Lingkungan Organisasi, Konflik, dan Manajemen Perubahan
BAB VII
LINGKUNGAN ORGANISASI, KONFLIK DAN
MANAJEMEN PERUBAHAN
Yang dimaksud dengan lingkungan organisasi/bisnis di sini
ialah lingkungan
eksternal
yang terdiri dari lingkungan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan-keamanan
dan teknologi. Lingkungan bisnis itu sifatnya dinamis dan sering memperngaruhi
organisasi sehingga menimbulkan gejolak-gejolak bahkan konflik di dalam
organisasi. Ini memerlukan pengelolaan tersendiri karena segala sesuatu
mengalami perubahan.
Lingkungan Organisasi/Bisnis
Kita tahu bahwa kondisi lingkungan itu dinamis. Kita juga
tahu bahwa lingkunganorganisasi itu terdiri atas lingkungan ideologi, politik,
ekonomi, sosial-budaya, pertahanan-keamanan dan teknologi, baik lokal,
provinsional, nasional, regional, maupun internasional yang semuanya
mempengaruhi organisasi baik dalam kegiatan fungsionalnya maupun
operasionalnya.
Lingkungan ideologi nasional pada hakikatnya sudah kita sepakati bersama,
yaituideologi Pancasila yang merupakan Dasar Negara Indonesia. Pancasila
kemudian dicantumkan kembali di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945, yaitu dalam Pembukaannya. Selanjutnya kita memiliki
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan oleh Presiden
Republik Indonesia dalam pidato Kenegaraan di depan Sidang Dewan Perwakilan
Rakyat pada setiap tanggal 16 Agustus. Lingkungan ideologi nasional tidaklah
menjadi masalah bagi kita; lingkungan ideologi internasional yang harus kita
waspadai karena mempengaruhi kehidupan bangsa dan negara. Kapitalisme,
komunisme, sosialisme dan fasisme berusaha untuk menanamkan pengaruhnya pada
masyarakat sehingga tidak jarang menimbulkan gejolak. Apabila kita tidak
bersiap diri maka kita akan terbawa-bawa sehingga tanpa sadar kita terlena pada
misi kita mencapai tujuan pembangunan nasional.
Lingkungan politik (dan
hukum) mestinya harus menunjang pencapaian ekonomiyang sejahtera. Para pelaku politik
tidak boleh mendahulukan kepentingan sendiri atau golongan namun harus
mengutamakan kepentingan negara dan bangsa serta harus mengikuti peraturan
permainan. Dengan makin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap
praktek-praktek dunia bisnis yang tidak benar (konsumerisme) maka Pemerintah
sebagai kekuatan politik yang mewakili masyarakat di samping mengadakan
regulasi, debiroktisasi dan dekonsentrasi perlu pula memperhatikan pengendalian
administratif yang benar untuk meningkatkan kewibawaan Pemerintah. Selain itu
sikap terhadap sektor perekonomian perlu ditingkatkan.
Lingkungan ekonomi yang
cendrung mengarah ke meningkatnya persaingan,
internasionalisasi/globalisasi
operasi bisnis, harga-harga yang meningkat, tuntutan pelayanan yang lebih baik,
serta kegiatan industri dan jasa-jasa, menuntut usaha yang lebih dari
manajemen. Manajemen harus mampu meramal apa yang akan terjadi di masa yang
akan datang, mengindentifikasi masalah secara dini dan menyelesaikan masalah
dengan cepat dengan menggunakan strategi, kebijaksanaan dan program-program
serta mengubah struktur organisasi bila perlu, mengadakan pengarahan kembali,
koordinasi yang lebih baik serta pengawasan yang efisien dan efektif. Faktor
ekonomi yang dominan perlu diperhatikan seperti: kredit, penghasilan, kemampuan
masyarakat mengadakanpengeluaran, tingkat bunga, pajak, kurs valuta, PDB,
distribusi penghasilan,penghasilanper kapita dan tingkat upah.
Lingkungan sosial dan budaya bertalian dengan etika atau penentuan
baik-buruk,benar-salah, dan tugas-wajib. Masyarakat telah mulai sadar akan
penting perlunya tanggung jawab sosial organisasi atau bisnis. Disamping itu
perlu diperhatikan kecendrungan makin banyaknya tenaga kerja wanita, pendidikan
yang makin maju yang menghasilkan angkatan kerja yang makin pandai dan makin
tinggi tuntutannya, harapannya serta norma-normanya. Berkembangnya penduduk,
angkatan kerja, struktur kerja, partisipasi kerja, dan pendidikan mempengaruhi
nilai-nilai sosial budaya. Nilai-nilai dewasa ini cepat berubah. Semula orang
puas dengan pemecahan atau pendekatan mekanistik dan paternalistik, namun
sekarang masyarakat menghendaki pendekatan situasional. Orang tidak lagi sudi
dijadikan pelengkap mesin dan dirayu dengan sistem pengayoman; sekarang mereka
meminta pemecahan yang segera sesuai dengan situasi dan kondisi yang berubah.
Lingkungan teknologi juga mempengaruhi masyarakat. Teknologi dapat merubahsegala
sesuatu secara cepat/dalam waktu yang relatif pendek dan sering masyarakat
tidak siap atau disiapkan menghadapi perubahan tersebut. Inovasi pada bidang
otomasi, komputer, robot, bio-teknologi, energi dan sumber daya alam lainnya
mempengaruhi produktifitas masyarakat. Dukungan dari struktur yang ada serta
kinerja manusia sering tertinggal sehingga di mana-mana terjadi kesenjangan.
Lingkungan pertahanan-keamanan perlu pula diperhatikan karena ini akan menjaminkehidupan
perekonomian. Selain itu situasi pertahanan dan keamanan yang stabil tetapi
dinamis akan memantapkan kehidupan masyarakat banyak sehingga mereka sempat
untuk mengadakan atau menyesuaikan diri pada perubahan yang terjadi dengan
tenang.
Jadi jelas bahwa lingkungan luar organisasi/bisnis tidak
pernah statis. Para pengelolaorganisasi atau manajer bertanggung jawab untuk
mengidentifikasi kesempatan untuk berkembang. Namun karena banyaknya perubahan
yang harus ditangani, manajemen perlu mengidentifikasi
faktor lingkungan yang sifatnya kritis,
yaitu kecendrungan, peristiwa dan kekuatan yang mempunyai dampak yang positif
maupun negatif pada operasi organisasi.
Selanjutnya perlu selalu dipantau segala perubahan yang
muncul di dalam faktorlingkungan kritis tersebut. Akhirnya perlu diramalkan
dampak kumulatif pada
karakteristik
industri dan berbagai faktor lingkungan. Lingkungan luar sangat menentukan
keberhasilan organisasi/lembaga/badan usaha. Penentuan faktor keberhasilan
memerlukan analisis terhadap karakteristik
industri, yaitu
(1)
sifat dan tingkat persaingan yang dihadapi organisasi, (2) kekuatan bersaingan
dari substitusi yang ada, (3) hambatan masuk ke dalam industri, (4) kekuatan
langganan atau para pembeli, dan (5) kekuatan para pemasok.
Persaingan di dalam industri datang dari adanya persaingan
harga, dikenalkannyaproduk baru, perang iklan, pernaikan pelayanan pada
langganan, dan jaminan yang lebih baik. Persaingan makin berat bila dalam
industri tersebut banyak bisnisnya dan besar operasinya sama. Sebaliknya
persaingan di dalam industri dapat diperkecil bila ada hambatan masuk ke dalam
industri, yaitu perlunya ekonomi skala, modal besar, saluran distribusi, merek
dan besarnya kesetiaan langganan, peraturan pemerintah (negative list:
daftar usaha yang tertutup), usaha badan usaha lain untuk mengadakan perlawanan
dengan biaya berpindah usaha yang tinggi.
Persaingan
akan meningkat bila unsur teknologi masuk sehingga pesaing dapat
menekan
biaya, memperbaiki fungsi produk lama dan menciptakan produk baru
denganpengganti produk yang ada.
Apabila pembeli menuntut harga lebih rendah, kualitas yang
lebih baik, pelayananyang lebih baik, persyaratan jaminan yang lebih baik serta
memaksa produsen/penjual untuk melakukan hal-hal yang merugikan
produsen/penjual lain, maka persaingan akan semakin sengit.
Demikian pula bila pemasok memiliki kekuatan tertentu
melalui biaya yang lebihrendah, harga, kualitas, dan lain-lain maka ini akan
membantu mengubah konstelasi persaingan.
Konflik
Apabila sistem komunikasi dan informasi tidak menemui
sasarannya, timbullah salahpaham atau orang tidak saling mengerti. Hal ini akan
menjadi salah satu sebab timbulnya konflik atau pertentangan dalam organisasi.
Konflik dapat juga timbul sebagai hasil hubungan pribadi, ketidaksesuaian
tujuan atau nilai-nilai pribadi karyawan dengan perilaku yang harus diperankan
pada jabatannya, atau perbedaan persepsi. Selain itu konflik yang timbul karena
struktur organisasi, para anggota berebut sumberdaya yang terbatas. Akhirnya
konflik dapat juga timbul karena dinamika perubahan, akibat perubahan di dalam
lingkungan. Orang menjadi tidak puas pada situasi yang sama padahal di luar
sudah berubah.
Konflik merupakan pertentangan ingin menang salah satu
pihak. Pertentangan inipada hakikatnya karena kepentingan, tujuan dan
nilai-nilai yang berbeda. Konflik itu bermacam-macam yaitu:
(1)
Konflik peranan (person-role conflict) yang tejadi di dalam diri seseorang;
peraturan yang berlaku tidak dapat diterimanya sehingga dia memutuskan untuk
tidak
melakukan sesuatu sesuai dengan peraturan yang berlaku.
(2)
Konflik antar peranan (inter-role conflict) yang terjadi bila seseorang
mempunyai
dua
fungsi yang pelaksanaannya saling bertentangan.
(3)
Konflik yang timbul karena seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang
(intersender
conflict).
(4)
Konflik yang terjadi karena disampaikannya informasi yang saling bertentangan.
Kelompok
konflik (1) meminta kesadaran orang untuk menaati peraturan yang ada
atau
memerlukan kesetiaan orang pada organisasi. Kelompok konflik (2) dapat
dihindari dengan mendefinisikan kembali tugas yang terlebih dahulu
dispesialisasikan dan dialokasikan pada seorang tertentu, sehingga akibat
negatif dwifungsi minimum. Kelompok konflik (3) dapat dihindari dengan
memperlakukan sama semua pihak yang
berkepentingan.
Kelompok konflik (4) dapat dihindari dengan sistem informasi yang lebih baik
misalnya dengan adanya buku pedoman kerja/petunjuk.
Selain itu konflik dapat dikelompokkan pula ke dalam (1)
konflik dalam individu, (2)konflik antar individu dalam organisasi yang sama,
(3) konflik antara individu dan kelompok, (4) konflik antar kelompok dalam
organisasi yang sama, dan (5) konflik antar organisasi.
Fred Luthans membagi konflik ke dalam (1) konflik hirarkis,
(2) konflik fungsional,(3) konflik lini-staf dan konflik formal-informal.
March dan Simon mengemukakan berbagai sebab utama konflik
(organisasional):
(1)
Kebutuhan untuk membagi sumberdaya yang terbatas tersedianya.
(2)
Perbedaan tujuan.
(3)
Saling ketergantungan kegiatan-kegiatan kerja.
(4)
Perbedaan nilai-nilai atau persepsi.
(5)
Fungsi ganda organisasi.
(6)
Gaya-gaya individual.
Seperti telah dikemukakan diatas konflik di dalam organisasi
itu sebabnya bermacammacam.Terlepas dari ini, menurut pandangan tradisional,
konflik harus dihindari karena hal tersebut menunjukkan malafungsi di dalam
organisasi. Tetapi menurut pandangan mahzab hubungan kemanusiaan, konflik itu
adalah hasil alami dan tak dapat dihindari dan mungkin merupakan kekuatan yang
dapat menunjang pada kinerja organisasi. Pandangan interaksi bahkan lebih jauh
lagi dengan mengatakan bahwa konflik merupakan suatu keharusan mutlak agar
organisasi berkinerja efektif. Bagaimanapun juga ada konflik yang sifatnya
fungsional yaitu menunjang tujuan organisasi, adapula konflik yang tak
menunjang atau bersifat disfungsional, mencegah organisasi mencapai tujuan.
Apakah konflik itu fungsional atau disfungsional perlu dikelola dengan baik.
Teknik-tekniknya adalah sebagai berikut:
(1)
Menyelesaikan soal atau konfrontasi yang berusaha untuk memecahkan perbedaan
paham dengan menghadapkan pihak-pihak yang berkonflik. Cara ini biasanya untuk
menyelesaikan masalah sifatnya ringan, misalnya salah pengertian atau salah
tafsir.
(2)
Adanya tujuan yang berada diatas segala-galanya yang dikehendaki oleh
pihak-pihak yang bersengketa. Tujuan ini menjamin kedamaian jangka panjang dan
memaksa ketergantungan serta mempererat kerja sama.
(3)
Penambahan sumberdaya sehingga pihak-pihak dapat memiliki kesempatan yang sama
menikmati sumber daya yang disediakan sehingga mengurangi ketegangan.
(4)
Penghindaran merupakan penyelesaian jangka pendek atas konflik yang timbul.
Masing-masing
pihak mengundurkan diri dari kancah konfrontasi.
(5)
Penghalusan merupakan proses tidak memperdulikan perbedaan antara individu atau
kelompok namun mencurahkan perhatian pada kepentingan bersama.
(6)
Kompromi merupakan penyelesaian konflik di mana masing-masing pihak menyerahkan
atau bersedia mengorbankan sesuatu yang bernilai. Ini termasuk turut
campurnya
pihak ketiga.
(7)
Pemaksaan adalah penyelesaian konflik melalui penggunaan wewenang formal.
Pihak-pihak yang berkonflik menuruti apa yang dikatakan atasan sehingga memaksa
mereka untuk mengakui dan menerima wewenang atasan.
(8)
Mengubah struktur organisasi bila sumber konflik adalah dari struktur
organisasi.
Apa
yang dikemukakan di depan adalah cara-cara menyelesaikan konflik. Di bawah
ini
dikemukanan cara-cara menstimulasi konflik agar kinerja unit dapat ditingkatkan.
Cara
tersebut adalah:
(1)
Mengubah struktur organisasi sehingga menimbulkan pendapat yang berbeda,
konflik, dan lain-lain dan justru ini membawa orang ke pembaharuan.
(2)
Penggunaan komunikasi misalnya dengan membacakan sesuatu dapat dipakai untuk
memantau pendapat mereka yang berkonflik sehingga sebab-sebab konflik dapat
ditanggulangi.
(3)
Menggunakan orang luar untuk mendorong hal baru sehingga pihak yang berkonflik
menghadapi
bersamaan hal baru dan lupa akan konflik mereka.
(4)
Meningkatkan persaingan, misalnya dengan mengharuskan pimpinan divisi
mengusulkan
dan mempertahankan kebutuhan berdasar alokasi masa lalu, dapat
menstimulasi
konflik. Masing-masing pihak berusaha untuk mendapatkan porsi yang
terbanyak,
sekaligus melatih mereka bekerja lebih efisien.
(5)
Pemrakarsa topik yang selalu bertentangan dengan pendapat umum misalnya dalam
rapat untuk memancing konsep/ide baru dari anggota organisasi karena idenya
selalu dinilai tak benar.
Manajemen Perubahan
Perubahan adalah proses yang menjadikan sesuatu/situasi lain
daripada yang sudahada. Perubahan yang dimaksud di sini adalah yang terjadi
pada orang, struktur atau teknologi. Adapun faktor yang menyebabkan perubahan
itu sifatnya inernal maupun eksternal. Yang internal timbul dari perubahan tujuan,
strategi, kebijaksanaan dan program yang biasanya karena perubahan eksternal.
Struktur organisasi perlu dirancang bangun kembali, karyawan disesuaikan atau
dikembangkan dan sarana juga harus di tata kembali disamping sikap para
anggota, gaya manajerial dan lain-lain. Manajemen sendiri dapat berlaku sebagai
agen perubahan. Perubahan dari luar mungkin datang dari pasar, pemerintah
dengan peraturannya, perubahan ekonomi, teknologi baik dari dalam negeri atau
luar negeri.
Tujuan perubahan itu sendiri apakah perubahan siklikal atau
struktural sifatnya,adalah (1) penyesuaian diri dengan lingkungan
eksternal agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan mudah dan bahwa (2)
perilaku anggotapun dapat berubah sehingga lebih dapat mampu menanggulangi hal
yang telah berubah.
Untuk
itu semua perlu dikembangkan pola pendidikan dan latihan bagi para anggota agar
sesuai dengan kebutuhan. Selain itu perubahan harus melalui proses demokrasi.
Bagaimanapun juga perubahan tidak selalu lancar. Ada
kemungkinan bahwa
perubahan
mengalami hambatan. Para anggota justru menolak atau tidak menghendaki adanya
perubahan dan segala sesuatu dibiarkan sebagaimana adanya sekarang, atau statusquo.
Dapun sebab-sebab yang tidak menghendaki perubahan adalah ketidakpastian,
khawatir terjadi kesempatan yang hilang dan bahwa perubahan bukanlah demi
kepentingan organisasi yang baik.
Untuk menanggulangi penolakan terhadap perubahan ini
berbagai cara dapat dipilih.Namun sebelum membicarakannya perlulah dikaji proses perubahan itu
sendiri karena keberhasilan suatu perubahan memerlukan: (a) mengeluarkan dari
kotak status quo, (b) mengubahnya ke situasi baru dan (c) mengembalikannya pada
perubahan baru yang sifatnya permanen. Kekuatan yang mendorong perubahan perlu
di dukung, atau kekuatan yang menghambat perubahan perlu dihilangkan, atau
keduanya digabung.
Perubahan
melalui berbagai tahapan yaitu:
(1)
Adanya tekanan pada manajer puncak, sehingga tergugah untuk menaggapinya, atau
muncul kebutuhan untuk mengadakan perubahan, dan yang bersangkutan mengambil
tindakan.
(2)
Intervensi di puncak dilanjutkan dengan orientasi kembali pada masalah yang
dihadapi secara internal.
(3)
Diagnosis masalah disusul dengan adanya pengakuan terdapatnya masalah khusus.
(4)
Penemuan cara penyelesaian yang baru disusul dengan pengikatan diri (komitmen)
perlunya tindakan baru.
(5)
Mencoba cara penyelesaian baru serta menunggu hasilnya, dan
(6)
Menegasksan hasil-hasil positif, menciptakan praktek baru.
Cara
menanggulangi penolakan terhadap perubahan adalah:
(1)
Pendidikan dan komunikasi.
(2)
Partisipasi.
(3)
Pembinaan fasilitas dan dukungan.
(4)
Negoisasi.
(5)
Manipulasi (usaha tertutup untuk mempengaruhi).
(6)
Pemaksaan/penekanan.
Seyogyanya butir (1), (2) dan (3) didahulukan penerapannya
daripada awal mula kita
memanfaatkan
(4), (5) dan (6). sedangkan teknik mengelola perubahan bergantung pada apa yang
akan diubah manajer. Perubahan dapat terjadi pada orang, struktur,
dan teknologi. Perubahan pada diri orang meliputi sikap, keterampilan,
harapan, persepsi, atau perilaku. Perubahan struktur mencakup semua perubahan
dalam wewenang, mekanisme koordinasi, derajat sentralisasi, rancang bangun
kembali desain, serta variabel struktur lainnya. Perubahan teknologi meliputi
perubahan terhadap cara perumusan atau metode dan peralatan yang dipakai.
Perubahan orang
dapat dengan cara (1) pengembangan
organisasi, (2) pelatihankepekaan, (3) umpan balik survi, (4) konsultasi, (5)
penggunaan tim dan (6) pengembangan antar kelompok. Pengembangan organisasi
merupakan teknik mengubah orang dan kualitas hubungan kerja antar pribadi. Pelatihan
kepekaan merupakan metode mengubah perilaku melalui interaksi kelompok yang tidak
distrukturkan. Umpan balik survei adalah teknik menilai sikap, mengidentifikasi
perbedaan di antara mereka, dan menyelesaikan perbedaan serta memecahkan
perbedaan dengan cara memanfaatkan informasi survei dalam kelompok pengumpan
balik. Pada konsultasi, diundang orang luar yang mampu membantu manajer
mengungkap, mengerti dan bertindak berdasarkan peristiwa yang terjadi. Pada
interaksi antar pengganti tim kerja diizinkan para anggota tim mempelajari
bagaimana masing-masing berpikir dan bekerja. Dalam hal pengembangan
antar
kelompok diharapkan sikap, stereotipe dan persepsi kelompok kerja terhadap
kelompok
kerja yang lain berubah (ke arah yang baik).
Perubahan struktur dilakukan melalui komponen-komponennya:
tanggung jawab,wewenang, pelaporan, fungsi, hubungan, dan lain-lain. Cara lain
adalah mengubah desain struktural dari fungsi ke divisi, sehingga perlu
didesain kerja baru dan jadwal kerja.
Perubahan teknologi dilakukan dengan memperkenalkan alat,
metode, sarana baru,otomasi serta komputerisasi.
Semua itu perlu disiplin tertentu, inisiatif (prakarsa,
kreativitas dan inovasi. Disiplinadalah sanksi formal yangdipakai manajemen untuk
membenahi perilaku yang tak diinginkan. Sedang inisiatif adalah usaha yang diawali
oleh diri pribadi tanpa ada pengaruh dari orang lain. Kreativitas adalah
mengkombinasikan ide dengan cara unik atau menggabungkan ide secara khusus
sedang inovasi adalah proses mendapatkan ide yang kreatif dan menjadikannya
produk jasa yang bermanfaat atau metode operasi yang berguna. Suatu budaya
tertentu diperlukan untuk menciptakan iklim yang menstimulasi inisiatif,
kreativitas dan inovasi. Budaya itu ialah (1) toleransi terhadap resiko, (2) pengendalian
eksternal minimum, (3) kegiatan kerja yang beraneka ragam, (4) tak perlu banyak
hal khusus, (5) konflik ditoleransi, (6) berkiblat pada tujuan, dan (7)
komunikasi ke segala arah.


Komentar
Posting Komentar