sedangkan Pendapatan Nasional mengindikasikan jumlah yang dibayarkan oleh
seluruh pelaku ekonomi untuk
menghasilkan produk tersebut.32 Sedangkan menurut Badan Pusat
Statistik (BPS), Pendapatan Nasional adalah pendapatan bersih seluruh warga
negara dari suatu negara selama satutahun.33
2.
PENDAPATAN
NASIONAL DAN KESEJAHTERAANMASYARAKAT
Karena pendapatan nasional adalah
nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh seluruh pelaku ekonomi dalam suatu negara, maka besaratau
kecilnya pendapatan nasional dapat dilihat sebagai
gambaran tentang tingkat kesejahteraan masyarakat di negara yang bersangkutan. Penghitungan pendapatan nasional
dilakukan setiap tahun, untuk mengetahui perkembangan tingkat kesejahteraan
masyarakatnya. Oleh karena itu
pemerintah selalu berusaha untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional.
Namun demikian pertumbuhan ekonomi
yang hanya diukur dengan pendapatan nasional tidak linier atau tidak
berkorelasi positif dengan kesejahteraan masyarakatnya. Pendapatan nasional
yang meningkat dari tahun ke tahun belum tentu diikuti dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakatnya. Kesejahteraan
masyarakat pada umumnya akan ikut meningkat, jika meningkatnya pendapatan
nasional diikuti oleh pemerataan di antara penduduknya. Oleh karena itu,
seharusnya sasaran pemerintah tidak hanya pada
meningkatnya pendapatan nasional, melainkan harus diikuti dengan upaya
pemerataan. Hal-hal yang menyebabkan tidak paralelnya konsep pendapatan
nasional dengan kesejahteraan masyarakat, dibahas pada butir 8 bab ini tentang
kelemahan dalam konsep pendapatan nasional. Sedangkan tentang pemerataan hasil
pembangunan dibahas pada babVII.
3.
PENDEKATAN
PENGHITUNGAN PENDAPATANNASIONAL
Lipsey dan Steiner mengemukakan
bahwa penghitungan Pendapatan Nasional dapat dilakukan melalui dua pendekatan,
yaitu Pendekatan Pengeluaran
(pengeluaran uang dari rumah tangga
ke perusahaan) dan Pendekatan Produksi (nilai produk seluruh perusahaan yang
diserahkan ke rumah tangga). BPS juga menerapkan dua pendekatan tersebut. Tidak
ada perbedaan hasil penghitungan dari dua pendekatan ini karena kedua
pendekatan tersebut sebenarnya menghitung besarnya aliran pendapatan
yang sama. Perbedaannya hanya karena
titik aliran tempat melakukan penghitungan. Dari Gambar-2.1 Bab II dapat
diketahui bahwa sebenarnya terdapat empat pendekatan. Dengan demikian selain
dua pendekatan tersebut masihterdapat
dua pendekatan lagi, yaitu Pendekatan Biaya Faktor
Produksi dan Pendekatan Pendapatan. Secara akuntansi, dari empat pendekatan
tersebut seharusnya menghasilkan angka yang sama.
4.
HIERARKI
PENGHITUNGAN PENDAPATAN DANARTINYA
Ada
enam istilah yang berhubungan dengan Pendapatan Nasional,yaitu:
(1)
Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product = GDP),34(2) Produk Nasional Bruto (Gross National Product = GNP), (3)
Produk Nasional Neto (Net National
Product = NNP), (4) Pendapatan Nasional (National Income = NI), (5)Pendapatan
Perorangan (Personal Income = PI),
dan (6) Pendapatan Disposibel (Disposable
Income = DI).35 Masing-masing istilah tersebut berhubungan
antara satu dengan lainnya. Dengan demikian dalam mendiskusikan masalah
pendapatan nasional ini perlu ada kejelasan terlebih dahulu, istilah mana yang
dibicarakan, agar jelas masalahnya. Urutan pengertiannya dibicarakan di bawah
ini.
Produk Domestik Bruto (PDB) adalah
nilai pasar (termasuk pajak tak langsung) yang diterima oleh seluruh pelaku
ekonomi yang lokasinya berada di dalam
negeri suatu negara. Karena hanya memperhatikan lokasi dalam negeri, maka tidak termasuk pendapatan warga
negara yang bekerja di luar negeri,
tetapi termasuk yang diperoleh warga negara asing di dalam negeri. PDB ditambah penghasilan warga negara di luar negeri dan dikurangi penghasilan
warga negara asing yang bekerja di dalam negeri
disebut Produk Nasional Bruto (PNB). Produk Nasional Neto
(PNN) adalah PNB dikurangi penyusutan
atas pemakaian peralatan yang dipakai untuk menghasilkan PNB tersebut.
PNN dikurangi pajak tak langsung disebut Pendapatan Nasional (PN). Dengan
demikian PN adalah pendapatan bersih dari faktor-faktor produksi,termasuk
laba perusahaan. Pendapatan Perorangan (PP) adalah
pendapatan bagi seluruh individu warga negara yang tersedia untuk dikonsumsi,
untuk ditabung, dan untuk membayar pajak
perorangan. Dengan demikian PP adalah PN dikurangi dengan laba perusahaan yang
tidak dibagi (laba ditahan), dikurangi pajak atas laba perusahaan, ditambah
dengan subsidi yang dibayar oleh
pemerintah kepada masyarakat. Sedangkan Pendapatan Disposibel (PD)
adalah PP dikurangi pajak pribadi, yaitu pendapatan seluruh individu yang siap
untuk dikonsumsi dan ditabung. Secara diagram, Hierarki Penghitungan Pendapatan
untuk Indonesia dapat dikemukakan sebagaiberikut:
Produk Domestik Bruto
(PDB)
----------------------------------------------
ditambah:
Pendapatan WNI di LN
dikurang:
Pendapatan WNA di DN
-----------------------------------------------
=
Produk Nasional Bruto
(PNB)
dikurang:
Depresiasi
-----------------------------------------------
=
Produk Nasional Neto
(PNN)
dikurang: Pajak
tak langsung
-----------------------------------------------
=
Pendapatan
Nasional (PN) ditambah: Subsidi
kepada masyarakat dikurang: - Laba
ditahan
- Pajak atas laba
-----------------------------------------------
=
Pendapatan Perorangan
(PP)
dikurang:
Pajak pribadi
----------------------------------------------
=
Pendapatan Disposibel
(PD)
Pembagian atas pengertian berbagai
pendapatan tersebut dimaksudkan agar pihak-pihak yang berkepentingan dapat
memilih pendapatan mana yang dipandang relevan dengan kepentingannya.
Negara-negara maju lebih mementingkan Produk Nasional Bruto (PNB) dalam
melakukan analisis dan mengambil patokan-patokan kebijakan makro,36
sedangkan Indonesia lebih
memanfaatkan Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagai
contoh, dikemukakan oleh Gordon dan
Dawson bahwa GNP Amerika Serikat tumbuh enam
kali lipat sejak tahun 1929 hingga tahun 1989, padahal pertumbuhan jumlah
penduduk tidak sampai dua kali lipat. Di Indonesia, penerimaan pajak, besarnya
defisit APBN, besarnya belanja menurut sektor, program, biasanya didasarkan
atas besarnya Produk Domestik Bruto (PDB). 37PDB pada tingkat regional (provinsi, kabupaten/kota)
disebut PDRB (Pendapatan Domestik RegionalBruto).
5.
METODE
PENGHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL DIINDONESIA
BPS menghitung pendapatan nasional
melalui dua pendekatan, yaitu Pendekatan Produksi dan Pendekatan Pengeluaran,
yang keduanya menghasilkan jumlah yang sama.
Dengan Pendekatan Produksi, dijumlahkan seluruh nilai produksi yang
dikelompokkan ke dalam sembilan lapangan usaha yang meliputi (1) Pertanian,
Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan, (2) Pertambangan
dan Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4)
Listrik, Gas, dan Air Bersih,
(5) Bangunan, (6) Perdagangan, Hotel, dan Restoran, (7) Pengangkutan dan
Komunikasi, (8) Keuangan, Persewaan,
dan Jasa Perusahaan, dan (9) Jasa-jasa. Sedangkan dengan Pendekatan Pengeluaran
dihitung pengeluaran menurut jenis pengeluaran sebagaimana yang lazim dirumuskan dalam bentuk: Y = C + I
+ G + (X – M), dimana:
|
Y
|
=
|
PDB
|
G
|
=
|
Belanja
pemerintah
|
|
C
|
=
|
Belanja
konsumsi
|
X
|
=
|
Ekspor
|
|
I
|
=
|
Belanja
investasi
|
M
|
=
|
Impor
|
Untuk ini BPS mengelompokkan pengeluaran (belanja)
ke dalam enam jenis pengeluaran karena I (investasi) dipisah ke dalam dua
kelompok, yakni
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto dan Perubahan
Stok (persediaan barang). Dengan demikian pengelompokan jenis pengeluaran
menurut BPS meliputi: (1) Konsumsi Rumah Tangga, (2) Konsumsi Pemerintah, (3)
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto, (4) Perubahan Stok, (5) Ekspor
Barang/Jasa, dan (6) Impor Barang/Jasa.
Dalam menghitung PDB pendekatan
produksi, yang dihitung adalah nilai tambah bruto yang diberikan oleh
perusahaan dalam proses produksinya. Nilai tambah tersebut diperoleh dari
perkalian jumlah produksi dengan harga barang yang bersangkutan, selanjutnya
dikurangi dengan biayaantara, yakni nilai bahan yang dipergunakan dalam proses
produksi. PDB adalah jumlah dari nilai tambah bruto (belum dikurangi penyusutan
alat produksi) dari seluruh pelaku ekonomi di dalam negeri selama satu tahun.
Karena PDB hanya menghitung nilai produk di dalam negeri, maka di dalam PDB
termasuk pendapatan warga negara asing di dalam negeri, tetapi belum termasuk
pendapatan warga negara sendiri di luar negeri (perhatikan hierarki perhitungan
di atas). Data tersebut dikumpulkan oleh kantor-kantor statistik di kabupaten/kota
yang selanjutnya dikompilasi oleh BPS pusat.
6.
KONDISI PENDAPATAN
NASIONAL DI INDONESIA
Di bawah ini disajikan PDB di
Indonesia dengan pendekatan pengeluaran dari tahun 2002 s.d. 2006 berdasarkan
harga konstan tahun 2000. (Catatan: Jika terdapat perbedaan angka pada bilangan
akhir dalam tabel, hanya disebabkan oleh pembulatan).
Tabel-5.1 PDBPENDEKATANPENGELUARANATASDASARHARGAKONSTAN
TAHUN 2000 MENURUT JENISPENGELUARAN (MILYAR RUPIAH)
|
JENIS PENGELUARAN
|
TAHUN
|
|||||
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
||
|
1
|
Pengeluaran Konsumsi
Rumah Tangga
|
920.749
|
956.593
|
1.004.109
|
1.043.805
|
1.078.928
|
|
2
|
Pengeluaran Konsumsi
Pemerintah
|
110.333
|
121.404
|
126.248
|
134.625
|
147.563
|
|
3
|
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto
|
307.584
|
309.431
|
354.865
|
399.177
|
404,606
|
|
4
|
Perubahan Stok
|
13.087
|
45.996
|
25.099
|
18.652
|
13.095
|
|
5
|
Deskrepancy
statistik
|
9.546
|
-26.895
|
8.757
|
4.319
|
24.035
|
|
6
|
Ekspor Barang/jasa
|
566.188
|
599.516
|
680.621
|
785.998
|
862.504
|
|
7
|
Impor barang/Jasa
|
422.271
|
428.874
|
543.183
|
635.920
|
684.077
|
|
|
Produk Domestik Bruto
|
1.505.216
|
1.577.171
|
1.656.516
|
1.750.656
|
1.846.654
|
Sumber Data:
Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia 2007
Sedangkan PDB dengan pendekatan produksi dari tahun
2002 s.d. 2006 pendekatan produksi adalah sebagai berikut.
Tabel-5.2 PDBPENDEKATANPRODUKSIATASDASARHARGAKONSTAN
TAHUN2000MENURUTLAPANGANUSAHA(MILYARRUPIAH)
|
LAPANGAN USAHA
|
TAHUN
|
|||||
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
||
|
1
|
Pertanian,Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan
|
231.613
|
240.387
|
247.163
|
253.726
|
261.296
|
|
2
|
Pertambangan & Penggalian
|
169.932
|
167.603
|
160.100
|
165.085
|
168.729
|
|
3
|
Industri Pengolahan
|
419.387
|
441.754
|
469.952
|
491.421
|
514.192
|
|
4
|
Listrik, Gas, & Air Bersih
|
9.868
|
10.349
|
10.897
|
11.584
|
12.263
|
|
5
|
Bangunan
|
84.469
|
89.621
|
96.334
|
103.483
|
112.762
|
|
6
|
Perdag, Hotel, Dan Restoran
|
243.266
|
256.516
|
271.142
|
293.877
|
311.903
|
|
7
|
Pengangkutan Dan
Komunikasi
|
76.173
|
85.458
|
96.896
|
109.467
|
124.399
|
|
8
|
Keuangan, Persewaan & Jasa
|
131.523
|
140.374
|
151.123
|
161.384
|
170.495
|
|
9
|
Jasa-jasa
|
138.982
|
145.104
|
152.906
|
160.626
|
170.612
|
|
|
Produk Domestik Bruto
|
1.505.213
|
1.577.166
|
1.656.513
|
1.750653
|
1.846.651
|
Sumber Data:
Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia 2007
Berdasar Tabel-5.1 dan Tabel-5.2
diketahui bahwa dengan dua pendekatan,
yakni Pendekatan Pengeluaran (Tabel-5.1) dan Pendekatan Produksi (Tabel-5.2)
diperoleh hasil (PDB) yang sama. Selanjutnya, dari PDB dapat diteruskan
penghitungannya sampai diperoleh Pendapatan
Nasional seperti nampak pada Tabel-5.3 berikutini.
Tabel-5.3 PENGHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL
ATAS
DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2000 (MILYAR RUPIAH)
|
URAIAN
|
TAHUN
|
|||||
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
2006
|
||
|
1
|
Produk Domestik Bruto
|
1.505.213
|
1.577.166
|
1.656.513
|
1.750.653
|
1.846.651
|
|
2
|
Pendapatan Neto thd Luar
Negeri atas Faktor Produksi*)
|
-56.357
|
-81.230
|
-80.468
|
-107.381
|
-115.452
|
|
3
|
Produk Nasional Bruto
|
1.448.856
|
1.495.936
|
1.576.045
|
1.643.272
|
1.731.199
|
|
4
|
Penyusutan(depresiasi)
|
-75.260
|
-78.858
|
-82.825
|
-87.532
|
-92.332
|
|
5
|
Produk Nasional Neto
|
1.373.596
|
1.417.078
|
1.493.220
|
1.555.740
|
1.638.867
|
|
6
|
Pajak Tidak Langsung Neto
|
-57.684
|
-65.876
|
-46.040
|
-34.580
|
-55.422
|
|
|
Pendapatan Nasional
|
1.315.912
|
1.351.202
|
1.447.180
|
1.521.160
|
1.583.445
|
*)PendapatanNetoterhadapLuarNegeriatasFaktorProduksiadalahpendapatanWNAdi
Indonesia dikurangi dengan pendapatan WNI di luarnegeri
Sumber Data:
Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia 2007
BPS menerbitkan data PDB dan
pendapatan nasional baik atas dasar
harga berlaku maupun harga konstan. PDB atas dasar harga berlaku dapat dilihat pada daftar terlampir. Yang
dimaksud dengan PDB atas dasar harga berlaku adalah PDB yang dihitung
berdasarkan harga-harga yang benar-benar terjadi pada tahun dilakukan survey,
sehingga di dalamnya termasuk unsur inflasi. Sedangkan yang dimaksud dengan
PDB atas dasar harga konstan adalah PDB yang unsur inflasinya telah dihilangkan.
Harga konstan yang nampak pada tabel di atas adalah harga konstan tahun
2000, berarti unsur inflasi pada tahun 2002 hingga 2006
telah dihilangkan. Dengan katalain,
harga-harga pada tahun 2002 – 2006 dinyatakan sama
dengan harga pada tahun 2000. Karena
unsur inflasinya telah dihilangkan,
maka PDB dengan harga konstan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan PDB menurut harga
berlaku (bandingkan angka-angka PDB di atas dengan PDB pada daftar terlampir).
Pertumbuhan PDB yang mencerminkan
adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah PDB berdasar harga konstan.
Peningkatan PDB atas dasar harga berlaku hanya mengindikasikan peningkatan nilai
nominal, bukan nilai riil dari pendapatan masyarakat. Cara menghilangkan
unsur inflasi adalah dengan mendeflasikan harga berlaku sebesar tingkat inflasi
yang terjadi pada tahun
yangbersangkutan.
7.
SEKILAS TENTANGINFLASI
Untuk memahami inflasi, secara
singkat dapat dikemukakan bahwa inflasi adalah suatu kondisi perekonomian di
mana harga-harga pada umumnya naik. Sedangkan kondisi sebaliknya, di mana
harga-harga pada umumnya turun,
disebut deflasi.38 Penyebab inflasi pada umumnya dapat dikelompokkan
ke dalam dua kategori, yaitu: (a)
Inflasi Tarikan Permintaan (demand pull
inflation) dan (b) Inflasi Desakan Biaya (cost push inflation). Inflasi tarikan permintaan terjadi karena ada peningkatan permintaan agregat.
Bertambahnya jumlah uang beredar juga dapat mengakibatkan inflasi tarikan
permintaan. Data tentang perkembangan jumlah uang beredar di Indonesia dapat dilihat pada daftar
terlampir. Sedangkan inflasi desakan biaya terjadi karena adanya peningkatan
biaya produksi pada umumnya, sehingga perusahaan mengurangi
jumlah barang yangdiproduksi.
McConnel dan Brue menyatakan bahwa
pengurangan produksi ini terjadi karena dalam kondisi biaya-biaya faktor
produksi naik, biaya produksi (average
38 Samuelson, Paul A dan William Samuelson, hal. 255.
cost)
per unitnya meningkat sehingga berdampak pada
turunnya keuntungan, atau bahkan mengakibatkan kerugian. Dalam kondisi yang lebih parah, perusahaan menutup
usahanya, yang berarti penawaran agregatberkurang.39
Dampak inflasi, pada umumnya
merugikan masyarakat, baik produsen maupun konsumen. Pemerintah berkewajiban
untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengendalikan
inflasi. Pada tahun 2008, pemerintah menargetkan inflasi dapat ditekan pada
tingkat 6,0%. Melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999, Bank Indonesia
ditugasi untuk memelihara kestabilan
nilai rupiah melalui kebijaksanaan moneter, menjaga
kelancaran sistem pembayaran, dan mengatur/mengawasibank.
Dalam rangka menetapkan dan
melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia berwenang:
a. menetapkan
sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi
yangditetapkannya;
b. melakukan
pengendalian moneter, antara lainmelalui:
1)
operasi pasar terbuka
(menjual/membeli surat-surat berharga seperti sertifikat bank indonesia (SBI),
obligasi pemerintah, dan atau surat
utang negara yang sering disebut dengan SUN) di pasar uang baik rupiah maupun valutaasing;
2)
penetapan tingkat
diskonto (bungauang);
3)
penetapan cadangan
wajibminimum;
4)
pengaturan kredit
ataupembiayaan.
Untuk dapat melakukan pengendalian moneter, Bank
Indonesia diperkenankan juga melaksanakan prinsip-prinsip syariah.
8.
KELEMAHAN DALAM KONSEP
PENDAPATANNASIONAL
Sekalipun konsep pendapatan
nasional telah banyak memberikan manfaat dalam melakukan perencanaan, baik bagi pemerintah maupun para pelaku bisnis, namun terdapat juga beberapa kelemahan, antaralain:
a. Tidak
menghitung produk-produk nontransaksi
Karena Pendapatan Nasional hanya berorientasi pada
harga jual, maka Pendapatan Nasional tidak menghitung nilai-nilai dari
pekerjaan yang tidak dipasarkan seperti: pekerjaan ibu-ibu rumah tangga,
memperbaiki peralatan milik sendiri, dan sebagainya;
b. Tidak
menghitung nilai dari waktu luang (leisuretime)
Waktu-waktu luang yang sebenarnya sangat berharga
bagi masyarakat seperti hari libur, memperpendek jam kerja, dan sebagainya juga
tidak dikalkulasi dalam PendapatanNasional;
c. Tidak
memperhitungkan peningkatan mutuproduk
Karena dalam konsep Pendapatan Nasional, terutama
dalam hal pertumbuhannya hanya menekankan konsep peningkatan produk riil, maka
peningkatan kualitas produk juga tidak tersentuh dalam konsep Pendapatan
Nasional;
d. Kurang
memperhatikan pentingnya distribusipendapatan
Konsep Pendapatan Nasional tidak memperhatikan
apakah distribusinya telah memenuhi rasa
keadilan, karena cenderung lebih mengutamakan peningkatan produk riil
secaratotal;
e. Kurang
berorientasi ke pendapatan perkapita
Konsep Pendapatan Nasional juga kurang berorientasi
ke pendapatan per kapita. Sangat
mungkin Pendapatan Nasional pertumbuhannya sangat signifikan, namun hal itu tidak ada artinya jika
jumlah penduduk juga meningkat lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan
Pendapatan Nasional;
f.
Kurang memperhatikan
kerusakanlingkungan
Konsep Pendapatan Nasional yang hanya menghitung
penyusutan atas peralatan kerja yang
dipergunakan dalam proses produksi,
maka penyusutan atas sumber daya alam yang ditandai dengan kerusakan lingkungan
karena dieksploitasinya sumber daya alam tersebut tidak diperhitungkan. Bisa
jadi, pertumbuhan ekonomi yang
positif, jika penyusutan atas
sumber daya alam ini dikalkulasikan,
hasilnya akan berubah
menjadinegatif;
g. Tidak
mengkalkulasikan produk-produk dari bisnissiluman
Produk dari bisnis siluman seperti judi gelap, penyelundupan, dan bisnis
barang-barang terlarang lainnya, sekalipun secara ekonomi terdapat nilai tambah, namun pasti tidak akan terkalkulasikan dalam
Pendapatan Nasional.
9.
LATIHAN
1)
Jelaskan apa yang
dimaksud dengan pendapatannasional.
2)
Jelaskan apa tujuan
dari dihitungnya pendapatannasional.
3) Jelaskan
hierarki penghitungan pendapatan nasional dan jelaskan pula apa yang
dimaksuddengan:
a. Produk
Domestik Bruto(PDB)
b.
Produk Nasional
Bruto(PNB)
c.
Produk Nasional
Neto(PNN)
d.
Pendapatan Nasional(PN)
e.
Pendapatan
Perorangan(PP)
f.
Pendapatan Disposibel
(PD)
4)
Jelaskan apa persamaan
dan perbedaan antara PDB Harga Berlaku
dan PDB HargaKonstan.
5)
Jelaskan apakah peningkatan
pendapatan nasional secara otomatis dapat diartikan bahwa kesejahteraan
masyarakat pada umumnya telah meningkat?
6)
Jelaskan apa yang
dimaksud dengan inflasi, penyebab terjadinya, dan apa yang harus dilakukan
pemerintah terhadapinflasi.
7)
Sebutkan dan jelaskan
beberapa kelemahan dalam konsep pendapatan nasional.


Komentar
Posting Komentar