Distribusi Pendapatan
BAB VII
DISTRIBUSI PENDAPATAN
1.
PENDAHULUAN
Pembangunan di Indonesia lebih
banyak diarahkan pada pertumbuhan ekonomi, sedangkan unsur pemerataannya masih
kurang mendapatkan perhatian. Alhasil lahirlah kesenjangan ekonomi, di mana
segelintir orang hidup dalam berkelimpahan, namun
sebagian masyarakat lainnya hidup
dalam keadaan memprihatinkan. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebenarnya,
pemerataan pendapatan telah ditetapkan
sebagai salah satu unsur dari trilogi pembangunan kita, yakni: (1) pertumbuhanekonomi,
(1)
pemerataan hasil-hasil
pembangunan, dan (3) stabilitas nasional yang mantap dan dinamis. Pada bab ini
dibahas distribusi pendapatan, pengukuran pemerataan distribusi pendapatan,
penyebab terjadinya ketimpangan, dan cara penanggulanganketimpangannya.
Tujuan pembahasan distribusi
pendapatan adalah mengukur seberapa baik pembagian pendapatan nasional terhadap
warga negaranya. Perlu diketahui bahwa besarnya tingkat pertumbuhan ekonomi,
tidak memberikan gambaran bahwa seluruh penduduk yang ada di negara tersebut
meningkat kesejahteraannya. Sangat mungkin terjadi, ekonomi meningkat pesat tetapi
jumlah penduduk miskin juga meningkat. Hal ini tergantung pada tingkat
pemerataan distribusi pendapatan tersebut. Jika distribusinya baik, maka
pertumbuhan dapat dinikmati oleh penduduk pada umumnya, namun jika
pemerataannya
tidak baik, pertumbuhan hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu saja, oleh
sekelompok orang berpenghasilan tinggi saja.
Distribusi pendapatan berbeda
dengan pendapatan per
kapita. Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata per orang selama periode tertentu (lazimnya tiap
tahun). Angka pendapatan rata-rata diperoleh dengan cara membagi seluruh
pendapatan nasional dengan jumlah penduduknya. Sedangkan distribusi pendapatan
berkaitan dengan seberapa baik tingkat pemerataan pembagian pendapatan nasional
yang diperoleh selama periode
tertentu (setahun). Untuk memudahkan pemahaman, kita berikan ilustrasi
berikut ini. Misalkan di dalam satu keluarga ada lima orang, yakni A, B, C, D,
dan E yang bekerja pada bidang yang berbeda-beda. Kelima orang tersebut
setiap bulannya memperoleh penghasilan masing-masing (dalam rupiah) sebagai berikut: A: Rp300.000,00 B:
Rp320.000,00 C: Rp350.000,00D:
Rp500.000,00
E: Rp3.500.000,00 sehingga jumlah semuanya Rp4.970.000,00.
Dari data tersebut dapat dihitung
pendapatan per kapitanya adalah: Rp4.970.000,00 : 5 = Rp994.000,00/bulan. Dari
pendapatan perkapita tersebut terkesan bahwa seluruh orang di dalam keluarga pendapatannya cukup
tinggi. Namun kondisi sebenarnya tidak seperti kesan yang ada, karena empat orang (A, B, C, dan D) pendapatannya dibawah rata-rata, atau kurang dari
Rp994.000,00. Bahkan rentang pendapatan dari yang terendah (Rp300.000,00)
dengan yang tertinggi (Rp3.500.000,00) sangat tinggi, yakni Rp2.200.000,00.
Hanya satu orang yang pendapatannya di atas rata-rata, yakni si E. Satu orang terkaya dari lima orang
tersebut menguasai 70,4% dari total pendapatan. Sebaliknya, empat orang lainnya
hanya menguasai 29,6% dari total pendapatan. Bandingkan jika kondisi
pendapatan lima orang tersebut sebagai berikut: A: Rp730.000,00; B:
Rp780.000,00; C: Rp960.000,00 D: Rp1.100.000,00 dan E: Rp1.400.000,00.
Dengan total pendapatan yang sama,
yakni Rp4.970.000,00 dan rata-rata yang sama pula Rp994.000,00/bulan, namun
pemerataannya jauh lebih baik.
Pada contoh kedua ini rentang pendapatan dari yang
terendah (Rp730.000,00) dengan yang tertinggi (Rp1.400.000,00) hanya
Rp670.000,00. Satu orang terkaya dari lima orang tersebut hanya menguasai 28,1%
dari total pendapatan, sedangkan empat orang lainnya menguasai 71,9% dari
totalpendapatan.
2.
PENGUKURAN
PEMERATAAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Tingkat pemerataan distribusi
pendapatan sering diukur dengan “Rasio Konsentrasi Gini” (Gini Consentration Ratio) atau lebih sering disebut dengan
Koefisien Gini. Caranya adalah dengan membagi penduduk menjadi 5 atau 10
kelompok (quintiles atau deciles) sesuai
dengan tingkat pendapatannya. Kemudian menetapkan proporsi yang diterima oleh masing-masing kelompok
pendapatan. Koefisien Gini adalah ukuran
ketidakseimbangan atau
ketimpangan yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu
(ketimpangan sempurna).46 Koefisien Gini dapat digambarkan
dengan Kurva Lorenz seperti nampak pada
Gambar-7.1 berikutini:
Gambar-7.1 KURVALORENZ

PersentaseJumlahPenduduk (diurutkan dari kelompok
berpenghasilan palingrendah
Keterangan
Gambar:
Sumbu horisontal menyatakan jumlah penduduk dalam
persentase kumulatif. Dari kiri ke
kanan menunjukkan jumlah penduduk
dengan urutan pendapatan paling
rendah. Pada titik A menunjukkan kelompok pertama sebanyak 10% berpendapatan
terendah. Titik B adalah kelompok kedua sebanyak 20% berpendapatan terendah,
dan seterusnya hingga titik I adalah menggambarkan 90%
berpendapatan terendah. Sedangkan sumbu vertikal menunjukkan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh
masing-masing kelompok penduduk yang disebutkan pada sumbu horisontal. Garis
diagonal adalah garis dengan sudut 450, menunjukkan garis pemerataan
sempurna. Kurva Lorenz menunjukkan tingkat distribusi yang sebenarnyaterjadi.
Tingkat ketimpangan distribusi nampak dari besar/kecilnya wilayah Q, sebagai celah antara garis
diagonal yang menunjukkan pemerataan sempurna dengan Kurva Lorenz sebagai
distribusi yang sesungguhnya. Semakin besar celah (wilayah Q), semakin timpang
tingkat pemerataan dalam distribusipendapatan.
Misalnya,
titik D pada Kurva Lorenz, untuk 40% dari jumlah penduduk (sumbu horisontal)
berpenghasilan terendah menerima pendapatan kira- kira sebanyak 18% dari total
pendapatan nasional. Pada titik H, 80% penduduk berpenghasilan terendah
menerima pendapatan kira-kira sebanyak 50% dari total pendapatan nasional.
Besar-kecilnya celah Q pada umumnya
dinyatakan dalam bentuk Indeks Gini yang
perhitungannya dilakukan melalui rumus matematis. Untuk menghindari kesulitan matematis, di sini hanya disampaikan prinsip dasar dari perhitungan Indeks Gini yang dapat
diketahui melalui indikasisbb:
Secara visual, tingkat
ketidakmerataan atau ketimpangan ini dapat dilihat pada Gambar-7.2 berikut ini.
![]() |
Gambar-7.2 Kurva Lorenz: PERBEDAAN TINGKATKETIDAKMERATAAN
Secara sederhana, Koefisien Gini dapat juga dicari
dengan perbandingan sebagai berikut:
wilayahQ
luaswilayah(Q R)
Memperhatikan rumus atau perbandingan tersebut dapat
dinyatakan bahwa semakin sempit wilayah Q akan
semakin kecil KG (Koefisien
Gini). Semakin kecil wilayah Q
hingga mendekati nol (Q = 0), maka pembilang adalah nol, sedang penyebutnya
(wilayah Q + R) adalah bidang seluas segitiga di bawah garis pemerataan
sempurna,atau:
KG
wilayahQ
0 0
Koefisien
Gini = 0 atau mendekati 0
menunjukkan pemerataan secara sempurna dalam distribusipendapatan.
wilayahQ
luaswilayah(Q R)
wilQ wil (Q 0)
Q 1
Q
Koefisien
Gini = 1 atau mendekati 1 menunjukkan adanya ketimpangan sempurna dalam
distribusipendapatan.
Dari uraian tentang Indeks Gini
dapat ditarik simpulan bahwa semakin besar indeksnya, yakni mendekati 1,
berarti pemerataan semakin buruk, dan sebaliknya semakin kecil indeksnya, yakni
mendekati 0, pemerataan semakin baik atau semakin merata.
Di Indonesia, penghitungan
Koefisien/Indeks Gini dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sayang
sekali, BPS tidak menghitung Indeks Gini atas pendapatan, melainkan atas dasar
pengeluaran belanja masyarakat. Dalam penghitungan Indeks Gini Belanja
tersebut, BPS mengadopsi konsep yang diterapkan oleh Bank Dunia. Untuk itu
penduduk digolongkan menjadi tiga kelas, yaitu 40% penduduk berpendapatan
rendah, 40% penduduk berpendapatan sedang, dan
20% penduduk berpendapatan tinggi. Ukuran ketimpangan berdasarkan
kriteria Bank Dunia dilihat dari besarnya persentase pendapatan yang dinikmati oleh 40% penduduk
berpendapatan rendah yang dapat disajikan dalam bentuk matriks sebagaiberikut:
|
Golongan
I
|
Pendapatan nasional yang diterima
|
Kategori tingkat ketimpangan
|
|
40% penduduk berpenghasilan rendah
|
< 12%
|
tinggi
|
|
12% - 17%
|
sedang
|
|
|
>17%
|
rendah
|
3.
KONDISI
DISTRIBUSI PENGELUARAN (BELANJA) DIINDONESIA
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa BPS tidak menyediakan data
Indeks Gini Pendapatan, sehingga yang dapat disajikan di sini hanya Indeks
Gini Pengeluaran masyarakat untuk tahun 2004, 2005, dan 2006 berikutini.
Tabel-7.1 DISTRIBUSIPENGELUARANPERKAPITADANINDEKSGINI,
2004-2006 DIINDONESIA
|
TAHUN
|
40%
TERENDAH
|
40% MENENGAH
|
40% TERTINGGI
|
INDEKS GINI
|
|
2004
|
20,80
|
37,13
|
42,07
|
0,32
|
|
2005
|
20,22
|
37,69
|
42,09
|
0,33
|
|
2006
|
19,75
|
38,10
|
42,15
|
0,33
|
Sumber Data: BPS47
Berdasarkan kriteria tingkat
ketimpangan pendapatan penduduk yang dikeluarkan oleh Bank Dunia tersebut di
atas, diketahui bahwa 40% jumlah penduduk dengan pendapatan terendah masih
memperoleh bagian lebih dari 17% total belanja
masyarakat. Porsi terendah dari kelompok ini terjadi pada tahun 2006 yakni sebesar 19,75%
menunjukkan bahwa tahun 2006 merupakan tahun distribusi paling buruk di Indonesia. Namun demikian karena porsi yang distribusi yang berada di atas
17%, maka tingkat ketimpangan distribusi di
Indonesia masih termasuk kategori rendah. Demikian pula Indeks Giniyang
berkisar pada 0,32 hingga 0,33 yang berarti masih
lebih dekat ke 0 (nol), maka pemerataan distribusi belanja di Indonesia masih
tergolong baik.
Distrubusi belanja di Indonesia tersebut ternyata
masih lebih baik dibandingkan dengan distribusi pendapatan di Amerika Serikat
yang Indeks Gininya sebagai berikut.
|
Tabel-7.2 INDEKSGINIAMERIKASERIKAT DARI TAHUN
KETAHUN
|
|||
|
|
Tahun
|
Indeks Gini
|
|
|
1967
|
0,397
|
||
|
1968
|
0,386
|
||
|
1970
|
0,394
|
||
|
1980
|
0,403
|
||
|
1990
|
0,428
|
||
|
2000
|
0,462
|
||
|
2005
|
0,469
|
||
Sumber Data: Biro Sensus Amerika Serikat48
Berdasarkan pemeringkatan dari Bank
Dunia (World Development Indicator 2002),
tingkat pemerataan yang tinggi di Indonesia tersebut
membawa Indonesia ke dalam 30 negara yang paling merata di dunia. Dengan
angka koefisien Gini sebesar 0,32 (peringkat ke 26), Indonesia sejajar dengan
negara- negara bekas komunis (seperti Slowakia, Belarusia, dan Hongaria),
negara- negara Skandinavia (Denmark, Swedia), atau negara-negara yang
menerapkan sistem welfare-state (Belanda,
Belgia). Rendahnya ketimpangan di negara- negara tersebut tentunya terkait
dengan desain sistem ekonominya. Namun demikian,
baiknya distribusi pendapatan di Indonesia tersebut ternyata dipertanyakan
berbagai pihak yang menyangsikan keakuratan
datanya.49
Alasanyangdikemukakanadalah,adanyastudiempiriskurvaLorenzdinegara
berkembang termasuk Indonesia, pada umumnya
semakin menjauh dibandingkan dengan negara maju. Dilihat dari koefisien gini, negara majuumumnya mempunyai nilai yang lebih
kecil dibandingkan dengan negara berkembang.50 Menurut penulis,
salah satu penyebab kecurigaan akurasi data adalah, Indeks Gini Indonesia
berbasis pengeluaran belanja masyarakat, sedangkan di negara lain berbasis
pendapatan. Dengan demikian Indeks Gini tidak menggambarkan tingkat distribusi
pendapatan, melainkan tingkat belanja. Padahal dari Bab V diketahui bahwa unsur
belanja atau konsumsi hanya merupakan bagian kecil dari pendapatan yang
dinyatakan dalamPDB.
Laporan Asian Development Bank mengungkapkan, dikawasan Asia sedang berkembang fenomena bahwa orang
kaya lebih cepat menjadi kaya. Dalam laporan yang dipublikasikan di www.adb.org. juga terungkap, ketimpangan yang semakin melebar
dalam standar hidup dapat mengancam proses pertumbuhan, sekalipun data
statistik menunjukkan angka kemiskinan sedang menurun. Publikasi statistik
tahunan dari ADB, mengatakan bahwa perkembangan jumlah kaum miskin di kawasan Asia cukup cepat.51
Data Survey Ekonomi Sosial Nasional
(SUSENAS) BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa 61,1% produksi nasional dihasilkan
oleh hanya 0,2% (66 ribu perusahaan) dari seluruh perusahaan nasional,
sedangkan produksi nasional selebihnya
yang 38,9% dihasilkan oleh sekitar 33,4 juta
perusahaan atau 98,8 % dari jumlah perusahaan yang ada di Indonesia. 52
4.
KEMISKINAN
DIINDONESIA
Membahas ketimpangan distribusi
pendapatan tidak dapat dilepaskan dengan masalah kemiskinan. Ketimpangan
distribusi yang ekstrim menunjukkan adanya perbedaan yang mencolok antara
kelompok kaya dan miskin. Kelompok kaya menerima bagian yang sangat jauh lebih
besar dibandingkan dengan kelompok miskin. Di
Indonesia, tingkat kemisikan masih relatif tinggi.
Di bawah ini dibahas tentang
kemisikan diIndonesia.
a. PengertianKemiskinan
Badan Pusat Statistik (BPS)
mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi
kebutuhan dasar, baik kebutuhan pangan maupun nonpangan. Batas kecukupan
makanan (pangan) didasarkan pada besarnya pengeluaran uang untuk memenuhi
kebutuhan minimum energi
2.100 kalori perkapita perhari. Kebutuhan energi
tersebut didasarkan pada 52 komoditas makanan terpilih sesuai dengan pola
konsumsi penduduk. Sedangkan batas kecukupan nonpangan dihitung
dari besarnya uang yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan minimum seperti
perumahan, sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan lain-lain.53 Dalam membahas
kemiskinan di Indonesia, BPS menetapkan batas pendapatan minimum per kapita untuk dapat memenuhi kebutuhan
dasar, sebagaiberikut:54
Tabel-7.3 BATAS PENGELUARAN MINIMUM UNTUKDAPATMEMENUHIKEBUTUHAN DASAR
|
Tahun
|
Pengeluaran/kapita/bulan
|
|
|
Kota (Rp)
|
Desa (Rp)
|
|
|
1996
|
42.032
|
31.366
|
|
1998
|
96.959
|
72.780
|
|
1999
|
92.409
|
74.272
|
|
2000
|
91.632
|
73.648
|
|
2001
|
100.011
|
80.382
|
|
2002
|
130.499
|
96.512
|
|
2003
|
138.803
|
105.888
|
|
2004
|
143.455
|
108.725
|
|
2005
|
150.799
|
117.259
|
|
2006
|
174.290
|
131.256
|
Sumber Data: BPS55
Ginanjar Kartasasmita (1999)
menyatakan bahwa seseorang disebut miskin secara absolut apabila tingkat
pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, yakni kebutuhan hidupminimum.56
b.
Kondisi
Kemiskinan diIndonesia
Berdasarkan kriteria batas
pengeluaran minimum sebagaimana
Tabel-7.5 di atas, BPS menyajikan
data jumlah penduduk miskin di Indonesia
sebagai berikut:
Tabel-7.4 PERKEMBANGAN JUMLAHPENDUDUK MISKIN DIINDONESIA
|
Tahun
|
Jumlah
Penduduk Miskin (juta)
|
||
|
Kota
|
Desa
|
Jumlah
|
|
|
1996
|
9,6
|
24,9
|
34,5
|
|
1998
|
17,6
|
31,9
|
49,5
|
|
1999
|
15,7
|
32,7
|
48,4
|
|
2000
|
12,3
|
26,4
|
38,7
|
|
2001
|
8,6
|
29,3
|
37,9
|
|
2002
|
13,3
|
25,1
|
38,4
|
|
2003
|
12,2
|
25,1
|
37,3
|
|
2004
|
11,4
|
24,8
|
36,1
|
|
2005
|
12,4
|
22,7
|
35,1
|
|
2006
|
14,5
|
24,8
|
39,3
|
Sumber Data: BPS57
Sedangkan
jumlah penduduk miskin di Indonesia dalam persentase adalah sebagai berikut:
Tabel-7.5 PERKEMBANGAN
PROSENTASE PENDUDUKMISKINDIINDONESIA
|
Tahun
|
Persentase Penduduk Miskin
|
||
|
Kota
|
Desa
|
Jumlah
|
|
|
1996
|
13,6
|
19,9
|
17,7
|
|
1998
|
21,6
|
25,7
|
24,5
|
|
1999
|
19,5
|
26,1
|
23,5
|
|
2000
|
14,6
|
22,4
|
19,1
|
|
2001
|
9,8
|
24,8
|
18,4
|
|
2002
|
14,5
|
21,1
|
18,2
|
|
2003
|
13,6
|
20,2
|
17,4
|
|
2004
|
12,13
|
20,11
|
16,66
|
|
2005
|
11,68
|
19,98
|
15,97
|
|
2006
|
13,47
|
21,81
|
17,75
|
Sumber Data: BPS58
Berdasarkan Tabel-7.4 dan Tabel-7.5
diketahui bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia relatif masih sangat
tinggi. Secara total jumlahnya masih berkisar pada angka 40 juta orang atau
sekitar 20% dari jumlah penduduk yang pada tahun 2006 yang mencapai jumlah
222,19 juta orang. Peta kemiskinan dapat dilihat pada komposisi daerah pedesaan
dan perkotaan. Tabel-7.5 menunjukkan bahwa persentase kemiskinan di daerah
pedesaan tahun 2006 sebanyak 21,81% (dari jumlah penduduk di pedesaan), jauh
lebih besar dibandingkan dengan di daerah
perkotaan yang hanya sekitar 13,47%. Hal ini dapat dilihat dari besarnya arus
urbanisasi, karena di pedesaan
relatif lebih sulit mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan diperkotaan.
Tren kondisi kemiskinan di
Indonesia menunjukkan bahwa secara absolut jumlahnya meningkat pada saat krisis
ekonomi, yaitu dari 34,5 juta orang
pada tahun 1996 menjadi 49,5 juta orang pada tahun
1998 dan menurun lagi menjadi 30,3
juta pada tahun 2006. Secara relatif
juga hampir tidak ada perbedaan, yaitu
secara total sebesar 17,7% pada tahun 1996 menjadi
24,5% pada tahun 1998 dan menurun lagi menjadi 17,75% pada tahun2006.
Krisis telah memperburuk harkat
kemanusiaan dengan meningkatkan jumlah penduduk miskin, terutama melalui
kenaikan harga-harga secara mendadak dan nilai rupiah terdepresiasi sangat
cepat. Kenaikan harga-harga, khususnya harga barang-barang impor menyebabkan
tekanan sektor riil. Akibatnya, tekanan pada kesempatan kerja, permintaan
atas barang-barang dan jasa-jasa
melemah, selanjutnya sektor industri mengurangi produksi sehingga banyak
terjadi pemutusan hubungan kerja. Tingkat produksi serta pendapatan dari pertanian di pedesaan
cenderungmenurun.
c.
Implikasi
Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah yang
kompleks. Masyarakat miskin tidak saja rendah dari segi pendapatan dan tingkat
konsumsinya, tetapi juga rendah tingkat pendidikan dan kesehatannya, tidak
berdaya untuk berpartisipasi dalam
pembangunan, rendah pergaulan sosialnya, dan
berbagai masalah kekurangan lainnya.59 Kondisi ini menyebabkan
sebagian masyarakat tidak mampu memenuhi
kebutuhan pangan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keadaan gizi terutama anak balita, ibu hamil danmenyusui.
Todaro (1989) dan Komaruddin (1991)
mengatakan bahwa kemiskinan berkaitan dengan hal-hal yang mempengaruhi
kebutuhan manusia. Kemiskinan dapat dikaitkan dengan kekurangan modal,
kekurangan gizi, perumahan yang tidak sehat, pelayanan kesehatan yang tidak
memadai, tingkat pendidikan yang rendah, dan pendapatan yang rendah.60
Sementara di beberapa kasus,
seperti ditemukan Irawan (1998),
penurunan pendapatan secara tajam menyebabkan banyak rumah tangga
menjadi sangat nestapa. Mereka mengalami kesulitan untuk
membeli makanan. Penurunan ini
umumnya mengakibatkan berubahnya pola pengeluaran konsumsi dengan proporsi
lebih besar, untuk kebutuhan makanan dibandingkan untuk kebutuhan bukan
makanan, seperti untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan. Pada studi
lainnya, Irawan (1999)
juga menemukan bahwa mayoritas
penduduk pedesaan cenderung merubah pola konsumsi makanan, baik kualitas maupun
kuantitas, seperti dari nasi ke jagung atau umbi-umbian, dari sebanyak 3 kali ke 1 atau 2 kali
makansehari.61
Menjadi tugas negara untuk
mengentaskan kemisikinan. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa
tugas negara antara lain memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa.
5.
PENYEBAB
TERJADINYAKETIMPANGAN
Menurut McConnell, Campbell R. dan
Brue Stanley L., ketimpangan dalam distribusi pendapatan, antara lain terjadi
karena adanya: (1) Perbedaan kemampuan; (2) Pendidikan dan pelatihan; (3)
Diskriminasi; (4) Selera dan risiko kerja; (5) Distribusi penguasaan aset sebagai faktor
produksi; (6) Kekuatan pasar; dan
(7) Keberuntungan, KKN, (8), dsb.62 Penyebab lain dari ketimpangan
adalah: pertumbuhan ekonomi yang lebih menguntungkan pada sekelompok masyarakat
pengusaha besar, pengangguran, dan kebodohan. Sebagai gambaran tentang penyebab
ketimpangan adalah penguasaan faktor produksi, di mana usaha kecil sangat sulit
mendapatkan kredit perbankan di Indonesia.
Tentang pengangguran dapat dikemukakan bahwa berdasarkan Sakernas BPS tahun
2005, jumlah pengangguran terbuka mencapai 10,8 juta orang. Dilihat dari latar
belakang pendidikannya: 31% berpendidikan SD ke bawah; 25% berpendidikan SLTP;
36% berpendidikan SLTA; dan 7% berpendidikan perguruantinggi.63
Paling tidak terdapat tiga faktor
yang menyebabkan terjadinya pengangguran. Pertama, jumlah pencari kerja
lebih besar daripada jumlah kesempatan kerja yang tersedia. Kedua,
kesenjangan antara kualitas pencari kerja dengan kualifikasi yang dibutuhkan
oleh pasar kerja, dan ketiga, terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK)
karena alasan efisiensi, kebangkrutan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Dari ketiga faktor tersebut, faktor pertama dan kedua merupakan faktor dominan
yang menyebabkan pengangguran.
6.
PENANGGULANGAN
KETIMPANGAN DISTRIBUSIPENDAPATAN
Menurut Todaro (1995: pp 174-175)
usaha-usaha memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat di negara-negara
sedang berkembang dapat ditempuh melalui campur tangan pemerintah yang
meliputi:
1)
Mengubah distribusi
pendapatan secara fungsional melalui pola kebijakan untuk mengubah harga-harga
faktor secara positif. Misalnya meningkatkan gaji pegawai negeri, menetapkan
upah minimum bagi para pekerja (buruh), kemudahan investasi, keringanan pajak,
subsidi bunga, keringanan bea masuk, dansebagainya.
2)
Mengubah distribusi
pendapatan melalui redistribusi progresif pemilikan harta seperti memrioritaskan
kredit komersil maupun bersubsidi bagi pengusaha kecil, memberi kesempatan
kepada para pekerja untuk turut memiliki saham pada perusahaan, serta
pemberdayaan lembaga-lembaga ekonomi rakyat seperti koperasi, dan
lainsebagainya.
3)
Mengubah distribusi
pendapatan golongan atas melalui pajak pendapatan dan kekayaan yang progresif.
Dalam hal ini beban pajak dibuat
sedemikian rupa sehingga beban yang lebih berat akan dikenakan pada
golongan yang
berpenghasilantinggi.
4)
Mengubah distribusi
pendapatan golongan lemah melalui pembayaran tunjangan dan penyediaan barang
dan jasa pemerintah. Misalnya, proyek- proyek kesehatan masyarakat di desa-desa
dan di
daerah-daerah pinggiran kota, pemberian makan siang bagi anak-anak sekolah, perbaikan gizi anak-anak
balita, pemberian air bersih serta listrik di
pedesaan, tunjangan dan subsidi pangan bagi daerah-daerah pinggiran kota
dan pedesaan yangmiskin.64
5) Memberikan
pelatihan teknis kepada lulusan sekolah yang belum mendapatkan pekerjaan.
Dengan pelatihan ini diharapkan mereka akan segera terserap ke dunia kerja.
Jika memungkinkan, mereka dapat menciptakan pekerjaan sendiri dan memberikan
lapangan kerja bagi oranglain.
7.
LATIHAN
1)
Jelaskan apa tujuan
kita melakukan pembahasan distribusi pendapatan dan apa metode yang dapat digunakan dalam mengetahui distribusi
pendapatan di suatu negara merata
atautidak.
2)
Indeks Gini berkisar
antara nol hingga satu. Jelaskan apa implikasi dari angka-angkatersebut.
3)
Jika diketahui porsi pendapatan
40% penduduk berpenghasilan terendah dan
angka Indeks Gininya pada tahun tertentu nampak
sebagaiberikut:
|
TAHUN
|
40%
TERENDAH
|
INDEKS GINI
|
|
2004
|
20,80
|
0,32
|
|
2005
|
20,22
|
0,33
|
|
2006
|
19,75
|
0,33
|
Jelaskan apa
arti angka-angka tersebut,
dan simpulkan kondisi pemerataan pendapatan yangada.
4)
Apakah Indeks Giniyang didasarkan pada pengeluaran
masyarakat dapat disamakan dengan Indeks Gini yang didasarkan pada pendapatan masyarakat? Berikan penjelasan
danargumentasinya.
5)
Menurut Todaro,
pelatihan teknis kepada lulusan sekolah yang belum mendapatkan pekerjaan dapat
menjadi salah satu cara, untuk menghilangkan ketimpangan distribusi pendapatan.
Jelaskan apa maksud pernyataan Todaro tersebut dan apakah secara logika
pernyataan tersebut dapat diterima, berikan argumentasiSaudara.



Komentar
Posting Komentar