Motivasi
BAB VI
MOTIVASI
Dalam
bab VI disajikan beberapa materi tentang motivasi sebagai
berikut:
A. Pengertian Motivasi
B. Teori-teori Motivasi
C. Hubungan desain pekerjaan dengan motivasi.
D. Hubungan Motivasi dengan Upah.
E. Sistim balas jasa yang efektif untuk Motivasi
pekerja.
F. Pengembangan insentif dalam memotivasi pekerja.
A. Pengertian Motivasi
Motivasi sering, diartikan dengan istilah doronoan, yangberarti
tenaga yang menggerakkan jiwa dan jasmani untuk berbuat, sehingga motif
merupakan “driving force” seseorang, untuk bertingkah laku dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Setiap orang mempunyai motif diri yang tentu bisa berbeda antara orang yang
satu dengan yang lainnya. Hal dapat diuraikan dengan adanya ciri-ciri motif
individu sebagai berikut :
Motif itu majemuk, artinya bahwa sesuatu perbuatan tidak hanya
mempunyai satu tujuan, namun multi tujuan yang herlangsung bersama-sama.
Motif dapat beruhah-ubah, maksudnya motif pada seseorang sering
mengalami perubahan karena keinginan manusia dapat berubah-ubah sesuai dengan
kebutuhannya.
Motif berbeda antar individu, hal ini berarti motif sebagai kekuatan
atau dorongan seseorang melakukan tindakan atau bertingkah laku, maka akan
dapat berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya.
Motif individu bersifat komplek, artinya pada diri individu akan didapati
beberapa atau banyak motif diri untuk melakukau tindakan. Dari motif yang
banyak tersebut akan saling
herinteraksi
pada diri individu, sehingga akan nampak adanya motif yang komplek pada diri
seseorang. Macam-macam Motif Individu dapat dibedakan sebagai berikut :
Murray :
Membedakan motif kedalam 2 macam yaitu motif primerdan motif
sekunder. Motif primer adalah motif individu yang bersifat bawaan (biologis)
atau merupakan motif dasar yang ada pada diri individu dan berhuhungan dengan
kebutuhan jasmani untuk kelangsungan hidupnya. Sedang motif sekunder adalah merupakan
motif yang timbul karena pengaruh lingkungan eksternal artinya motif yang
muncul karena adanya interaksi dengan lingkungannya.
Keypers:
Membedakan motif menjadi: motif biologik, motifsosiologik dan
motif teologik. Motif biologik adalah merupakan motif yang berhuhungan dengan
kebutuhan unutk kelangsungan
hidup
seseorang sebagai organisme. Sedang motif sosiologik adalah motif untuk mengadakan
hubungan atau kebutuhan yang berkaitan keinginan berinteraksi dengan individu
lainnya, dan motif teologik adalah motif yang mendorong individu untuk mengadakan
hubungan dengan “Sang Pencipta” atau Tuhan.
Dari perbedaan tersebut kiranya dapat dirumuskanlebih sederhana
bahwa motif individu akan terdiri dari motif yang berkaitan dengan kepentingan
dasar untuk hidup dan
kelangsungannya,
motif untuk berkomunikasi dan berinterksi dengan sesamanya dan motif untuk
berbuat dan bertindak dalam rangka pengabdian semata-mata mewujudkan syukur dan
taqwanya kepada “sang pencipta” yaitu allah SWT.
B. Teori-teori Motivasi
1. MOTIVASI INDIVIDU
Motivasi menurut Hedjrahman Ranupandojo dan Suad Husnanadalah
proses untuk mencoba mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang kita inginkan.
Dengan demikian motif yang ada pada individu perlu dirangsang/didorong/dimotivisir,
agar individu tersebut dengan motif yang ada pada dirinya dapat, melakukan
tindakan atau kerja yang positif, sehingga motifirya terpenuhi dan kebutuhan
organisasi perusahaan juga terpenuhi.
Berbicara
tentang motivasi kerja individu terdapat 3 hal pokok pertanyaan yang diajukan
yaitu :
apa yang menjadi penggerak atau sumber tingkah laku seseorang itu?
apa yang mengarahkan atau mengatur tingkah laku seseorang itu?
bagaimana tingkah laku itu dipertahankan.
Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaantersebut salah
satu teori yang dapat dibahas adalah “teorikeputusan” atau “Content Theory”.
Teori akan mencoba men .jawah pertanyaan-pertanyaan:kebutuhan apa
yang diinginkan seseorang untuk diptiaskan dan kebutuhan apa yang mendorong
mereka untuk bertindak. Teori keputusan ini menvatakan bahwa setiap individu mempunyai
kebutuhan sendiri-sendiri, yang rnenyebahkan pada dirinya terdorong dan dimotovisir
serta mereka bertindak dan bertingkah laku untuk memenuhinya. Membahas teori
keputusan ini akan banyak menguraikan teori-teori Maslow, Mc Gregor, Herzberg,
serta nama-nama lainnya.
2. TEORI KEBUTUHAN MASLOW
Menurut Abraham 11. Maslow untuk memutuskantindakan atau perilaku
seseorang terdapat pada hirarki kebutuhan dengan 3 macam asumsi dasar teorinya,
yaitu :
1.
Manusia merupakan makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu yaitu keinginan untuk
memuaskan berbagai tujuan. Kebutuhan yang tidak terpenuhi akan mempengartihi tingkah
laku, akan tetapi kebutuhan yang terpenuhi tidak akan memotivisir untuk
bertingkah laku sesuai dengan kebutuhannya.
2.
Kebutuhan seseorang diatur secara hertingkat dan atau berurutan dari yang
paling dasar sampai yang paling tinggi.
3.
Kebutuhan seseorang bergerak dari tingkat yang paling bawah ke tingkat
berikutnya setelah kebutuhan tingkat yang paling hawah terpenuhi secara
maksimal Hirarki (tingkatan) kebutuhan seseorang yang akan menggerakkan tingkah
lakunya dapat digambarkan seperti
berikut
:
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan seseorangyang paling
utama, karena kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk hidup dan kehidupan, seperti
kebutuhan akan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal. Selama kebutuhan
ini belum terpenuhi, maka mereka akan terdorong bekerja keras untuk
memenuhinya.
Kebutuhan rasa aman akan menjadi pendorong berikutnyamanakala
kebutuhan fisiologis telah terpenuhi. Kebutuhan rasa aman ini adalah kebutuhan
berkaitan dengan keamanan secara ekonomi dan sosial, artinya mereka memerlukan
rasa aman terhadap ancaman kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Bagi seseorang
yang kehilangan pekerjaan akan menanggung rasa aman ekonomi (penghasilan) dan
rasa aman sosial (pengangguran). Setelah kebutuhan rasa aman tercapai, maka
individu membutuhkan komunikasi dan interaksi kelompok dengan pergaulan yang
menyenangkan dan terciptanya rasa kerja sama yang baik. dengan demikian akan
rasa hormat menghormati dan rasa kasih sayang antar individu dapat tercipta.
Kebutuhan penghargaan, yaitu keinginan dan kebutuhanseseorang
untuk mendapat penghargaan atas prestasi kerja yang telah dicapainya. Mereka
akan melaksanakan pekerjaan dengan baik walaupun pekerjaan tersebut dirasa
sulit, berat maupun penuh resiko, semata-mata hendak memperoleh penghargaan dari
pimpinannya.
Kebutuhan aktualisasi diri, rnaksudnya adalah kebutuhanyang
berkaitan dengan keinginan lebih, keinginan maju maupun keinginan menjadi orang
“ter”. Kebutuhan ini merupakan tingkatan
terakhir dari hirarki kebutuhan, dan memang kebutuhan ini menjadi pendorong
yang kuat bagi mereka vang bekerjatelah “mapan”
dalam arti semua kebutuhan yang lainnya sudah terpenuhi.
Melihat berbagai kebutuhan yang menjadi tujuan setiap individu, maka seorang
pemimpin organisasi perusahaan harus berusaha mencari dan memenuhi kebutuhan
tersebut untuk dapat memacu mereka bekerja secara baik dan maksimal.
Program-program yang dapat dilaksanakan misalnya: pemberian upah
dan
kesejahteraan material, adanya aturan pensirm (tunjangan hari tua), asuransi kesehatan/kecelakaan,
pembentukanpembentukan kelompok kerja, pertemuan-pertemuan informal, pujian-pujian
dan penghargaan-penghargaan maupun program-program peningkatan pengetahtran/keterampilan
dan lain sebagainya. Kesemuanya ini usaha dari kepemimpinan untuk mendorong
seseorang melakukan tindakan atau pekerjaan agar dapat terpenuhi segala
tingkatan kebutuhannya, dengan pengharapanpara bawahan akan bekerja secara baik
dan berprestasi.
3. TEORI X DAN TEORI Y MC GREGOR
Teori ini dikembangkan berdasarkan penelitian psikologis,dengan
konsepsi awalnya bahwa manusia mempunyai sifat-sifat yang saling bertentangan
yang ekstrim, misal pada diri seseorang akan bertingkah laku lemah lembut,
penyanyang, simpatik, penurut dan lainnya. Namun pada saat lain manusia juga
dapat bertingkah laku kasar, membenci, suka mengganggu dan lain sebagainya.
Dari dua sisi sifat ini lalu dikembangkan menjadi 2
teori
yaitu teori x dan teori y. Penelitian yang dilakukan pada manajer-manajer “tradisional”,
maka diperoleh hasil bahwa mereka para manajer tradisional bekerja berdasarkan
kerangka konsep yang merupakan titik ekstrim negatif dengan kata lain mereka
menggunakan teori x. Manajer yang menggunakan teori x memandang bawahan sebagai
memiliki ciri-ciri (sifat) sebagai berikut :
-
pada umumnya mereka (orang) tidak suka bekerja,
untuk itu sedapat mungkin mereka menghindari pekerjaan.
-
mereka (orang bawahan) tidak senang diarahkan
-
mereka lebih senang menghindari tanggungjawab
-
mereka tidak mempunyai ambisi
-
mereka mempunyai sifat pasif
Untuk kesemuanya itu maka manajer harus melakukan tindakan
dalam
memanfaatkan bawahan dengan perlakuan :
Mereka perlu dipaksa bekerja dengan berbagai peraturan ketat.
Mereka perlu diperintah dan diancam.
Mereka perlu diawasi secara ketat.
Dan lain sebagainya yang membuat bawahan untuk dapat melakukan
pekerjaan dan tanggungjawabnya.
Pada sisi lain Gregor mencoba meneliti lebih lanjut padapara
manajer modern, yang diperoleh gambaran bahwa mereka sudah melakukan pendekatan
yang lain yang lebih positif yang merupakan kebalikan dari pendekatan dengan
teori x, yaitu mereka menggunakan teori y. Menurut teori v maka para manajer memandang
para bawahannya memiliki ciri-ciri (sifat) sehagai herikut :
Mereka akan menghindari adanya “titre clocks”.
Menghindari adanya peraturan dan pengawasan yang ketat.
Mereka bekerja berdasarkan sasaran (manajemen objective)
Pengambilan keputusan secara demokratis.
Dalam bekerja dengan bawahan mengutamakan partisipasi.
Mereka melakukan usaha penyusunan “job enrichment” yang jelas.
4. TEORI DUA FAKTOR HERZBERG
Telah dua ahli yang membahas dari hasil studinya
tentangpermasalahan “motivasi” yaitu Maslow dan Gregor, maka dalam membicarakan
tentang motivasi perlu juga membahas teori 2 faktor Herzberg. Teori mengemukakan
bahwa didalam. Setiap pekerjaan terdapat dua kelompok faktor yang menentukan.
Kedua faktor tersebut adalah “Maintenance Factors” dan “MotivatorFactors”. Pendekatan dua faktor tersebut didasarkan pada prinsip teori
ini, bahwa pada diri individu ada faktor-faktor yang menyebabkan mereka sangat
menyenangi pekerjaan dan faktorfaktor yang menyebabkan mereka tidak menyenangi
pekerjaan.
Maintenance Factors yang sering disebut istilah lain yaituHygiene Factor. Faktor ini menguraikan
tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan usaha Pemeliharaan hidup
individu. Faktor hygiene ini mencakup kebutuhan pokok individu yang diharapkan
dapat diperoleh dari suatu pekerjaan. Faktor-faktor tersebut seperti: adanya
gaji yang layak, kondisi kerja yang sesuai dan memadai, rasa keamanan kerja dan
adanya tunjangan tambahan, hubungan antar pribadi dan lain sebagainya. Menurut hasil
penelitian Herzberg terdapat 10 faktor pemeliharaan (hygiene) yaitu :
1.
Kebijakan dan administrasi.
2.
Supervisi teknisi.
3.
Hubungan pribadi dengan supervisor.
4.
Hubungan pribadi dengan teman sejawat.
5.
Hubungan pribadi dengan bawahan.
6.
Gaji.
7.
Keamanan kerja.
8.
Kehidupan pribadi.
9.
Kondisi kerja.
10.
Status.
Menurut teoriHerzberg ini pula, dinyatakan bahwa faktorfaktorhygiene
tcrsebut merupakan faktor-faktor yang sangat vital dan harus dipenuhi terlebih
dahulu sebelum mereka dimotivisir.
Dengan adanya faktor-faktor tersebut dipenuhi, maka akandidarat
situasi yang menyenangkan maupun dapat memberikan kepuasan pada setiap individu
yang bekerja. Dari rasa puas dan senang tersebut, maka individu akan mudah
dimotivasi. Motivator factors adalah factor-faktor yang dapat memberikan
motivasi pada individu melakukan pekerjaan, sehingga pada dasarnya faktor motivasi
ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan faktor-faktor apakah yang
benar-benar dapat memotivikasi seseorang (individu). Herzberg mengajukan
6 faktor yang dapat memotivikasi seseorang sehingga merekabersedia
melakukan suatu pekerjaan. Faktor-faktor tersebut adalah :
Hasit yang membahagiakan
Penghargaan
Kemajuan
Pekerjaan itu sendiri
Kemimgkinan berkemhang
Tanggung jawab
Secara garis. besar menurut teori I lerzberg im, faktor yanghenar
benar dapat mernotivikasi seseorang adalah falaor yang berhubungan dengan pekcrjaan
itu sendiri:
5. JENIS DAN BENTUK MOTIVASI
Motivasi yang diberikan pada individu dapat terbagimenjadi 2 jenis
motivasi yaitu motivasi positif dan motivasi negatif. Motivasi positif adalah
proses untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar mereka dapat melakukan
sesuatu pekerjaan seperti yang kita inginkan dengan cara memberikan kemungkinan
untuk mendapatkan “hadiah”. Dari pengertiantersebut, maka jikalau seorang
pemimpin mencoba merangsang dan mempengaruhi bawahannya untuk melakukan suatu
tugas pekerjaan dengan baik, kiranya diperlukan perangsang berupa penghargaan
atau incentive dan bentuk lain baik bersifat material maupun inmaterial.
Motivasi negatif merupakan proses inempegaruhi oranglain untuk
melaksanakan suatu tugas pekerjaan sesuai dengan yang kita harapkan dengan menggunakan
pendekatan kekuatan kektiasaan, artinya bahwa agar bawahan mau dan
rnelaksanakan
pekeijaan
dengan baik, seorang pemimpin menggunakan kedudukan dan kekuasaannya untuk
“menakuti” bawahan, sehingga dengan kekuatan ketakutan tersebut akan dapat mendorong
bawahan melaksanakan pekerjaannya. Kekuatan menakuti tersebut misalnya, sebuah
ancaman dari pemimpin yang menyatakan bahwa tidak melaksanakan pekeljaan dengan
baik maka mereka akan dapat kehilangan uang incentive atau akan dipindah
tugaskan dan lain sebagainya. Bawahan yang merasa memperoleh ancaman tersebut
dengan sendirinya dalam rangka mempertahankan kebutuhan hidup dan alau
kedudukannya, maka akan melaksanakan pekerjaan yang menjadi tugasnya sesuai
dengan kehendak pernimpinnya.
Dari tinjauan bentuk-bentuk motivasi, maka bentukmotivasi yang
positif dapat berupa:
Penghargaan atas pekeijaan yang baik
Pengarahan, pernbinaan dan pengendalian dari atasan yang “sehat” atau “menyenangkan”
Diberikannya pola kerja yang terarah dan efektif bagi bawahan untuk
melaksakan pekerjaan
Pemberian perhatian yang sepadan dari atasan kepada bawahannya
sebagai seorang individu
Adanya informasi dan komnnikasi yang lancar baik dari atasan ke
bawahan dan sebaliknya maupun antar sesama bawahan
Penciptaan suasana persaingan yang “sehat” dan partisipasi bawahan dalam
pengambilan keputusan
Pemberian kompensasi dan incentive baik berupa uang maupun barang
dengan pendekatan kelayakan dan keadilan
Dan lain sebagainya
Sedang motivasi yang negatif misalnya:adanya peraturan yangketat,
pengawasan yang ketat, adanya ancaman keamanan baik terhadap aspek ekomnomis
maupun sosial kepada bawahan, kebijakan yang outhoriter dan “kaku” dan lain
sebagainya.
Teori Prestasi (Achievement) dari McClelland
Teori ini mengklasifikasi motivasi berdasarkan akibatsuatu
kegiatan berupa prrstasi yang dicapai, termasuk juga dalam berkerja. Dengan
kata lain kebutuhan berprestasi merupakan motivasi dalam pelaksanaan pekerjaan.
Dalam hubungannya dengan Teori Maslow, berarti motivasi ini terkait dengan
kebutuhan pada urutan yang tinggi, terutama kebutuhan aktualisasi diri dan
kebutuhan akan status dan kekuasaan. Kebutuhan ini memerlukan dan mengharuskan
seseorang pekerja melakukan kegiatan belajar, agar menguasai ketrampilan/keahlian
yang memungkinkan seorang pekerja mencapai suatu prestasi.
Berikutnya jika dihubungkan dengan teori dua faktor, jelas
bahwaprestasi termasuk klasifikasi faktor sesuatu yang memotivasi (motivasi
dalam melaksanakan pekerjaan. Implementasinya di lingkungan sebuah perusahaan, antara
lain sebagai berikut :
a.
Para pekerja terutama manajer dan tenaga kerja kunci produk lini, menyukai
memikul tanggung jawab dalam bekerja, karena kemampuan melaksanakannya
merupakan prestasi bagi yang bersangkutan.
b.
Dalam bekerja yang memiliki resiko kerja, para pekerjamenyukai pekerjaan yang
berisiko lunak (moderat). Pekerjaan yang
beresiko tinggi dapat mengecewakannya, karena jika gagal berarti tidak atau
kurang berprestasi. Sebaliknya juga kurang menyukai pekerjaan yang beresiko
rendah atau tanpa resiko, yang dapat mengakibatkan pekerjaan tersebut diklasifikasikan
tidak/kurang berprestasi, baik berhasil maupun gagal melaksanakannya.
c.
Pekerja yang berprestasi tinggi menyukai informasi sebagai umpan balik, karena
selalu terdorong untuk memperbaiki dan meningkatkan kegiatannya dalam bekerja.
Dengan demikian peluangnya untuk meningkatkan prestasi kerja akan lebih
besar.
d.
Kelemahan yang dapat merugikan adalah pekerja yang berprestasi lebih menyukai bekerja
mandiri, sehingga kurang positif sebagai manajer. Kemandirian itu dimaksudkan
untuk menunjukkan prestasinya. mungkin lebih baik dari pekerja yang lain.
Teori Penguatan (Reinforcement)
Teori ini banyak dipergunakan dan fundamentalsifatnya dalam proses
belajar, dengan mempergunakan prinsip yang disebut “Hukum Ganjaran Law of effect)”. Hukum itu
mengatakan
bahwa suatu tingkah laku yang mendapat ganjaran menyenangkan akan mengalami
penguatan dan cenderung untuk diulangi. Misalnya setiap memperoleh nilai baik
dalam belajar mendapat pujian atau hadiah, maka cenderung untuk dipertahankan
dengan mengulangi proses belajar yang pernah dilakukan. Demikian pula sehaliknya
suatu tingkah laku yang tidak mendapat ganjaran, tidak akan mengalami
penguatan, karena cenderung tidak diulangi, bahkan dihindari.
Berdasarkan uraian di atas jelas hahwa penguatan(reinforcement) pada dasarnya berarti
pengulangan kegiatan karena mendapat ganjaran. Ganjaran selain berbentuk
material, dapat pula yang bersifat non material. Ganjaran berarti juga pemberian
insentif. Oleh karena itu teori ini sering disebut “teori insentif.” Di samping
itu teori ini bersumbe juga dari teoritingkah laku berdasarkan hubungan antara
Perangsang dan Respons (Stimulus-Respons atau S-R Bond). Suatu perangsang yang
diiringi dengan suatu persyaratan, cenderung untuk diiringi dengan respon yang
tetap. Dengan kata lain suatu perangsang
yang
dikondisikan sebabai suatu persyaratan, akan mendapat respons yang sama atau
respons yang diulang, sehingga sering terjadi meskipun perangsangnya tidak ada
tetapi persyaratannya dimunculkan, maka respons yang sama akan dilakukan.
Sehubungan dengan itu teori ini disebut juga teori
“operasionalbersyarat.”Contoh sederhana dari kegiatan ini terlihat pada hewan
seperti
lumbalumba, yang mendapat insentif ikan kecil untuk dimakan, setiap kali
berhasil melompati lingkaran api di atas kolamnya. Demikian juga dari percobaaan
Pavlov dengan seekor anjing yang dibedah kantong kelenjar air liurnya. Setiap
kali diberi makan dibuat kondisi bersyarat dengan menghidupkan lampu merah, dan
air liurnya keluar. Setelah berulang kali dilakukan, air liurnya tetap keluar
jika lampu merah dinyalakan, meskipun
tanpa
diberi makanan.
Implementasi teori ini di lingkungan sebuah organisasi/perusahaan
mengharuskan para manajer mampu mengatur cara pemberian insentif dalam
memotivasi para pekerja, agar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara
efektif dan efisien. Dengan kata lain insentif yang diberikan harus diupayakan mampu
mewujudkan penguatan bagi kegiatan pelaksanaan pekerjaan yang efektif dan efisien.
Untuk itu insentif sehagai perangsang, agar menghasilkan respons pelaksanaan
pekerjaan yang diulang atau bersifat penguatan, harus diberikan dengan persyaratan
operasional antara lain berupa persyaratan kreativitas, produktivitas, prestasi
dan lain-lain.
Teori Harapan (Expectancy)
Teori ini berpegang pada prinsip yang mengatakan:“terdapat
hubungan yang erat antara pengertian seseorang mengenai suatu tingkah laku,
dengan hasil yang ingin
diperolehnya
sebagai harapan.” Dengan demikian berarti juga harapan merupakan energi penggerak
untuk melakukan suatu kegiatan, yang karena terarah untuk mencapai sesuatu
yangdiinginkan disebut “usaha.” Usaha di lingkungan para pekerja dilakukan
berupa kegiatan yang disebut bekerja, pada dasarnya didorong oleh harapan
tertentu.
Usaha yang dapat dilakukan pekerja sebagai individudipengaruhi
oleh jenis dan kualitas kemampuan yang dimilikinya, yang diwujudkannya berupa
keterampilan/keahlian dalam bekerja. Berdasarkan jenis dan kualitas
keterampilan/keahlian dalam bekerja akan diperoleh hasil, yang jika sesuai
dengan harapan akan dirasakan sebagai ganjaran yang memberikan rasa kepuasan.
Implementasinya di lingkungan sebuah perusahaan dapatdilakukan
sebagai berikut:
a.
Manajer perlu membantu para pekerja memahami tugastugas/ pekerjaannya, dihubungkan
dengan kemampuan atau jenis dan kualitas keterampilan/keahlian yang
dimilikinya.
b.
Berdasarkan pengertian itu, manajer perlu membantu para pekerja agar memiliki
harapan yang realistis, yang tidak Berlebih-lebihan. Harapannya tidak melampaui
usaha yang dapat dilakukannya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
c.
Manajer perlu membantu para pekerja dalam meningkatkan keterampilan/keahliannya
dalam bekerja, yang dapat meningkatkan harapannya, dan akan meningkatkan pula usahanya
melalui pelaksanaan pekerjaan yang semakin efektif dan efisien
Pada halaman berikut ini diketengahkan diagram Teori Harapan,untuk
memperjelas maksud uraian-uraian di atas.
Teori Tujuan sebagai Motivasi
Dalam bekerja tujuan bukan harapan. Dalam kenyataannyaharapan
bersifat subyektif dan berbeda-beda antara setiap individu, meskipun bekerja
pada unit kerja atau perusahaan yang sama. Tujuan bersumher dari Rencana
Strategik dan Rencana Operasional organisasi/perusahaan, yang tidak dipengaruhi
individu dan tidak mudah berubah-ubah. Oleh karena itu tujuan bersifat
obyektif.
Setiap pekerja yang memahami dan menerima
tujuanorganisasi/peruashaan atau unit kerjanya, dan merasa sesuai dengan
dirinya akan merasa ikut bertanggung jawab dalam mewujudkannya. Dalam keadaan
seperti itu tujuan akan berfungsi sebagai motivasi dalam bekerja, yang
mendorong para pekerja memilih alternative cara bekerja yang terbaik atau yang
paling efektif dan efisien.
Implementasi dari teori ini dilingkungan suatu perusahaandapat
diwujudkan sebagai berikut :
a.
Tujuan unit kerja atau tujuan organisasi/perusahaan merupakan fokus utama dalam
bekerja. Oleh karena itu para manajer perlu memiliki kemampuan merumuskannya secara
jelas dan terinci, agar mudah dipahami pekerja. Untuk itu para manajer perlu
membantu pekerja jika mengalamikesulitan memahami dan menyesuaikan diri dengan
tujuan yang hendak dicapai.
b.
Tujuan perusahaan menentuakan lingkan intensitas pelaksanaan pekerjaan, sesuai
dengan tingkat kesulitan mencarinya. Untuk itu para manajer perlu merumuskan tujuan
yang bersifat menentang, sesuai dengan kemampuan pekerja yang ikut serta
mewujudkannya.

Gambar 32. Teori Harapan dalam Motivasi Pekerja
c.
Tujuan yang sulit menimbulkan kegigihan dan ketekunandalam usaha mencapainya,
melebihi dari tujuan yang mudahmencapainya. Untuk itu para manajer perlu
menghargai parapekerja yang berhasil mewujudkan tujuan unit kerja
atauperusahaan yang sulit mencapainya.
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpukan bahwa fungsimotivasi
bagi manusia termasuk pekerja adalah sebagai berikut :
a.
Motivasi berfungsi sebagai energi atau motor penggerak bagimanusia, ibarat
bahan bakar pada kendaraan.
b.
Motivasi merupakan pengatur dalam memilih alternatif diantara dua atau lebih
kegiatan yang bertentangan. Denganmemperkuat suatu motivasi, akan memperlemah
motivasi
yang
lain, maka scseorang hanya akan melakukan satuaktivitas dan mcninggalkan
aktivitas yang lain.
c.
Motivasi merupakan pengatur arah atau tujuan dalammelakukan aktivitas.
Dengan kata lain setiap orang hanya akan memilih danberusaha untuk
mencapai tujuan, yang motivasinya tinggi danbukan mewujudkan tujuan yang lemah
motivasinya.
Sehubungan
dengan uraian-uraian di atas, sccarasederhana dapat dibedakan dua bentuk
motivasi kerja. Keduabentuk tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Motivasi Intrinsik.
Motivasi ini adalah pendorong kerja yang bersumber daridalam diri
pekerja sebagai individu, berupa kesadaran mengenaipentingnya atau
manfaat/makna pekerjaan yang dilaksanakannya. Dengan kata lain motivasi ini
bersumber dari pekerjaan yang
dikerjakan,
baik karena mampu memenuhi kebutuhan, ataumenyenangkan, atau memungkinkan
mencapai suatu tujuan,maupun karena memberikan harapan tertentu yang positif
dimasa depan. Misalnya pekerja yang bekerja secara berdedikasisemata-mata
karena merasa memperoleh kesempatan untukmengaktualisasikan atau mewujudkan
realisasi dirinya secaramaksimal.
2.
Motivasi Ekstrinsik.
Motivasi ini adalah pendorong kerja yang bersumberdari luar diri
pekerja sebagai individu, bcrupa suatu kondisi yangmengharuskannya melaksanakan
pekerjaan secara maksimal.Misalnya berdedikasi tinggi dalam bekerja karena
upah/gaji yangtinggi, jahatan/posisi yang terhormat atau memiliki kekuasaanyang
bcsar, pujian, hukuman dan lain-lain.
Di lingkungan suatu organisasi/pcrusahaan terlihatkecenderungan
penggunaan motivasi ekstrinsik lebih dominandaripada motivasi intrinsik.
Kondisi itu terutama disebabkan tidakmudah untuk menumbuhkan kesadaran dari
dalam diri pekerja,
sementara
kondisi kerja di sekitarnya lebih banyak menggiringnyapada mendapatkan kepuasan
kerja yang hanya dapat dipenuhidari luar dirinya.
Dalam kondisi seperti tersebut di atas, maka diperlukanusaha
mengintegrasikan teori-teori motivasi, untuk dipergunakansecara operasional di
lingkungan organisasi/perusahaan. Bagipara manajer yang penting adalah cara
memberikan makna
semua
teori yang telah diuraikan di atas, agar dapat dipergunakansecara
operasional/praktis dalam memotivasi para bawahannya.Di antaranya adalah dalam
bentuk pemherian ganjaran yangcenderung paling banyak dipergunakan. Dalam
rangka memotivasipara pekerja, setidak-tidaknyaterdapat 3 tanggung jawab
utamaseorang manajer. Ketiga tanggung jawab itu adalah:
a.
Merumuskan batasan pelaksanaan pekerjaan bawahannya.Dalam rumusan tersebut
harus jelas jenis/jumlah (kuantitatif)dan bobot (kualitatif) tugas-tugas yang
menjadi wewenangdan tanggung jawah setiap bawahannya.
b.
Menyediakan dan melengkapi fasilitas untuk pclaksanaanpekerjaannya, agar bagi
pekerja yang memiliki motivasi kerjatinggi tidak menjadi hambatan untuk
melaksanakannya
secara
maksimal.
c.
Memilih dan melaksanakan cara terbaik dalam mendorongatau memotivasi
pelaksanaan
pekerjaan para bawahannya.
Ketiga
tanggung jawah dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.3 Tanggung jawab manajer dalam
memotivasipekerja
Pembatasan atau mendefinisikan pekerjaan
Setiap manajer harus mampu merumuskan batasan ataumendeskripsikan
mengenai
apa yang diharapkannya dari parapekerja dalam melaksanakan tugas masing-masing.
Deskripsiitu harus diorientasikan pada pelaksanaan pekerjaan yangefektif secara
berkelanjutan untuk semua pekerja. Deskripsivolume dan beban kerja secara
inelividual, itu, sumbernya dapatdiperoleh dari Deskripsi Pekerjaan/Jabatan
sebagai hasil AnalisisPekerjaan/Jabatan dan dari Standar Pekerjaan sebagai
Tolok Ukurdatum Penilaian Karya. Di dalam kedua sumber tersebut selaluterdapat
tiga elemen berupa Rumusan Tujuan Pekerjaan/Jabatan.Cara mengukur/menilai
pelaksanaan pekerjaan dan Bebantugas (kuantitatif dan kualitatif) suatu
pekerjaan/jabatan. Untukkepentingan memberikan motivasi, tujuan pekerjaan
hanyadapat dimanfaatkan jika jelas kaitannya dengan keuntungan
yang
hendak di capai, pelanggan/konsumen yang menjadi obyekpemasaran, bidang bisnis
yang dilaksanakan, pertumbuhanbidang bisnis yang diprediksi, kondisi pekerja,
manajemen yangdijalankan dan kondisi masyarakat serta bangsa dan Negara
yangdihadapi. Semua komponen itu merupakan kerangka dasar yangmempengaruhi
bisnis yang berorientasi pada tujuan. Perumusantujuan harus bersifat
operasional, agar dapat membedakan pekerja
yang
sukes/berhasil atau gagal dalam melaksanakan pekerajan,sebelum dan sesudah
mendapat motivasi tertentu. Dengan tugas,terutama berupa tugas-tugas regular.
Kondisi itu dapat berartisebaliknya bahwa motivasi akan dating diberikan
apabila tugastugas
para
pekerja terarah pada pencapaian tujuan organisasi/perusahaan. Dengan kata lain
perumusan tujuan pekerjaan yangmemenuhi syarat-syarat seperti disebutkan
diatas, akan mampumemotivasi pekerja dalam meningkatkan kemampuan
dalammelaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
Fasilitas Pelaksanaan Pekerjaan
Fasilitas tidak sekedar berarti peralatan kerja yangmenjadi
tanggung jawab manajer untuk pengadaannya. Fasilitasyang menjadi tanggung jawab
manajer terscbut, yang terpentingdi antaranya adalah usaha dalam mengeliminasi
Hambatanhambatanyang
menganggu kelancaran pekerjaan. Di sampingitu fasilitas juga berarti
tersedianya pekerja yang berkualitas, yangtergantung pada kemampuan melakukan
seleksi pada waktupenerimaan pekerja. Ketiga aspek sebagai fasilitas kerja
tersebutdi atas secara lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.
Menghindari dan mencegah atau mengeliminir hambatanhambatan.
Beberapa hambatan pelaksanaan pekerjaan yangharus dieliminasi oleh
manajer sehagai fasilitas kerjaantara lain berupa ketidakmampuan memelihara
peralatan secara layak, menunda-nunda memberikan pembiayaanuntuk melaksanakan
pekerjaan, desain ruangan/tempatkerja yang buruk sehingga mengganggu pelaksanaanpekerjaan,
dan penggunaan metode kerja yang tidak efisien.Dengan mencegah perilaku
tersebut akan dapat diciptakanlingkungan/kondisi kerja yang mendukung
pelaksanaanpekerjaan untuk mencapai tujuan organisasi/perusahaan.Sehubungan
dengan itu berarti motivasi kerja akan menurunatau mengalami kemunduransecara
meyakinkan, apabila
para
manajer tidak menaruh perhatian secara sungguhsungguhterhadap fasilitas kerja,
baik yang bersifat nonmaterial maupun material sehagaimana disebutkan di atas.
b.
Peralatan dan sumber-sumber kerja yang adekuat.
Dalam kenyataannya aspek ini menunjukkan bahwamotivasi kerja akan
menurun/mundur apabila manajer hurukdalam menyediakan dan memberikan sumber
finansial,material dan dalam mengatasi kekurangan SDM, untuk dapatmelaksanakan pekerjaan
secara tepat, baik dan benar (efektifdan efisien).
c.
Ketelitian dalam seleksi pekerja.
Aspek ini sangat esensial dalam memotivasi pekerja,karena
efisiensi dan efektivitas kerja sangat dipengaruhi olehkualitas para pekerja.
Pekerja yang berkualitas sangat tergantungpada ketelitian dalam melakukan
seleksi penerimaan tenagakerja. Dengan kata lain prosedur pengaturan staf yang
buruk(misalnya menerima dan menempatkan pekerja yang rendah kemampuan
hisnisnya), secara pasti akan rendah pulamotivasi kerjanya.
Mendorong Pelaksanaa Pekerjaan
Tanggung jawab berikutnya bagi seorang manajer adalahmemberikan
dorongan (motivasi) kerja bagi para pekerja dilingkungan unit kerja
masingmasing.Sehubungan dengan itumotivasi yang dominan dipergunakan adalah
dengan memberikanganjaran (ekstrinsik). Dalam kenyataannya para manajer pada
umumnya mengetahui bahwa pemberian ganjaran khususnyadalam bentuk insentif,
kurang berfungsi sebagai motivasi untukjangka waktu lama/panjang. Akan tetapi
karena cara tersebutlahyang paling mudah dilakukan, maka akan dibahas
tersendiridalam uraian-uraian berikut ini.
B. GANJARAN SEBAGAI MOTIVASI
Pemberian ganjaran merupakan salah satu bentuk darikompensasi
tidak langsung, yang banyak jenisnya. Ganjaran yang diberikan dalam bentuk
uang, terutama berupa insentif, pada dasarnya merupakan tambahan penghasilan di
luar upah/gaji dasar bulanan atau mingguan. Oleh karena itu nilainya sangat penting
bagi para pekerja, karena akan berpengaruh langsung bagi peningkatan
kesejahteraan atau perbaikan kondisi sosial
ekonomisnya.
Ganjaran berupa uang atau barang yang disebut insentifbiasanya
diberikan pada pekerja secara individual, di antaranya berbentuk komisi
penjualan, pemberian bonus dan lain-lain. Ganjaran seperti itu hanya akan efektif
sebagai motivasi, apabila layak/wajar dilihat dari prestasi dalam pelaksanaan
pekerjaan. Oleh karena itu pengaruhnya dalam memotivasi menjadi sangat kecil, bila
mana sekedar dihubungkan dengan pekerjaan rutin sehari- hari, yang biasanya
telah dan tetap dikerjakan meskipun tidak diberi insentif (ganjaran). Pemberian
ganjaran pada pekerjaan rutin, justru berakibat kurang menguntungkan, karena
dapat berakibat pekerja memiliki ketergantungan dalam melaksanakan tugas-tugasnya,
yang cenderung diahaikan jika tidak diberikan insentif. Namun harus diakui hahwa
sistem pemberian ganjaran yang disebut insentif, akan mampu mengurangi pekerja
yang keluar (berhenti) dan mampu pula meningkatkan loyalitas dan dedikasi para
pekerja pada organisasi/perusahaan.
Ganjaran yang efektif sebagai motivasi kerja, harusmemenuhi
persyaratan sebagai berikut:
1.
Ganjaran berharga bagi pekerja.
2.
Ganjaran diberikan dalam jumlah yang memadai.
3.
Ganjaran diberikan pada waktu yang tepat.
4.
Ganjaran diberikan dalam berbagai jenis yang disukai.
5.
Ganjaran harus diberikan secara adil/wajar dan fair.
Kelima persyaratan ganjaran yang efektif dalam mernotivasipara
pekerja tersebut di atas, akan dijelaskan dalam 3 kelompok scbagai berikut
1. Ganjaran yang Berharga dan Memadai
Dalam memberikan ganjaran, seorang manajer harusmampu memilih
hentuk atau jenisnya yang berguna atau berharga bagai para pekerja. Dengan kata
lain ganjaran yang diherikan secara pribadi harus dirasakan sebagai sesuatu
yang berharga bagi para pekerja yang tidak sama kehutuhannya. Ganjaran yang
berharga itu mungkin saja bukan berbentuk finansial atau material. Pekerja
tingkat bawah pada umumnya berpendapat bahwa ganjaran yang berharga, apabila
diberikan dalam bentuk uang atau barang. Sedang para pekerja tingkat atas,
ganjaran yang berharga mungkin saja berupa sebuah ruangan kerja yang bonafied.
Ganjaran yang memadai adalah sesuatu yang mampu memotivasi agar pekerja secara
terus menerus bekerja sebaik mungkin. Sesuatu itu dilihat oleh para pekerja
sebagai
syarat
untuk memperoleh ganjaran tersebut. Persoalannya bagi seorang manajer adalah
kesulitan dalam menentukan besarnya (jumlah) ganjaran yang dianggap cukup atau
memadai. Salah satu bentuknya adalah ganjaran pada prestasi (produktivitas), dengan
menetapkan sejumlah insentif bagi yang berprestasi atau produktivitasnya
melampaui target tugas pokoknya. Untuk itu dalam menetapkan jumlahnya, pada
umumnya disepakati adanya
perbedaan
persentase insentif antara jabatan secara vertikal. Di samping itu pada umumnya
para manajer juga sependapat, untuk memberikan ganjaran dengan
sekurangkurangnya
membedakanantara
pekerja yang baik (mencapai target) dengan yang buruk(tidak mencapai target)
dalam melaksanakan pekerjaannya.
2. Ganjaran yang Tepat Waktu dan yang Disukai
Ketepatan waktu sangat fundamental dalam sistem ganjaran untuk
memotivasi pelaksanaan pekerjaan. Ketepatan waktu akan berpengaruh dan menentukan
tingkat efektivitas, dalam memotivasi pekerja. Ganjaran yang tidak tepat
waktunya akan kehilangan atau berkurang energinya dalam memotivasi para
pekerja, yang berarti tidak boleh ditunda-tunda memberikannya. Di samping itu
ganjaran juga sebaiknya tidak diberikan sebelum waktuuya. Waktu yang tepat
sangat tergantung pada kemampuan melaksanakan pekerjaan secara prima dan hasil terbaik
yang dapat dicapai seorang pekerja. Di antaranya berupa
pemberian
insentif yang tidak efektif dalam memotivasi jika diberikan bersamaan dengan
pembayaran upah/gaji. Insentif akan lebih tepat waktunya dan mampu memotivasi
setelah
beberapa
lama dari pembayaran gaji/upah tetap. Waktunya akan lebih tepat bila diberikan
setelah pekerja melaksanakan tugastugasnya, dan bukan sebelum dilaksanakan.
Demikian
juga
jika ganjaran akan diberikan berupa promosi ke jenjang jabatan yang lebih
tinggi atau pemberian surat penghargaan. Waktu yang tepat memberikan ganjaran
tersebut agar memotivasi dalam bekerjaadalah pada saat pekerja berhasil
memenuhi persyaratan untuk
memperolehnya.
Dengan memenuhi ketepatan waktu berarti ganjaran akan berfungsi sebagai motivasi
yang potensial, untuk terus melaksanakan pekerjaan secara maksimal.
Kondisi pemberian ganjaran seperti disebutkan di atasberarti juga
seorang manajer harus mampu menilai jenis ganjaran apa yang paling disenangi
para pekerja secara individual. Di antara para pekerja mungkin saja promosi
tidak terlalu disukainya, karenabukan merupakan jabatan yang ideal baginya.
Pekerja tersebut munakin lebih menyukai pemindahan horizontal pada jabatan yang
sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. dengan karier masa depan yang ideal
untuk jangka panjang di bidangnya.
3. Ganjaran yang Adil dan Fair
Ganjaran ini berhubungan dengan rasa kepuasan,baik dalam
perbandingan
antara
jumlahnya yang diharapkan sehingga dirasakan wajar atau adil, maupun jika
dibandingkan antara pekerja yang menerima ganjaran dari pelaksanaan pekerjaan
atau hasilnya yang cenderung memiliki kesamaan, sehingga dirasakan fair. Beherapa
aspek yang herpengaruh pada dirasakannya ganjaran sebagai sesuatu yang adil dan
fair, berkaitan dengan aspek perasaan sebagai seseorang yang berhak menerimanya
atau tidak. Misalnya seseorang yang dipromosikan karena huhungan keluaroa, akan
dirasakan tidak adil dan tidak fair oleh para pekerja yang merasakan dirinya
lebih memenuhi persyaratan untuk mendapatkan promosi tersebut. Aspek lain berhuhungan
kepuasan yang tidak bernilai ekonomis. Misalnya kepuasan instrinsik karcna
ditempatkan pada bidang kerja yang sesuai dengan keniampuan yang dimiliki. Uraian-uraian
di atas menunjukkan bahwa motivasi hagi
para
pekerja, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan desain pckerjaan yang harus
dilaksanakannya. Dengan desain pekerjaan yang baik, para pekerja dapat
mengelahui apa yang diharapkan organisasi/perusahaan dari para pekerja dalam
melaksanakan pekerjaannya. Pada gilirannya dengan pengetahuan dan pengertian tentang
pekerjaannya sesuai harapan organ isasi/perusahaan, maka terbuka peluang untuk
dapat melaksanakannya secara baik, dan hahkan akan terdorong untuk melampaui
harapan tersebut, yang hanya mungkin terjadi jika diiringi pemberian ganjaran
yang memenuhi persyaratan seperti tersebut di atas.
C. HUBUNGAN DESAIN PEKERJAAN DENGAN MOTIVASI
Di lingkungan suatu perusahaan diperlukan kegiatanmanajemen
sebagai
upaya
mendayagunakan sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai tujuannya. Untuk
melaksanakan kegiatan tersebut agar berlangsung efektif terdapat 3 aspek penting
yang besar pengaruhnya, karena ikut menentukan keberhasilan pencapaian tujuan
organisasi/perusahaan. Ketiga aspek itu terdiri dari kemampuan memanfaatkan informasi,
kemampuan
mempergunakan kekuasaan (kewenangan) dan kemampuan memberikan ganjaran dalam
mendorong agar SDM sebagai tenaga kerja melaksanakan tugas-tugasnya
secaraefektif dan efisien. Berkenaan dengan ketiga aspek tersebutsegera dapat
terlihat dua kemungkinan pelaksanaan manajemen SDM. Gejala pertama menunjukkan
manajemen tradisional, yang terjadi apabila ketiga aspek tersebut terpusat pada
manajer tertinggi (top manager), yang pelaksanaannya terpusat pada kontrol
sebagai unsur manajernen. Gejala yang kedua menunjukkan manajemen partisipatif,
yang tejadi apabila ketiga aspek tersebut didelegasikan (dilimpahkan)
pelaksanaannya pada bawahan (mengikutsertakan pekerja bawahan sebagai pelaksana).
Dalam menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, maka semakin diperlukan
kemampuan inovatif dari para pekerja sebagai usaha meningkatkan produktivitas,
yang berarti mengharuskan dipergunakannya manajemen partisipatif. Kondisi itu
sejalan juga dengan perkembangan yang mengarah pada ekonomi global, sehingga
setiap sektor ekonomi memiliki saling ketergantungan, yang semakin mengharuskan
perusahaan/organisasi mempraktekkan strategi pengikutsertaan pekerja
secara
maksimal.
Untuk mewujudkan partisipasi pekerja yang efektif danefisien,
sangat diperlukan usaha mendesain atau mendesain ulang pekerjaan yang harus dilaksanakan
di lingkungan organisasi/perusahaan, terutama yang berhubungan langsung dengan pencapaian
tujuannya. Desain pekerjaan penting artinya karena:
a.
Memberikan batas-batas tentang kegiatan yang harus dan tidak perlu dilakukan
dalam melaksanakan pekerjaan, karena tidak ada organisasi/perusahaan yang
bekerja tanpa batas.
b.
Memberikan nilai-nilai yang dapat meyakinkan pekerja tentang perlunya
berpartisipasi dalam bekerja untuk mewujudkan eksistensi organisasi/perusahaan
yang kompetitif.
c.
Memberikan petunjuk mengenai apa yang sedang dikerjakan oleh organisasi/
perusahaan
sekarang, sehingga memudahkan para pekerja dalam memilih
partisipasi
yang akan dilaksanakannya.
Berdasarkan ketiga alasan tersebut berarti desainpekerjaan berguna
bagi pekerja untuk memahami tugas-tugasnya yang dapat memberikan motivasi untuk
melaksanakannya secara efektif dan efisien.
1. Desain Pekerjaan Tim (Team)
Banyak pekerjaan yang harus dikerjakan oleh tim kerjaagar
berlangsung
secara
efektif. Pekerjaan itu memerlukan kerja sama antar sejumlah pekerja sebagai
sebuah tim, karena saling mempengaruhi satu dengan yang lain, meskipun
dilaksanakan
secara
terpisah.
Untuk itu perlu dipcrjelas lebih dahulu pengertian tim(team) di lingkungan sebuah organisasi/perusahaan,
agar dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam upaya mencapai tujuan bisnisnya.
Sebuah tim kerja memiliki salah satu karakteristik sebagai berikut:
a.
Wujudnya nyata (real) dari kebersamaan sebagai satu kesatuan utuh dan memiliki identitas
sistem sosial yang kompak. Anggota tim jumlahnya biasanya kecil dan bersifat
tcmporer
(sewaktu-waktu) karena dibentuk untuk suatu keperluan tertentu.
b.
Anggotanya mengerjakan pekerjaan tim berupa pekerjaan khusus, untuk menghasilkan
sesuatu yang herhubungan dengan produk (barang atau jasa) yang diproduksi oleh organisasi/perusahaan.
Di samping produk berupa barang atau jasa (pelayanan), tim juga dapat dibentuk
untuk melaksanakan pekerjaan pengambilan keputusan mcngenai
suatu
masalah penting bagi organisasi/perusahaan. Keputusan tim yang diterima dan
dilaksanakan, harus dapat dinilai (diukur) hasilnya setelah dilaksanakan.
c.
Menyelenggarakan manajemen tim sendiri sebagai pelimpahan manajemen
organisasi/perusahaan. Oleh karena itu setiap anggotanya memiliki kewenangan
mengelola
tugas-tugas
tim, tanpa ikatan dengan unit-unit kerja yang ada. Pelaksanaan pekerjaan berlangsung
melalui proses hubungan kerja antara personil, tidak dikerjakan
sendiri-sendiri.
Tim yang memiliki karakteristik seperti tersebut di atas, di sebut
dengan berbagai nama, seperti “kelompok kerja (pokja)” atau “satuan tugas
(satgas)” atau “Tim Kerja” atau
“Komite
Pembuat Keputusan.” Di belakang sebutan itu boleh saja dicantumkan perkataan
otonom, misalnya menjadi “Pokja Otonom,” atau perkataan manajemen sendiri,
misalnya disebut “Tim Kerja Dengan Manajemen Sendiri,” atau perkataan temporer
sehingga disebut “Satuan Tugas Temporer.” Meskipuntim berwewenang melakukan
manajemen sendiri, namun tetap merupakan bagian dari sistem sosial yang besar
berupa organ isasi/perusahaan. Dengan kata lain harus tetap bekerja sesuai dengan
kebijaksanaan pokok pucuk pimpinan (Top Manager).
Dalam kenyataannya untuk dapat bekerja secara efektifdan efisien,
setiap anggota tim harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.
Seseorang yang selalu memiliki idea (gagasan) bisnis.
b.
Seseorang yang memiliki sifat bersedia dan suka membantu tanpa diminta dalam
melaksanakan pekerjaan tim.
c.
Seseorang yang memiliki sifat keterbukaan, dalam arti mampu menerima
saran-saran atau pendapat orang lain.
d.
Seseorang yang mampu mempertimbangkan kebutuhan, motivasi dan keterampilan anggota
tim, jika meminta hantuan atau dalam memberikan advis. Dengan kemampuan seperti
itu akan terhindar dari sikap memaktiakan sesuatu di luar kemampuan anggota
timnya.
e.
Seseorang yang memiliki kemampuan bekerjasama dalam memecahkan masalah.
f.
Seseorang yang mampu menghargai, menerima dan mempertimhangkar pendapat dan
gagasan orang lain.
Selanjutnya dalam membentuk sebuah tim, perludisadari bahwa tidak
semua pekerjaan memerlukan tim dalam melaksanakannya. Untuk itu sebelum
membentuk sebuah tim, sebaiknya dipertrimbangkan beberapa faktor sebagai
berikut:
a.
Tim hanya wajar dan tepat dibentuk untuk melaksanakan pekerjaan yang memerlukan
sejumlah pekerja, agar berlangsung lebihe efektif dan efisien daripada
dikerjakan secara perseorangan.
b.
Tim hanya dibentuk untuk menghasilkan sesuatu yang menunjang, pencapaian tujuan
bisnis organisasi/perusahaan.
c.
Tim hanya dibentuk untuk melaksanakan pekerjaan yang hasilnya dapat diukur/dinilai
dalam hubungannya dengan tujuan organisasi/perusahaan.
d.
Tim dapat dibentuk jika dapat dilakukan pelatihan tertentu secara cepat agar anggotanya
memenuhi persyaratan spesialisasi atau persyaratarr tertentu secara fleksibel,
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan pada tim.
e.
Tim dapat dibentuk apahila dapat ditentukan secara jelas batas kewenangannya
dengan kewenangan manajer yang bidang kerjanya berhubungan dengan pekerjaan
yang discrahkan kepada tim.
Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa desain atau desainulang
Pekerjaan Tim bcrarti menetapkan tugas-tugas yang harus dikerjakan melalui
proses kerjasama, yang diperkirakan akan memberikan hasil yang lebih baik daripada
jika dikerjakan sendiri oleh seorang pekerja. Bentuknya dapat seperti yang telah
dikemukakan di atas berupa tim (team) kerja yang jwnlah anggotanya tidak
terlalu banyak, yang berasal dari para pekerja berbagai unit kerja, yang tugas
pokoknya berhubungan dengan tugas yang dipercayakan pada tim. Dalam pengertian
yang lebih luas, tim kerja dapat berarti jaringan kerja antara para pekerjapada
unit kerja yang satu dengan yang lain dalam melaksanaan pekerjaan, yang
merupakan tugas dan tanggung jawab bersama sesuai porsi masing-masing. Jaringan
kerja tersebut harus didesain, agar setiap pekerja mengetahui dan menjalankan peranan
dan fungsinya, sehingga tidak menjadi penghambat pelaksanaan pekerjaan yang menjadi
tugas dan tanggung jawab pekerja lainnya.
Pembentukan tim dan/atau jaringan kerja sepertidiuraikan di atas,
sebenarnya tidaklah besar pengaruhnya pada motivasi pekerja, namun berpengaruh
langsung pada kepuasan kerja (QWL), yang muaranya juga pada memperkuat motivasi
kerja bagi para pekerja.
2. Desain Pekerjaan Individu
Pelaksanaan penempatan pekerja (staffing)
sebagaimanatelah diuraikan dalam bab terdahulu,
dari segi Manajemen SDM pada dasarnya berarti pembagian tugas dan tanggung
jawab
pelaksanaan pekerjaan secara individual. Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pelaksanaannya, pekerjaanyang bersifat individual tersebut perlu
didesain. Salah satu pendekatan dalam mendesain pekerjaan individu terlihat
dalam diagaram (Gambar 34).
Desain Pekerjaan Individual dimulai dari teori perilakuyang
(implementasikan menjadi konsep-konsep tentang pekerjaan. Di dalam setiap
konsep yang diimplementasikan
terdapat
dimensi-dimensi pekerjaan inti (tugas pokok). Pekerjaan itu harus dilaksanakan
dalam kondisi psikologis tertentu sebagai persyaratan penting untuk memberikan
hasil kerja yang diinginkan, sebagai hasil kerja personil (pekerja secara
individual).
Teori perilaku yang diimplementasikan dalam kegiatanyang disebut
bekerja, harus dijabarkan menjadi tugas-tugas yang dikombinasikan dalam pembidangan
kerja. Pembidangan kerja yang mengemban kombinasi tugas-tugas sejenis,
diwujudkan menjadi unit-unit kerja sebagai bentuk dasar pekerjaan di dalam
struktur organisasi/perusahaan. Pelaksanaan pekerjaan pada setiap unit kerja dalam
perwujudannya harus diatur dengan menetapkan hubungannya dengan konsumen
sebagai klien. Berikutnya setelah tugas-tugas dikerjakan, setiap pekerja berkewajiban
mempertanggungjawabkannya terutama mengenai
beban
kerja vertikal yang diterima dari manajer atasan masing-masing. Dalam pelaksanaannya,
baik manajer maupun pekerja harus memiliki keterbukaan, sehingga setiap
informasi dalam pelaksanaan pekerjaan, akan menjadi umpan balik yang berharga untuk
peningkatan pelaksanaan pekerjaan secara kualitatif dan kuantitatif dalam kurun
waktu berikutnya.

Gambar 34. Teori Hackman dan Oldhman sebagai pendekatan dalam
mendesain pekerjaan individu
Pelaksanaan tugas pokok unit kerja yang terdiri darikombinasi
tugas-tugas
sejenis,
selalu menuntut berbagai keterampilan secara bervariasi, yang berbeda antara
unit kerja yang satu dengan yang lain. Untuk setiap unit kerja variasi keterampilan
yang berbeda, akan memberikan identitas tugas masing-masing. Sedang dalam pelaksanaannya
perlu ditemukan/ditetapkan tugas-tugas yang berhubungan secara signifikan dengan
tujuan organisasi/perusahaan. Selanjutnya agar tugas yang signifikan itu dapat
dilaksanakan. diperlukan pengaturan kekuasaan atau wewenang dalam mengambil
keputusan dan
memerintahkan
pelaksanaannya. Pada giliran berikutnya dari pelaksanaan keputusan dan perintah
melalui kegiatan yang disebut bekerja akan diperoleh umpan balik, yang berguna
bagi pengambilan keputusan baru.
Pelaksanaan pckcrjaan dengan mcmper-unakanketerampilan tertentu,
sesuai dengan identitas tugas suatu unit kerja dan dibatasi pada pelaksanaan tugas
yang signifikan hubungannya dcngan tujuan organisasi/perusahaan, dalam
kcnyataannya tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan pengalarnan kerja yang relevan
dari pekerja yang bertugas melaksanakannya. Di samping itu dalam pelaksanaannya
diperlukan pula pengalaman dalam mempertanggungjawabkan hasil yang dicapai.
Dengan melaksanakan pekerjaan secara bertanggung jawab, para pekerja sebagai
pelaksana akan memperoleh berbagai pengetahuan empiris, yang berpcngaruh pada
perkcmbangan kebutuhan untuk
mencapai
keberhasilan dalam pelaksanaan pekerjaan berikutnya. Perkembangan kcbutuhan itu
harus dijadikan umpan balik untuk mendesain kembali pekerjaan di masa
mendatang.
Keberhasilan dalam melaksanakan desain pekerjaanindividual seperti
diuraikan di atas, sangat mcmerlukan motivasi kerja yang tinggi. Dengan demikian
akan berlangsung pelaksanaan pekerjaan yang berkualitas tinggi. Sedang sebagai
akibatnya akan diperoleh kepuasan kerja yang tinggi pula. Di samping itu akan
diperoleh dampak yang lain, dalam bentuk terhindar atau berkurangnya pekerja
yang tidak masuk (absen) dan semakin berkurang atau dapat dihindari kegiatan
pergantian tenaga kerja dari satu unit kerja ke unit kerja yang lain, termasuk
yang berhenti dan perlu diganti dengan tenaga kerja baru.
Desain pekerjaan individual seperti diuraikan di atas,secara
sederhana dapat diringkas sebagai berikut:
a.
Organisasi/perusahaan harus mampu membagi pekerjaan dan mengelompokan
pekerjaan
sejenis menjadi unit kerja. Di dalam setiap unit kerja harus jelas tugas-tugas
pokoknya.
b.
Organisasi/perusahaan harus mampu menctapkan persyaratan keterampilan dan
pengalaman kerja untuk dapat melaksanakan tugas pokok unit kerja yang menunjang
pencapaian
tujuan hisnisnya.
c.
Organisasi/perusahaan harus mampu merekrut dan menempatkan tenaga kerja sesuai
dengan tugas-tugas pokok setiap unit kerja.
d.
Dalam pelaksanaan pekerjaan oleh setiap pekerja yang telah memenuhi persyaratan
tersebut, diperlukan kemampuan para manajer untuk memberikan motivasi kerja,
agar pekerjaan berlangsung secara herkualitas.
e.
Dari pelaksanaan pekerjaan yang dapat memberikan kepuasan kerja, akan diperoleh
berbagai informasi scbagai umpan balik untuk perhaikan dan penyempurnaan desain
ulang pekerjaan individual.
D. HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN SISTEM UPAII
Dalam uraian terdahulu tentang ganjaran sebagaimotivasi, telah
diketengahkan bahwa ganjaran merupakan cara mcmherikan motivasi kerja yang
paling banyak/dominan dipergunakan. Uraian hcrikut ini tidak hcrmaksud
mengulangi uraian-uraian di dalam bab terdahulu, tetapi untuk nicmberikan uraian
yang lebih rinci, karena sifatnya yang sangat dominan di lingkungan
organisasi/perusahaan.
Dari satu sisi Sistern Upah tclah disepakati sebagai faktoryang
sangat penting dalam mewujudkan penampilan kcrja yang terhaik. Di ncgara
industri seperti Amerika Serikat diperkirakan antara 70% sampai dengan 80%
perusahaan/organisasi mempergunakan sistem ini untuk mendorong/memotivasi pekerjaannya.
Dengan kata lain pemberian upah merupakanmotivasi kerja yang penting, dalam
mewujudkan pekerjaan yang produklif dan herkualitas (efektif dan efisien) bagi
para pekerja di bidang kerja masing-masing.
Dari sisi lain sulit untuk mewujudkan sislem upah yang dapat
memotivasi pekerja. Salah satu sebabnya sebagaimana telah diketengahkan dalam
uraian tentang kompensasi, ternyata banyak ditemui kenyataan para manajer
berupaya menekan pemhiayaan (cost) seminimal mungkin melalui pembayaran upah. Sebaliknya para pekerja
mengharapkan pemherian upah dalam jumlah maksimal, atau sekurang-kurangnya
memenuhi
unsur
kewajaran (kelayakan) dan keadilan. Berikuinya dihadapi pula kesulitan dalam
menetapkan besarnya upah yang dapat memotivasi kerja. Kesulitan terutama sekali
disebabkan oleh adanya berbagai perbedaan secara individual, kelompok/tim (team) dan berdasarkan pangkat dan
jabatan dalam keseluruhan organisasi/perusahaan.
Sehubungan dengan uraian-uraian di atas, ternyata dalamsistem
pcngupahan, yang hanyak dipersoalkan para pekerja sebagai motivasi kerja adalah
pemberian insentif, dengan tidak mengurangi arti dan peranan upah yang juga
dapat dipcrgunnkan untuk memotivasi keria. Upah dasar sebagai motivasi terkait dengan
pangkat dan jabatan/posisi. Satu di antaranya bahwa ada para pekerja yang
menilni dirinya memiliki peluang untuk memperoleh pangkat atau jabatan yang
lebih tinggi, yang tidak menjadi motivasi bagi pekerja yang tidak memiliki
peluang tersehut. Sedang yang lainnya jika pekerja merasa terancam kehilangan
pekerjaan atau jabatannya, bilamana tidak berprestasi tugas-tugas pokoknya
Upah/gaji yang telah stabil tidak atau kurang berfungsi sebagai motivasi,
karena sifatnya yang rutin dan
lebih
dirasakan sebagai hak, yang pasti diterima pada saarnya (bulanan atau
mingguan).
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka perluditegaskan
kembali bahwa dalam memotivasi para pekerja, yang banyak dipersoalkan adalah
mengenai kompensasi tidak langsung, khususnya dalam bentuk yang disebut
insentif. Tujuan system pemberian insentif pada dasarnya adalah :
1.
Sistem insentif didesain dalam hubungannya dengan system balas jasa (merit system), sehingga berfungsi dalam
memotivasi pekerja agar terus menerus herusaha memperbaiki dan meningkatkan
kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas yang menjadi kewajiban/tanggung
jawabnya.
2.
Sistem insentif merupakan tambahan bagi upah/gaji dasar yang diberikan sewaktu-waktu,
dengan membedakan antara pekerja yang berprestasi dengan yang tidak/kurang berprestasi
dalam melaksanakan pekerjaan/tugas- tugasnya.
Dengan demikian akan berlangsung kompetisi sehat dalam
berprestasi, yang merupakan motivasi kerja berdasarkan pemberian insentif. Berdasarkan
tujuan sistem pemberian insentif tersebut di atas, dapat dibedakan dua
bentuknya terdiri dari:
a.
Diberikan secara tetap yang disebut tunjangan, seperti tunjangan istri/suami,
anak (keluarga), tunjangan fungsional dan tunjangan struktural/jabatan.
b.
Diberikan sewaktu-waktu atau tidak tetap, seperti komisi penjualan, bonus dan
kompensasi tidak langsung lainnya.
Sistem insentif dimaksud harus memenuhi beberapa persyaratan,agar
menjadi efektif sebagai motivasi kerja. Persyaratan itu terkait dengan prinsip
psikologis sebagai berikut:
a.
Berfungsi dan bersifat sebagai penghargaan, yang dinilai sebagai faktor penting
dalam kegiatan memotivasi pekerja.
b.
Dirasakan sebagai hasil dari upaya meningkatkan dan memperbaiki pelaksanaan
pekerjaan.
Dengan demikian berarti juga organisasi/perusahaanharus
menghindari pemberian insentif tanpa alasan atau dengan alasan yang tidak
berhubungan dengan upaya memotivasi pekerja agar bekerja secara efektif dan efisien.
Untuk itu perlu diketahui sebab-sebab pemberian insentif tidak berfungsi
sebagai motivasi.
Sebab-sehab
dimaksud adalah sebagai berikut :
a.
Nilai finansial/materialnya sebagai ganjaran/penghargaan terlalu rendah,
sehinaga berakibat tidak dirasakan manfaamya oleh para pekerja.
b.
Tidak terdapat huhungan antara insentif sebagai ganjaran dengan pekerjaan yang
dilaksanakan. Insentif seperti itutidak akan berfungsi sehagai motivasi karena
pekerja tidakmengetahui untuk apa ganjaran itu diberikan kepadanya.
c.
Tidak didasarkan pada hasil Penilaian Karya karena tidak pernah atau selalu
dihindari pelaksanaannya oleh supervisor. Dengan kata lain tanpa Penilaian
Karva para pekerja tidakmengetahui tentang kelebihannya dalam bekerja yang layak
menerima ganjaran atau patut dihargai, karena berbeda dari pekerja lainnya.
Kecenderungan memberikan ganjaran/
insentif
secara sama tanpa membedakannya berdasarkan prestasi kerja, tidak akan
berfungsi sehagai motivasi.
d.
Apabila para pekerja terikat kontrak/perjanjian dengan serikat sekerja. Yang mengharuskan
sebagian insentif yang diterima diserahkan untuk jangka waktu yang cukup lama.
Jumlahnya yang cukup besar cenderung menimbulkan perselisihan dengan serikat sckerja,
yang bcrakibat merugikan organ isasi/perusahaan. Kerugian itu dapat berbcntuk
insentif yang diberikan tidak berfungsi sebagai motivasi, bahkan dapat
mendorong pekerja untuk memilih lebih baik berhcnti.
e.
Insentif sebagai tunjangan tidak akan berfungsi sebagai motivasi untuk peningkatan
prestasi jangka waktu lama, karena lebih dirasakan sebagai hak, yang tetap akan
diterima
meskipun
tidak berprestasi.
Berdasarkan kenyataan itu dalam memberikan insentif untuk
memotivasi, perlu diikuti prinsip pokok sehagai berikut:
a.
Berikan insentif hanya untuk pekerja yang produktif.
b.
Promosikan pekerja sebagai insentif non finansial/non material, atas dasar
produktivitasnya dalam bekerja.
Kedua prinsip pokok tersebut di atas dapat dijabarkansecara lebih
rinci sebagai berikut:
1)
Sistem insentif harus bersifat sederhana, dalam arti diatur secara jelas, dapat
dipahami, ringkas, dan sesuai dengan kepentingannya masing-masing.
2)
Pemberian insentif harus bersifat khusus, dalam arti pekerja mengetahui secara
tepat apa yang diharapkan perusahaan dari dirinya dalam bekerja, yang dapat
dikategorikan berhak
memperoleh
insentif.
3)
Dampak pemberian insentif dapat dinilai/diukur, dalam arti jumlah uang yang
dikeluarkan untuk insentif dapat dihitung melalui perbandingannya dengan hasil
yang dicapai, yang bila
menunjukkan
peningkatan, dapat diartikan berfungsi sebagai motivasi kerja.
4)
Perbaikan dan peningkatan mungkin diwujudkan, dalam arti insentif yang diberikan
dapat mendorong pekerja untuk melaksanakan sesuatu secara baik yang memang
mungkin dilaksanakannya. Apahila sesuatu yang diharapkan dalam bekerja tidak
mungkin dilaksanakan, maka insentif ticlak akan berfungsi untuk motivasi kerja.
E. SISTEM BALAS JASA YANG EFEKTIF UNTUK MEMOTIVASI PEKERJA
Balas jasa sebagai ganjaran harus dikaitkan denganmotivasi kerja.
Untuk mewujudkan sistem balas jasa yang efektif perlu ditempuh langkah-langkah
sebagai pedoman bagi seorang manajer. Langkah-langkah dimaksud adalah sebagai
berikut:
1.
Merumuskan Standar Pekerjaan.
Rumuskanlah standar pekerjaan yang tinggi, yangmenggambarkan volume
dan beban kerja yang harus dilaksanakan secara efektif dan efisien. Standar
pekerjaan secara
relatif
juga merupakan tujuan pekerjaan/jabatan. Semua sistem pemberian insentif sangat
tergantung pada standar pekerjaan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain
standar pekerjaan sebagai tujuan pekerjaan merupakan target bagi para pekerja
dalam melaksanakan tugas- tugasnya.
Dari sisi lain standar pekerjaan akan mempermudahseorang
supervisor dalam membagi dan memberikan tugas-tugas yang wajar/layak bagi
setiap pekerja.
Dalam kenyataannya tidaklah mudah merumuskan standar pekerjaan,
karena sangat sulit untuk menetapkan kategori efektif atau tidak pelaksanaan
suatu pekerjaan. Namun harus diusahakan agar standar pekerjaan dirumuskan
secara akuratdengan menetapkan volume dan beban kerja yang dikategorikan sebagai
pekerjaan yang produktif, jika dikerjakan secara efektifdan efisien. Di samping
itu tetapkan juga cara melaksanakannya atau cara bekerja yang juga paling
ideal. Dalam hubungannya dcngan insentif untuk motivasi kerja. standar
pekerjaan harus jelas menyatakan tingkat pengulangan pekerjaan yang mungkin
memperberat pelaksanaannya, demikian pula siklus(perputarannya) berjangka
pendek dan jelas pula hasil yang akan dicapai. Kejelasan itu akan mempermudah
penetapan hesarnya insentif yang akan diberikan, melalui usaha membandingkannya
dengan
standar pekerjaan lain, yang mungkin lebih ringan atau sebaliknya lebih berat.
Pemberian insentif akan lebih akurat jika standar pekerjaan perumusannya
dihubungkan
pula dengan aspek keamanan/ keselamatan dan kesehatan kerja, ukuran efisiensi
kerja dan kualitas kerja serta hasilnya yang diinginkan.
Akhirnya jika standar pckcrjaan telah ditetapkan, parapekerja
harus diheri peluang untuk memperoleh insentif antara 20% sampai dengan 25%
atau lebih dari gaji/upah dasarnya, tcrutama hagi yang tclah bekerja keras dan
bijaksana bagi perusahaan/organisasi.
Untuk Iebih mengarahkan perumusan standar pekerjaan(yang
diperlukan juga untuk Penilaian Karya), para manajer perlu memperhatikan
aspek-aspek sebagai berikut:
a.
Analisis Pekerjaan yang menghasilkan Deskripsi Pekerjaan/ Jabatan, harus dibuat
secara cermat karena merupakan sumber utama bagi perumusan standar pekerjaan.
b.
Di dalam Deskripsi Pekerjaan/Jabatan harus dirumuskan juga tentang cara/metode
kerja (studi kcgiatan/gerak), di samping isi pokoknya tentang volume (jenis dan
jumlah) pekerjaan
yang
harus dilaksanakan.
c.
Menetapkan juga deskripsi waktu yang dipergunakan (kecepatan kerja) yang
seharusnya dalam melaksanakan tugas-tugas (studi waktu).
Dengan mempergunakan standar pekerjaan sebagaimanatelah
dikemukakan terdahulu dapat ditetapkan pemberian insentif untuk memotivasi
pekerja. Sehubungan dengan itu perencanaan insentif untuk pekerja tingkat bawah
scbagaimana dikatakan di
atas,
bergerak antara 20% sampai dengan 25% dari upah/gaji dasar, yang perlu diatur
dalam dua dimensi sebagai berikut:
a.
Menetapkan insentif rata-rata/dasar yang jumlahnya sama untuk semua pekerja, bagi
yang telah bekerja keras dan bijaksana.
b.
Menetapkan insentif ekstra, untuk pekerja yang berprestasi. Insentif ini
termasuk juga untuk pekerja kunci/utama dalam produk lini, yang dapat dibedakan
sekitar 10% sampai dengan 25% dari insentif rata-rata/dasar tersebut di atas.
Apabila organisasi/perusahaan memberikan insentif yangcukup
tinggi, pada para pekerja dapat timbul tiga kekhawatiran, yang dapat
dikategorikan sebagai konflik dalam bekerja. Ketiga kekhawatiran tersebut
adalah:
a.
Insentif ekstra karena berprestasi dalam jumlah yang cukup besar, dikhawatirkan
para pekerja akan dikurangi manajer dengan insentif rata-rata, atau jika tidak
dikurangi dikhawatirkan manajer akan meningkatkan standar pekerjaan dengan
menambah volume/beban kerjanya.
b.
Pekerja juga sering mengkhawatirkan insentif ckstra sebagai tambahan
penghasilan yang berlebih-lebihan, oleh manajer kemudian ditetapkan keharusan
bekerja di luar tugas pokok
sebagai
usaha mengimbanginya.
c.
Insentif yang tidak membedakan jenjang/herarchi jabatan/ status pekerja dalam
kerja kelompok (tim) pada umuinnya disenangi oleh para pekerja, namun
menimbulkan kesulitan dalam mempadukan pekerja yang tinggi dengan yang rendah statusnya.
Untuk itu insentif sebaiknya dibedakan secarabertingkat berdasarkan
jabatan/status pekerja, agar yang
lebih
tinggi jabatannya merasa layak/wajar sesuai statusnya.
2.
Setelah memiliki Standar Pekerjaan seperti discbutkan dalam uraian-uraian di
atas, selanjutnya kembangkan Sistem Penilaian Karya (Performance Appraisal)
yang akurat.
Laksanakan
Penilaian Karya secara obyektif dan pergunakan hasilnya untuk menctapkan
insentif terutama berupa insentif ekstra. Dengan demikian hcrarti Penilaian
Karva harus difokuskan pada spesifikasi pekerjaan dan hasilnya, di samping
mengenai pelaksanaan (perilaku) dalam bekerja. Selanjutnya tetapkan sistem
pemberian ganjaran, terutama
berupa
pemberian insentif, berdasarkan perbedaan hasil Penilaian Karya yang menggambarkan
prestasi setiap pekerja.
3.
Selenggarakan pelatihan supervisor dalam pelaksanaan Penilaian Karya dan dalam
kemampuan menyampaikan umpan balik pada para manajer dan hawahan. Dengan
demikian
setiap pekerja akan merasakan kesamaan perlakuan dalam Penilaian Karya, yang
akan dijadikan dasar pemberian insentif ekstra. Di samping itu dengan umpan
balik yang
obyektif
diharapkan pekerja (bawahan) akan berusaha memperbaiki pelaksanaan
pekerjaannya, agar memperoleh kesempatan mendapatkan insentif ekstra. Sedang
bagi para manajer umpan balik dapat digunakan dalam memberikan motivasi kerja
bagi para bawahan, agar memperoleh insentif yang diharapkannya. Dengan kata
lain umpan balik
bagi
manajer akan berguna dalam memperbaiki keputusankeputusan dan kebijaksanaannya
dengan mengembangkan manajemen pekerjaan yang konstruktif, dalam rangka memotivasi
para pekerja bawahannya.
4.
Lakukanlah Penilaian Karya sccara kontinyu, tidak sekedar sekali setahun, agar
sistem ganjaran terutama pemberian insentif dapat dikaitkan secara ketat dengan
pelaksanaan pekerjaan atau prestasi kerja. Dengan kata lain sistem ganjaran tidak
boleh didasarkan pada hasil Penilaian Karya yang hanya dilakukan satu kali,
karena setiap saat mungkin saja terjadi peningkatan dan perhaikan pelaksanaan pekeijaan
oleh seorang pekerja. Dalam keadaan itu seorang pekerja yang kurang
berprestasi, mungkin saja sudah melakukan peruhahan dan perhaikan yang layak
mendapat insentif ekstra. Demikian Pula seorang pekerja lainnya yang dalam
Penilaian Karya dinyatakan berprestasi, karena berbagai kendala berubah menjadi
kurang berprestasi, sehingga sebenarnya tidak layak lagi memperoleh insentif
ekstra.
5.
Dalam melaksanakan sistem ganjaran, sebaiknya tidak terpaku hanya pada
pemberian inentif. Usahakan mengembangkan pemberian ganjaran sehagai kompensasi
tidak langsung, yang banyak merupakan ganjaran yang berharga bagi para pekerja.
Dari uraian-uraian di atas semakin jelas peranan insentifdalam
memotivasi para pekerja, terutama yang diberikan secara priodik dan yang diwujudkan
sebagai system balas jasa berdasarkan prestasi kerja setiap pekerja. Untuk
keperluan tersebut dibedakan pemberian insentif para eksekutif, pekerja tingkat
bawah yang sifatnya perseorangan dan insentif untuk pekerja dalam sebuah tim
(team) kerja.
1. Insentif untuk Para Eksekutif
Setiap perusahaan sebagai organisasi kerja bertujuanmencapai
keuntungan sebagai tujuan bisnisnya. Berhasilnya pencapaian keuntungan sesuai
Rencana Strategis bisnis, merupakan wujud dari eksistensi organisasi/perusahaan
yangkompentitif, dalam menghadapi pesaing yang terdiri dari organisasi/perusahaan
sejenis. Eksistensi seperti itu sangat tergantung pada pembayaran upah/gaji dan
insentif lainnya yang sesuai atau layak dengan pekerjaan yang dilakukan oleh
tenaga kerja di lingkungannya. bukan pada pekerjaan yang diperintahkan untuk
dikerjakannya Pekerjaan yang diperintahkan belum tentu dikerjakan, bilamana
motivasi untuk mengerjakannya rendah.
Salah satu faktor yang sangat besar pengaruhnya pada motivasikerja
sebagaimana telah berulang kali dikatakan adalah faktor upah/gaji dan insentif
lainnya. Faktor tersebut berlaku juga bagi para eksekutif, yang dalam
kegiatannya mewujudkan dan mempertahankan eksistensi organisasi seperti
disebutkan di atas harus mampu memenangkan pasar dari organisasi/perusahaan pesaingnya.
Berdasarkan identifikasi seperti itu berarti setiap organisasi/perusahaan perlu
memiliki eksekutif dengan karakteristik sebagai berikut
a.
Kelompok eksekutif yang stabil dan kompak untuk jangka panjang.
b.
Strategi eksekutif yang mantap untuk jangka waktu panjang.
Untuk memiliki kelompok eksekutif dcngan karakteristikseperti
disebutkan di atas, yang berarti juga merupakan tim eksekutif yang memiliki
motivasi kerja yang tinggi, organisasi/perusahaan harus mampu mengambangkan
Sistem Kompensasi Total secara integral. Sistcm tersebut yang mencakup
upah/gaji dasar, insentif dan kompensasi lidak langsung lainnya,
harusdiintegrasikan berdasarkan strategi pencapaian tujuan jangka
panjang.
Insentif untuk para eksekutif scbaiknya ditetapkan berupa tunjangan yang dibayarkan
bersama upah/gaji (jangka pendek) dan insentif jangka panjang. Kedua insentif itu,
biasanya ditetapkan berdasarkan persentasenya dari gaji/upah dasar. Dalam
kenyataannya insentif jangka panjang lebih berfungsi sebagai motivasi, dari
pada insentif jangka pendek yang bersifat rutin dan cenderung dipandang sebagai
hak.
1)
Insentif Jangka Pendek
Dalam merencanakan insentif ini seharusnya ditetapkandi luar aset
organisasi/perusahaan. Dengan demikian penetapannya harus didasarkan pada
indikator seperti keberhasilan perusahaan yang menyangkut faktor pendapatan bersih
dan keuntungan total yang diperoleh, setelah dipisahkan dari beberapa
penerimaan khusus untuk investasi. Bentuknya selain tunjangan, dapat berupa
pcmberian bonus, dengan persentase sebesar 35% untuk manajer senior dan 22%
bagi manajer menengah dari gaji/upah dasarnya masingmasing. Pembcrian bonus
yang dilakukan secara berkala,
lebih
berfungsi sebagai motivasi daripada insentif berbentuk tunjangan yang diberikan
secara tetap.
2)
Insentif Jangka Panjang.
Insentif ini sebaiknya didesain berupa strategi pemberianganjaran
berdasarkan keuntungan, yang besarnya disesuaikan dengan kontribusi masing-masing
dalam meraih keuntungan secara berkala. Besarnya kontribusi berarti persaingan dalam
prestasi, sehingga sangat penting peranannya dalam memotivasi para manajer.
Strategi ini antara lain akan selalu membuka peluang bagi diciptakannya suatu
proses baru dalam memproduksi barang atau jasa, dihasilkannya rencana dan
produk baru, terbukanya pasar baru atau berkembangnya pasar yang lama dalam
pemasaran produk organisasi/ perusahaan. Dengan kata lain strategi ini
berpengaruh pada pelaksanaan pekerjaan yang bersifat kualitatif, bukan pekerjaan
yang bersifat kuantitatif, sesuai dengan volume dan beban tugas para manajer. Dengan
strategi ini para manajer menyadari bahwa gagasan, kreativitas, intuisi,
kecepatan dan ketetapan waktu serta keberanian dalam berbisnis,
menjanjikan
insentif yang lebih besar melalui keuntungan atau sukses maksimal yang dicapai
oleh organisasi/perusahaan.
2. Insentif untuk Pekerja Tingkat Bawah
Insentif ini sebenarnya telah banyak dibahas dalam
uraianuraianterdahulu, yang sifatnya adalah pemberian tambahan penghasilan di
samping upah/gaji dasar yang diterima oleh para pekerja. Dalam mewujudkan insentif
ini selalu dikaitkan dengan kemampuan pelaksanaan pekerjaan, yang diukur dari
standar pekerjaan. Oleh karena itu insentif ini tidak akan dibahas ulang, karena
dapat diimplementasikan dengan menggunakan uraian-uraian terdahulu. khususnya tentang
standar pekerjaan dalam sub bab ini juga.
3. Insentif Tim (Team)
Insentif dapat juga diberikan pada tim/kelompok kerja,dengan
tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan memperbaiki moral kerja, sehingga
berarti berfungsi sebagai motivasi. Di samping itu motivasi kerja biasanya
telah lebih dahulu muncul,
karena
merasa ikut dipercayai untuk berpartisipasi melaksanakan tugas-tugas atau
memecahkan masalah organisasi/perusahaan melalui kerja dalam kelompok. Dalam
kondisi seperti itu, maka pemberian insentif akan semakin memperkuat motivasi
kerja. Insentif tim pada dasarnya merupakan insentif individual, yang diperoleh
karena menjadi anggota tim atau yang diperoleh berdasarkan hasil kerja tim/kelompok.
Misalnya berupa bonus karena keberhasilan tim meningkatkan produktivitas atau
memperluas pasar. Tim dapat dibedakan antara Tim Kecil dengan anggotanya terdiri
dari 4 sampai dengan 7 orang pekerja, dan Tim Besar dengan 30 sampai dengan 40
orang pekerja sebagai anggotanya. Dalam pengertian yang lebih luas, bahkan
suatu unit kerja (Bagian, atau biro, atau departemen), dapat dipandang/
ditempatkan sebagai sebuah tim kerja. Dengan demikian Tim Kerja dapat diartikan
sebagai penugasan sejumlah pekerja untuk bekerjasama dalam melaksanakan suatu
pekerjaan, karena memikul tugas dan tanggung jawab atau jabatannya memiliki
saling keterkaitan
dengan
pekerjaan yang harus diselesaikan. Sedang insentif tim berarti insentif yang
diberikan pada anggota suatu tim yang sebagai satu kesatuan hekerjasama
melaksanakan tugas-tugas yang sama, pada waktu yang sama pula.
Insentif Tim sebagaimana diuraikan di atas memilikikebaikan
sebagai berikut:
a.
Memungkinkan memberi ganjaran kepada pekerja yang tidak langsung berperan dalam
proses produk lini, di antaranya yang bertugas memberikan pelayanan sebagai
tugas yang sangat esensial bagi sebuah organisasi/perusahaan. Dengan kata lain
memungkinkan memberikan insentif pada pekerja di luar produk lini dan pemasaran,
yang sebelumnya hanya menerima upah/gaji dasar sebagai reguler.
b.
Mendorong terwujudnya kerjasama dalam melaksanakan pekerjaan dalam rangka
mencapai tujuan bisnis organisasi,bukan persaingan yang bersifat saling
menghalangi yang dapat merugikan organisasi/perusahaan. Di samping itu insentif
tim juga memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
a.
Dikhawatirkan manajer akan mengurangi insentif secara merata, terutama jika
hasil kerja tim melampaui target dan tidak dapat dipasarkan.
b.
Dapat terjadi persaingan tidak sehat antara tim (team) kerja.
c.
Tidak memungkinkan pekerja mengetahui kontribusinya secara individual, karena yang
dicapai adalah hasil kerja bersama atau hasil kerja tim. Dengan demikian
berarti pekerja sebagai individu tidak mengetahui hubungan antara usahanya
(kelebihan atau kekurangannya) dengan ganjaran yang diterimanya. Di antaranya
akan ada pekerja yang merasa pemberian insentif kurang wajar/adil, karena telah
bekerja keras dengan mendapat insentif yang sama dengan pekerja lain yang santai.
Kondisi seperti itu justru dapat memperlemah atau mengurang motivasi kerjanya untuk
lebih produktif.
F. PENGEMBANGAN INSENTIF DALAM MEMOTIVASI PEKERJA
Dalam uraian tentang Kompensasi Tidak Langsungtelah dikemukakan
beberapa bentuk/jenisnya, yang dalam kenyataannya ikut berpengaruh terhadap motivasi
kerja. Tiga
jenisnya
yang besar pengaruhnya terhadap motivasi kerja adalah sebagai berikut:
1.
Pemberian/berbagi manfaat (profit) bagi pekerja.
2.
Pemberian/berbagi keuntungan (gain) organisasi/perusahaan.
3.
Saham milik pekerja.
Ketiga bentuk kompensasi tidak langsung tersebut di atassebagai
pengembangan sistern pemberian inscntif, dimaksudkan untuk meningkatkan kontribusi
pekerja melalui peningkatan produktivitas masing-masing, karena memiliki
motivasi kerja yang tinggi.
1. Pemberian/Berbagi Manfaat (Profit)
Cara ini dilakukan dengan memhcrikan bonus secaranormal atau
bcrdasarkan persentase (10% sampai dengan 30%) dari keuntungan organisasi/perusahaan.
Pembagiannya dilakukan dengan menetapkan batas bonus terendah (minimum). Apabila
organisasi/pcrusahaan hanya mampu mcmberikan manfaat ini, jumlah/persentase
dapat dibuat menjadi insentif fleksibel dengan beberapa variabel, sehingga
tidak sekedar berbcntuk insentif finansial. Variabel terscbut sebaiknya dipilih
yang menggambarkan kebijaksanaan manajer dalam mengelola hubungan yang harmonis
dengan pekerja. Misalnya berupa bantuan kesehatan, melahirkan. Tunjangan Hari
Raya, Tunjangan
Hari
Natal dan lain-lain. Insentif ini untuk meningkatkan motivasi kerja sangat umum
dipergunakan. Sehubungan dengan itu perlu diketengahkan beberapa alasan
pemberian ganjaran dengan cara ini. Alasan dimaksud adalah:
a.
Insentif ini sebagai satu paket dapat saling menunjang dalam meningkatkan motivasi
yang berdampak pada peningkatan produktivitas pekerja.
b.
Insentif ini dapat dilembagakan menjadi suatu struktur ganjaran yang fleksibel,
yang diselenggarakan untuk merefleksikan posisi/kekuatan nyata
perusahaan/organisasi
secara
ekonomis. Dengan demikian dalam kondisi/posisi ekonomis perusahaan cukup, maka
seluruh unsur di dalam paket ganjaran dapat dilaksanakan. Sebaliknya jika
posisi
tersebut
melemah, salah satu atau beberapa unsur di dalam paket ganjaran dapat ditunda
atau dikurangi.
c.
Insentif ini dapat meningkatkan jaminan kesejahteraan bagipara pekerja.
d.
Insentif ini berfungsi untuk memudahkan penarikan (rekrutmen) dan
mempertahankan pekerja yang potensial.
e.
Insentif ini dapat mendidik pekerja secara individual untuk memahami kedudukannya
dalam memberikan kontribusi sebagai faktor yang menentukan sukses organisasi/
perusahaan.
Dengan demikian pekerja akan memahami pula bahwa ganjaran yang diterimanya
merupakan bagian dari sistem permodalan (capitalistic system), yang berpengaruh
pada keuntungan organisasi/perusahaan.
2. Pemberian/Berbagi Keuntungan (Gain)
Insentif ini merupakan sistem formal dalam pemberianganjaran
dengan menetapkan bcsarnya bonus dalam terbentuk uang (finansial) berdasarkan
perhitungan selisih antara hesarnya pembiayaan (cost) yang ditargetkan dengan yang
dipergunakan secara nyata, selama satu periode pemberian bonus. Dengan demikian
berarti besarnya bonus tergantung pada kemampuan mereduksi pembiayaan (cost), yang dapat terjadi jika
pekerja mampu meningkatkan produktivitas.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, berarti terdapattiga
unsur (elemen), yang berpengaruh terhadap pemberian keuntungan dengan sistem
ini. Ketiga unsur tersebut adalah:
a.
Didasarkan pada Filsafat Kerjasama.
Insentif ini biasanya hanya dilaksanakan oleh
organisasi/perusahaan yang menempatkan pekerja sebagai partner dengan mengembangkan
huhungan kerjasama dalam pelaksanaan pekerjaan. Iklim yang dikembangkan dalam organisasi
berkarakteristik saling mempercayai, dengan membangun komunikasi dua arah, dan
mendorong partisipasi
pekerja
melalui hubungan industrialis yang harmonis dan bersifat manusiawi. Dengan filsafat
seperti itu, maka para manajer selalu mampu menghargai pekcrja sebagai subyek, yang
akan tinggi motivasi kerjanya apabila memperoleh rasa aman dan puas dalam
bekerja, antara lain melalui pemberian insentif yang memadai.
b.
Mengutamakan Sistem Pengikutsertaan Pekerja.
Bertolak dari filsafat seperti tersebut di atas, pelaksanaanpekerjaan
akan didesain dan berlangsung dalam proses kerjasama yang terarah pada usaha
memperbaiki dan meningkatkan produktivitas. Untuk itu cara utama yang dapat ditempuh
adalah dengan sistem pengikutsertaan pekerja dalam melaksanakan pekerjaan atau
memecahkan masalah-masalah organisasi/ perusahaan. Implementasinya antara lain dengan
mewujudkan staf pembantu manajer sebagai komite yang diambil dari para pekerja
yang potensial, kerja dalam tim (team), dan yang paling sederhana adalah
manajer yang bersifat terbuka terhadap saran-saran para pekerja. Dengan implementasi
seperti itu, pemberian insentif akan dilakukan dengan menggunakan prestasi atau
tingkat produktivitas sebagai ukuran dalam keikutsertaan pekerja dalam melaksanakan
tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan organisasi/perusahaan.
c.
Berfokus pada bonus berupa uang.
Insentif utama untuk memolivasi keikutsertaan dalampelaksanaan
pekerjaan ditetapkan dalam bentuk uang (finansial), yang dipandang
layak/memadai. Periode pemberian bonus berjangka waktu pendek, yang dibayarkan dari
keuntungan berjangka waktu pendek pula. Bila kedua jenis insentif untuk memotivasi
kerja seperti tersebut di atas akan dibandingkan, maka dapat digambarkan dengan
label berikut ini.
Tabel 13. Perbedaan insentif berbagi manfaat dan berbagai
keuntungan Berbagai Manfaat Berbagi Keuntungan
3. Saham Milik Pekerja
Insentif dapat diberikan dalam bentuk Rancangan SahamMilik Pekerja
(Employee Stock Ownership Plans disingkat ESOPs), yang berpengaruh langsung
pada motivasi kerja. Insentif ini merupakan perluasan sistem ganjaran berupa
penyerahan sejumlah saham perusahaan pada pekerja. Di samping itu dapat juga
dilakukan dengan memberikan kcsempatan kepada pekerja untuk membeli saham
perusahaan di bawah harga pasar,
sehingga
akan membawa dampak yang menguntungkannya. Cara ini dapat digunakan oleh
organisasi/perusahaan besar atau kecil, yang akan memberikan motivasi kerja,
karena pekerja merasa ikut memiliki dan bertanggung jawab pada keberhasilan
organisasi/ perusahaan. Dengan kata lain kegagalan berupa kerugian perusahaan,
berakibat kerugian pula bagi pekerja sebagai pemilik saham perusahaan, sehingga
tidak ada pilihan lain selain harus bekerja dengan
motivasi yang tinggi.



Komentar
Posting Komentar