Kewiraswastaan dan Perencanaan Bisnis
BAB VI
KEWIRASWASTAAN
DAN PERENCANAAN BISNIS
A. MENCIPTAKAN
BISNIS BARU
Setiap tahun didirikan ratusan ribu bahkan jutaan bisnis
kecil di dunia. Bisnis kecil diciptakan oleh para pengusaha yang memiliki ide
bisnis dan bersedia menginvestasikan uang mereka untuk mendukung ide tsb.
Kegiatan bisnis kecil yang bergerak di bidang perdagangan diklasifikasikan
secara garis besar, yaitu:
a. Skala
besar, dengan modal > Rp100 juta
b. Skala
sedang, dengan modal Rp 25 juta – Rp 100 juta
c. Skala
kecil, dengan modal < Rp 25 juta.
Di Indonesia, ada bisnis yang lebih kecil lagi yang disebut
sektor informal, seperti: pedagang kaki lima, pedagang makanan/minuman
keliling. Ciri-ciri usaha yang tergolong sektor informal antara lain:
Kegiatan
usaha tidak terorganisasi dengan baik.
Belum
mempunyai izin usaha yang resmi
Teknologi
yang digunakan sangat sederhana
Modal
dan perputaran usaha sangat kecil
Pendidikan
formal dari para pengelolanya tidak menjadi pertimbangan dalam membuka usaha
Usahanya
bersifat mandiri, jika ada karyawan biasanya dari keluarga sendiri.
Memulai bisnis bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan
sifat-sifat sbb:
Toleransi
Resiko: merupakan hal yang dibutuhkan untuk berinvestasi pada suatu
bisnis baru.
Kreativitas:
tidak hanya dibutuhkan untuk menciptakan suatu ide bisnis, namun juga membuat
bisnis terlaksana. Dapat digunakan untuk mengetahui keinginan konsumen untuk
suatu produk baru, merancang produk yang dapat memuaskan konsumen dengan
mempelajari kelemahan/keunggulan produk yang sudah ada, memastikan produksi
secara efisien, dan mengiklankan produk tersebut.
Inisiatif
dan ambisi: untuk memperoleh informasi sebelum pengambilan keputusan mengenai
dimana produksi akan dilakukan, berapa banyak yang akan diproduksi, bagaimana
cara mengiklankan dan bagaimana cara mendapatkan pendanaan.
2. MENILAI KONDISI PASAR
Sebelum menciptakan suatu bisnis baru, beberapa kondisi
pasar harus dipertimbangkan, yaitu:
Permintaan
Persaingan
Kondisi
Tenaga Kerja
Kondisi
Peraturan dan perundang-undangan
3. MENGEMBANGKAN KEUNGGULAN
KOMPETITIF
Setelah mengidentifkasi dan menilai pesaing-pesaing
utamanya, dapat dicari berbagai cara untuk meningkatkan atau paling tidak
mempertahankan pangsa pasarnya.
Menghasilkan
produk secara lebih efisien, sehingga biaya produksi menjadi lebih murah maka
produk dapat dijual dengan harga lebih rendah dari harga pesaing yang bermutu
sama. Perusahaan dapat mengambil alih sebagian pangsa pasar pesaingnya.
Menghasilkan
produk yang bermutu lebih tinggi, tanpa harus menanggung biaya yang berlebihan,
maka perusahaan dapat memiliki keunggulan kompetitif dibanding pesaing dalam rentang
harga yang sama.
Mengiklankan
produk melalui internet dan melayani pemesanan produk melalui internet.
Menggunakan
analisis SWOT untuk mengembangkan keunggulan kompetitif, suatu bisnis baru
dapat menilai kekuatannya sendiri dan kelemahan-kelemahan, sekaligus juga
peluang-peluang eksternal dan ancaman-ancaman yang dihadapi.
4. MENGEMBANGKAN RENCANA
BISNIS
Setelah pengusaha menilai pasar dan mempertimbangkan keunggulan kompetitifnya,
maka mereka dapt memutuskan untuk menciptakan bisnis tertentu. Mereka perlu
mengembangkan rencana bisnis (business plan) yaitu uraian terinci
mengenai bisnis yang diusulkan termasuk uraian mengenai produk/jasa, sumberdaya
yang dibutuhkan untuk produksi, pemasaran yang dibutuhkan untuk menjual produk
atau jasa tersebut, dan pendanaan yang dibutuhkan. Rencana bisnis memberikan
arah bagi perkembangan bisnis di masa yad. Suatu rencana bisnis yang lengkap
biasanya mengandung penilaian mengenai: lingkungan bisnis, rencana manajemen,
rencana pemasaran, dan rencana keuangan.
A. Lingkungan
Bisnis
Terdiri dari lingkungan ekonomi, industri, dan global.
B. Rencana
Manajemen yang meliputi rencana operasi, berfokus pada usulan struktur
organisasi perusahaan, produksi dan sumberdaya manusia.
Struktur
organisasi perusahaan: mengidentifikasikan peranan dan tanggung jawab para
karyawan yang dipekerjakan oleh perusahaan.
Produksi:
berbagai keputusan mengenai proses produksi, penentuan lokasi, desain produk,
dan tata letak.
Sumberdaya
Manusia: karyawan yang ada dalam perusahaan harus dimotivasi, diawasi dan
dievaluasi kinerjanya yang berpengaruh kepada tingkat kompensasi yang
diperoleh.
C. Rencana
Pemasaran: berfokus pada pasar sasaran, karakteristik produk, penentuan harga,
distribusi dan promosi.
Pasar
sasaran: menguraikan siapa yang akan menjadi pembeli produk.
Karakteristik
produk: menguraikan fitur-fitur produk yang dapa menarikminat konsumen.
Penentuan
Harga: menguraikan bagaimana produk akan dihargai relative terhadap produk
pesaing.
Distribusi:
menguraikan bagaimana cara produk dapat diperoleh konsumen.
Promosi:
menguraikan bagaimana produk akan dipromosikan kepada calon konsumen potensial.
D. Rencana
Keuangan: menentukan cara-cara bagaimana bisnis akan didanai. Rencana ini juga
mencoba untuk menunjukkan kelayakan penciptaan bisnis tersebut.
Kebutuhan
dana: mengestimasi jumlah dana yang dibutuhkan untuk mendirikan bisnis dan
mendukung operasi selama paling tidak 5 tahun mendatang.
Kelayakan:
menilai kelayakan dari estimasi pendapatan, pengeluaran dan keuntungan dari
bisnis yang akan dijalankan selama 5 tahun mendatang dilihat dari beragam
kemungkinan perubahan kondisi ekonomi.
5. MANAJEMEN RISIKO OLEH
PENGUSAHA
Seorang pengusaha yang menciptakan bisnis harus
mempertimbangkan berbagai risiko yang akan dihadapinya, berikut dengan metode
untuk melindungi diri dari berbagai risiko tersebut. Beberapa bentuk risiko
yang biasa dihadapi meliputi: ketergantungan bisnis yang sangat tinggi pada
satu pelanggan, atau satu pemasok, atau seorang karyawan.


Komentar
Posting Komentar